
Zalifa Naiwa Belleil [AM] & Kamilina Junita Damanik [AM] | DETaK
Darussalam–Universitas Syiah Kuala (USK) menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui pembentukan Bank Sampah Unsyiah (BSU) yang berdiri sejak 4 Januari 2019. Berlokasi di belakang Kantor OIA USK, program ini hadir sebagai langkah nyata kampus dalam mengelola sampah secara berkelanjutan dengan tujuan melestarikan lingkungan, mengumpulkan kembali sampah terpilah, serta mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Eti Indarti, selaku pembina Bank Sampah USK, menjelaskan bahwa gagasan pendirian bank sampah berawal dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah yang selalu tersisa setelah acara-acara besar di kampus. Dari situ muncul ide untuk memastikan setiap kegiatan dapat berakhir tanpa meninggalkan masalah sampah. Bersama timnya, para penggagas mulai mengedukasi staf dan peserta acara agar terbiasa memilah sampah sejak dari sumbernya. Strategi ini terbukti efektif dan kemudian berkembang menjadi gerakan pengurangan penggunaan plastik serta pendirian tempat penampungan sampah yang kini dikenal sebagai Bank Sampah USK.

“Awalnya kami prihatin melihat sampah berserakan usai acara besar di kampus. Bersama Ibu Rama dan rekan-rekan lainnya, kami mulai bekerja sama mengatasi masalah ini. Ibu Rama menyarankan agar sampah dipilah sejak awal supaya bisa diambil kembali dan memiliki nilai jual tanpa tercampur dengan sampah lain yang menurunkan nilainya. Kami yakin, pengelolaan sampah yang baik adalah langkah penting untuk menciptakan kampus yang bersih dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Kini, Bank Sampah USK menghadirkan sistem digital yang memungkinkan masyarakat menukarkan sampah menjadi uang melalui situs banksampah.usk.ac.id. Setiap nasabah wajib memilah sampah organik dan anorganik sebelum disetorkan. Sampah yang diterima akan ditimbang sesuai jenisnya, lalu nilainya dicatat secara otomatis ke dalam akun masing-masing. Uang dapat dicairkan jika saldo telah mencapai minimal Rp50.000. Melalui sistem ini, pengelolaan sampah tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tetapi juga nilai ekonomi nyata bagi masyarakat. Sampah kini tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber penghasilan yang bernilai.
Rama Herawati, ketua Bank Sampah USK menjelaskan bahwa di website banksampah.usk.ac.id. nasabah dapat melihat saldo dan jenis sampah yang telah disetorkan, dan penarikan saldo dilakukan secara online agar lebih praktis.
“Nasabah dapat mendaftar akun di website dengan memilih menu ‘nasabah’. Di sana, saldo dan jenis sampah yang disetor tercatat secara transparan beserta harganya. Ada 39 jenis sampah yang memudahkan masyarakat memilah. Penarikan saldo dilakukan secara online melalui transfer ke rekening masing-masing,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ismail salah seorang pekerja menjelaskan, BSU juga menerapkan sistem penukaran ganda yang membedakan antara sampah bernilai jual tinggi dan yang sulit dijual. Sampah dengan nilai ekonomi rendah akan ditukar dengan kompos, bukan uang tunai. Langkah ini bertujuan agar masyarakat tetap termotivasi mengumpulkan berbagai jenis sampah tanpa merasa kecewa saat hasilnya tidak bisa diuangkan.
“Di sini ada sampah yang bisa ditukar dengan uang, ada juga yang ditukar dengan kompos. Biasanya seperti plastik kresek atau selang yang enggak laku dijual, itu kami jadikan kompos,” terangnya. []
Editor : Zarifah Amalia





![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


