Artikel | DETaK
Selain identik dengan banyaknya kuliner penuh rempah, rupanya Aceh juga punya panganan manis yang tak kalah menarik untuk dicoba sebagai teman minum kopi. Nah, jika Sobat DETaK seorang pemburu yang manis manis, maka Sobat wajib berkenalan dengan salah satu panganan manis ini. Putroe lam bilek namanya. Sekilas tampilannya sangat sederhana seperti ketan yang ditambahkan selai srikaya di atasnya. Namun sekali dimakan, kita akan dibuat ketagihan dengan rasa manis dari srikaya yang menyatu dengan legitnya ketan putih, sangat cocok menjadi kudapan saat minum kopi di pagi hari.
Lantas, kenapa namanya putroe lam bilek? Menurut Kak Nong, yang merupakan salah satu pembuat dan penjaja kudapan ini, kata putroe sendiri berasal dari Bahasa Aceh yang artinya putri atau anak raja, lam bilek maksudnya di dalam bilik ruangan atau sebuah kamar. Jadi filosofi nama ini bermaksud suatu makanan yang manis yang dibuat di dalam suatu tempat atau loyang. Di beberapa daerah lain ada juga yang menyebut panganan ketan srikaya ini dengan sebutan putroe meusisek.

Bahan yang diperlukan untuk membuat pegangan ini cukup mudah yaitu beras ketan, telur ayam, santan kelapa, gula pasir, dan vanili. Proses pembuatannya agak susah gampang. Mulanya, beras ketan direndam dalam air selama kurang lebih satu jam, setelah direndam, beras bersama santan encer dikukus di dalam loyang yang telah dilapisi plastik gula di atasnya hingga matang dan menjadi ketan. Setelah matang, ketan ditekan dan dipadatkan dengan menggunakan sendok.
Selesai mengukus ketan putih, saatnya membuat topping srikaya atau orang Aceh sering menyebutnya asoe kaya. Nah, dalam membuat asoe kaya juga punya teknik tersendiri agar nanti hasilnya menyatu dengan ketan namun tetap berada di atas.
Pertama siapkan 5 butir telur, santan 500 gram serta gula pasir 500 gram, kemudian telur, gula, dan vanili dikocok manual dengan tangan dengan cara diremas sampai gulanya hancur atau dengan pengocok telur. Nah, Kak Nong sendiri punya tips agar asoe kaya bisa terasa pas dan tidak eneg, yaitu bisa ditambahkan daun pandan yang telah dipotong kecil untuk menetralkan bau amis dari si telur tadi.
Setelah itu, santan dimasukkan ke dalam kocokan telur dan diaduk hingga tercampur seluruh bahan untuk asoe kaya. Setelah tercampur sempurna, segera dimasukkan ke atas lapisan beras ketan yang sudah masak dengan cara disaring. Pastikan ketan yang sudah matang tadi telah dipadatkan, hal ini untuk mencegah asoe kaya masuk ke dalam ketan. Kemudian dikukus kembali hingga matang kira-kira sekitar 35 menit lamanya, sampai tekstur lapisan asoe kaya agak mengeras seperti agar-agar.
Putro lam bilek sendiri, dulunya sangat sering didapati di warung-warung kopi dan bahkan menjadi panganan favorit masyarakat untuk berbuka puasa. Sayangnya, sekarang agak susah menemui kudapan khas Aceh ini. Dikarenakan harga bahan baku yang mahal, masyarakat lebih memilih alternatif lain pengganti putroe lam bilek untuk teman minum kopi di warung-warung kopi kini. Tapi jangan khawatir, meskipun jarang, beberapa warung kopi masih ada yang tetap menjajakan makanan khas satu ini.
Harga satu potong putroe lam bilek ukuran sedang bisa dihargai sekitar 4-5 ribuan dan ukuran kecil berkisar dua ribu rupiah saja. Bagaimana Sobat DETaK, tertarik ingin mencoba pegangan putroe raja ini? Dijamin rasanya unik dan memaniskan hari-harimu.[]
Penulis bernama Nada Ariqah, mahasiswi Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala. Ia juga aktif sebagai anggota UKM Pers DETaK.
Editor: Indah Latifa










