Artikel | DETaK
Sahur merupakan waktu yang sangat penting selama berpuasa. Melalui sahur, tubuh mendapatkan asupan energi dan cadangan makanan yang diperlukan untuk menjalani puasa seharian. Bagi anak kos, pemilihan menu sahur seringkali menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan waktu, peralatan, dan bahan makanan. Di satu sisi, makanan instan dianggap lebih praktis dan cepat saji. Cocok untuk anak kos yang tidak memiliki banyak waktu atau fasilitas dapur yang memadai. Namun, di sisi lain, masakan sendiri bisa memberikan nilai gizi yang lebih baik, rasa yang lebih bervariasi, dan dijadikan hobi bagi yang suka memasak. Sebelum menentukan mana yang lebih baik, kita perlu terlebih dahulu mempertimbangkan beberapa hal penting, seperti aspek gizi, ketersediaan fasilitas dapur, biaya, dan waktu yang tersedia.
Berikut beberapa poin pertimbangan:
- Aspek Gizi

Makanan instan memang terasa lebih menggiurkan dan sangat praktis. Namun, di balik kepraktisannya, jenis makanan ini sering mengandung pengawet, MSG, dan garam berlebih. Selain itu, proses pengolahan yang cepat juga dapat menurunkan kandungan vitamin dan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Sedangkan masakan hasil olahan sendiri memungkinkan untuk mengontrol kualitas dan kebersihan bahan, serta menyesuaikan bumbu sesuai selera dan kebutuhan gizi yang dibutuhkan. Apalagi yang sedang program diet memasak sahur sendiri merupakan pilihan tepat. Dengan cara ini, kita dapat mengontrol jumlah kalori, memilih bahan makanan yang lebih sehat, serta menyesuaikan porsi sesuai kebutuhan.
- Ketersediaan Fasilitas Dapur
Tidak semua kos menyediakan dapur yang lengkap. Jika peralatan memasak terbatas, menu sederhana atau makanan instan menjadi pilihan praktis bagi anak kos. Selain itu, keberadaan dapur umum yang digunakan bersama oleh banyak penghuni seringkali membuat ruang memasak menjadi penuh. Hal inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa banyak anak kos memilih untuk tidak sahur atau memilih sahur dengan makanan instan.
- Biaya yang Dikeluarkan
Perhitungan biaya untuk makan sahur dan berbuka puasa bagi anak kos sangat bergantung pada pengelolaan keuangan masing-masing. Oleh karena itu, estimasi pengeluaran untuk sahur akan berbeda-beda bagi setiap individu. Meskipun makanan instan tampak murah dan praktis, konsumsi harian jenis ini bisa menyebabkan pengeluaran bertambah secara signifikan. Sebaliknya, memasak sendiri terutama dengan pembelian bahan makanan sesuai dengan perhitungan umumnya lebih hemat dalam jangka panjang tapi ingat untuk tidak jajan lagi setelah sholat tarawih agar keuangan tidak langsung menipis dan malah menyalahkan akibat dari masak sendiri karena mengelurakan uang untuk berbagai bumbu dapur.
- Ketersediaan Waktu
Sebagai anak kos sering lebih banyak aktivitas dilakukan di luar daripada di dalam kos, baik itu mahasiswa maupun pekerja. Hal ini membuat mereka lebih sulit menyediakan waktu untuk menyiapkan bahan masakan sahur. Kelelahan dan berbagai kegiatan di luar seringkali mendorong anak kos memilih makanan instan, karena menu tersebut tidak memerlukan persiapan di malam sebelumnya. Di sisi lain, memasak sendiri menuntut disiplin waktu dan keharusan bangun lebih pagi, hal inilah yang harus diperhatikan jika ingin menikmati makanan sehat dan berkualitas dari hasil olahan sendiri. Jika memiliki cukup waktu luang, memasak sendiri bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dan bervariasi. Namun, bagi yang memiliki jadwal padat, makanan instan seperti ayam geprek atau nasi goreng dari warung bisa menjadi solusi praktis tanpa perlu repot menyiapkan banyak bahan.
Intinya bagi anak kos, memilih makanan untuk sahur merupakan tanggung jawab pribadi yang bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing. Terutama bagi yang tinggal sendiri, mencari waktu yang tepat untuk menyiapkan bahan masakan menjadi semakin menantang. Ketika waktu terbatas dan harus dilakukan dengan cepat, banyak anak kos memilih solusi praktis berupa makanan instan. Namun, jika tersedia cukup waktu dan fasilitas memasak, memasak sendiri akan lebih menguntungkan dari segi kesehatan dan variasi menu. Penting untuk bijak memilih makanan instan yang berkualitas ketika keadaan mendesak. Pada akhirnya, tidak ada yang selalu lebih baik antara makanan instan dan masakan sendiri semuanya tergantung pada cara kita memilih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Penulis bernama Nabiela Humaira, Mahasiswa Program Studi Sosiologi, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor : Sara Salsabila










