Beranda Artikel Aceh Selatan pada Dua Periode Penjajahan

[Kilasan] Aceh Selatan pada Dua Periode Penjajahan

BERBAGI
Potret Wilayah Aceh Selatan. (Muhammad Abdul Hidayat/DETaK)

Muhammad Abdul Hidayat | DETaK

Nusantara merupakan daerah beriklim tropis yang memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah ruah. Kekayaan alam ini mendorong bangsa asing datang untuk berdagang demi memperoleh rempah-rempah yang notabenenya merupakan barang langka dan mahal di daerah mereka. Tak puas hanya dengan berdagang, mereka lalu berinisiatif untuk memonopoli perdagangan tersebut dan memutuskan untuk menjadi raja di tanah orang lain. Begitulah awal mula imperialisme dan kolonialisme yang terjadi di Aceh Selatan dulunya. Mereka yang awalnya menyambut baik kedatangan bangsa asing ini seketika berubah menjadi geram sekaligus berang atas munculnya sikap semena-mena pemimpin mereka.

Aceh Selatan merupakan daerah yang berdekatan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat dan pegunungan di sebelah timur. Sama halnya dengan daerah Nusantara lainnya, bangsa Eropa pertama kali masuk ke Aceh Selatan melalui jalur perdangangan laut. Aktivitas ini didukung oleh adanya pelabuhan-pelabuhan penting di Kawasan Aceh Selatan, seperti Pelabuhan di daerah Labuhan Haji Sooso (Susoh), Menghin (Manggeng), dan Tampattuan (Tapaktuan).

Iklan Souvenir DETaK

Tercatat dalam buku “Ketika Pala Mulai Berbunga (Seraut Wajah Aceh Selatan)”, yang dikarang oleh Sayed Mudhahar Ahmad (1992), bahwa aktivitas perdagangan dengan salah satu bangsa Eropa, yakni Belanda dengan VOC-nya (Vereenigde Oostindische Compagnie), telah dimulai sebelum tahun 1820 M. Kala itu, pusat dagang mereka berada di daerah Pariaman, Sumatera Barat. Baru lah pada tahun 1840 M, orang-orang Belanda mulai memasuki daerah Aceh Selatan setelah melewati berbagai peperangan dengan Kerajaan Batu-batu di Singkil Hulu. Setelahnya, mereka mendirikan pemerintahan yang berlokasi di Singkil Baru (sekarang adalah Kota Singkil) dengan motif melindungi kelancaran aktivitas dagangnya, bukan sebagai penjajah.

Belanda kemudian menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Trumon dengan menandatangani Perjanjian Persahabatan Perdagangan di Padang. Upaya tersebut dilakukan supaya Belanda dapat dengan mudah menguasai daerah-daerah di Aceh Selatan. Masyarakat Aceh Selatan yang belum menyadari tujuan sebenarnya dari pendatang asing tersebut menganggap bahwa mereka hanyalah patner bisnis dalam urusan perdagangan. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Mei 1884, Belanda secara perlahan mulai menunjukkan sifat aslinya dengan mengibarkan Benderanya di daerah Tapaktuan. Tibalah pada tanggal 3 Juni 1899, Belanda secara resmi menjalankan pemerintahannya secara de facto di wilayah Aceh Selatan dengan membawa satu batalion pasukan infantri yang bertempat di tepi Krueng Seurula. Sejak saat itulah masyarakat Aceh Selatan berada dalam tekanan penjajah Belanda yang berkuasa penuh di daerah tersebut.

Penjajahan Belanda berakhir pada tahun 1942 yang mana merupakan awal tibanya tentara Jepang di Indonesia. Tentara Jepang tiba pertama kali di Trumon pada tanggal 18 Maret 1942. Masyarakat Aceh Selatan yang sudah dijajah selama 43 tahun itu merasa bahwa Jepang adalah sekutu mereka, apalagi Jepang menyatakan sendiri bahwa mereka merupakan Saudara Tua bagi bangsa Indonesia. Propaganda itu hanyalah upaya untuk menarik perhatian masyarakat agar lebih bersimpati dengan kedatangan Jepang. Penipu ulung seperti mereka kemudian menampakkan wujud aslinya setelah beberapa bulan kedatangannya.

