Puisi | DETaK
Di tanah ini, aku belajar mengeja arti rumah,
dari sawah yang retak, dari jalan penuh lubang,

dan dari wajah rakyat yang sabar menahan lapar
Negeri ini pernah dijanjikan terang, tapi mengapa bayang-bayang gelap masih setia tinggal?
Aku berjalan di antara suara janji yang rapuh,
melihat bendera berkibar tinggi, namun di bawahnya ada keyakinan yang kian melepuh
ada harapan yang tumbang,
ada mimpi yang ditukar dengan kepentingan
Aku mengkritik bukan karena benci,
tapi karena aku sayang dan sedih dengan keadaan negeri ini.
Seperti ibu menegur anaknya, seperti doa yang lirih di tengah malam,
rinduku adalah luka yang tak ingin sembuh.
Andai kata bisa kusematkan suara,
ingin kukatakan bangunlah negeriku,
jangan biarkan darah juangmu
tersapu oleh derasnya kepalsuan.
Aku tetap di sini, meski hatiku hancur berkeping-keping,
namun cinta ini tak pernah pergi,
ia hanya berubah bentuk menjadi perlawanan,
menjadi harapan dan doa
untuk negeri yang kucinta sepenuh jiwa.
Penulis Bernama Husniyyati, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Editor: Amirah Nurlija Zabrina






![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