Jepang semakin lama semakin otoriter bak seorang raja yang bengis, menggantikan posisi Belanda yang dulunya menjajah Aceh Selatan. Sumber daya alam dikuras habis, rakyat disuruh kerja paksa, dan berbagai perlakuan tak berperikemanusiaan lainnya dilakukan oleh Jepang. Sehingga ada sebuah ungkapan yang popular saat itu di kalangan masyarakat Aceh Selatan, yaitu “Tapeu crok buy jiteuka asey (Kita kejar babi datanglah anjing),”. Dimana makna babi tersebut merujuk kepada Belanda, sedangkan makna anjing merujuk kepada Jepang.

 Jepang juga mewajibkan anak-anak sekolah dan para pemuda di Aceh Selatan untuk mengikuti upacara setiap pagi dengan melakukan seikeirei (penghormatan kepada kaisar jepang dengan membungkukkan badan ke arah timur secara takzim). Masyarakat Aceh Selatan yang juga sama seperti orang Aceh lainnya (yang mayoritasnya adalah muslim) merasa bahwa tindakan tersebut merupakan perilaku menyekutukan Allah (syirik). Oleh karena itu, upaya pertentangan pun terjadi.

Para Ulama di Aceh Selatan kemudian bersatu dalam melawan Jepang. Mereka memutuskan untuk menyabotase sarana komunikasi dengan tujuan menghambat kesiagaan Jepang jika sewaktu-waktu pihak rakyat akan melakukan penyerangan. Begitu juga dengan rakyat Aceh Selatan yang bekerja di kantor-kantor milik Jepang, mereka melakukan sabotase terhadap administrasi dengan memperlalaikan penyampaian dokumen-dokumen esensial. Gunanya tak lain supaya pemerintahan Jepang di Aceh Selatan berjalan lambat sehingga mempermudah pergerakan laskar perjuangan rakyat Aceh Selatan.

Kepergian Jepang dari Aceh Selatan terjadi pada tahun 1945, tak lama setelah mendapat kabar bahwa kota Nagasaki dan Hiroshima telah hancur lebur oleh tentara sekutu. Di lapangan terbang Trumon, Jepang mengatakan bahwa mereka akan pindah ke Saigon. Jepang menyembunyikan kabar kekalahan mereka dari rakyat Aceh Selatan supaya tidak adanya hambatan dalam keberangkatan mereka. Setelah kepergian Jepang, masyarakat Aceh Selatan baru mendengar berita tentang kekalahan Jepang dan disusul dengan kabar proklamasi Indonesia sebagai negara merdeka. Ahmad (1992) menyebutkan di dalam bukunya bahwa ada rasa penyesalan di dalam hati rakyat Aceh Selatan terhadap telatnya informasi tersebut sampai pada mereka. Setidaknya, mereka bisa melakukan balas dendam dengan menyerang tentara jepang sebelum kepergian mereka.

Itulah sejarah singkat mengenai penjajahan yang terjadi di Aceh Selatan. Penjajahan yang terjadi dua kali berturut-turut tersebut tentunya menoreh luka mendalam bagi rakyat Aceh Selatan. Namun, seiring berjalannya waktu, trauma itu perlahan mulai menghilang ditelan zaman dan menjadi kilas pengingat oleh generasi tua ke generasi muda selanjutnya. []

Sumber: Ahmad, S. M. 1992. Ketika Pala Mulai Berbunga (Seraut Wajah Aceh Selatan). Tapaktuan: Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Aceh Selatan.

#30HariKilasanSejarah

Editor: Cut Siti Raihan