Beranda Terkini Sepi Peminat di Masa Pandemi, Usaha Pengolahan Kerupuk Tiram Desa Alue Naga...

Sepi Peminat di Masa Pandemi, Usaha Pengolahan Kerupuk Tiram Desa Alue Naga Tersendat

BERBAGI
Ibu Mariati bersama kerupuk olahan tiram yang dijualnya. 21/08/2021. (Febby Andriyani/DETaK)

Febby Andriyani | DETaK

Banda Aceh- Usaha pengolahan kerupuk tiram di Desa Alue Naga, Banda Aceh berhenti melakukan produksi sejak masa pandemi Covid-19. Penyebab utamanya karena tidak ada permintaan barang di pasaran. 

“Dari sejak pandemi permintaan barang rendah. Sistem kerja kami dihitung harian, jadi jika ada permintaan barang maka kami akan melakukan produksi,” ucap Fitri, anggota kelompok di Rumah Pengolahan Tiram Desa Alue Naga, Banda Aceh pada Sabtu, 21 Agustus 2021.

Sama halnya Mariati, pengusaha olahan kerupuk tiram rumahan di Desa Alue Naga, Banda Aceh, mengatakan bahwa untuk saat ini dirinya tidak melakukan produksi dikarenakan sepi peminat dan masih banyak stok kerupuk yang belum terjual.

“Kalau sekarang lagi tidak ada produksi. Terakhir ada kemarin pada bulan Februari 2021 karena ada permintaan barang, tapi tidak semua habis terjual,” ucap Mariati.

Hasil pengolahan biasanya dipasarkan ke swalayan, usaha kecil menengah (UKM), pameran, hingga permintaan untuk oleh-oleh keluar daerah. Produksi pengolahannya memakan waktu 2-3 hari tergantung cuaca saat penjemuran kerupuk dan bisa bertahan hingga satu tahun lebih. Selain kerupuk, tiram-tiram tersebut juga diolah menjadi nugget

Saat sebelum pandemi, Mariati bisa mendapatkan omzet penjualan sekitar 10–20 kilogram per permintaan. 

“Dua hari terkadang laku Rp200 ribu sampai Rp 1 juta, tiap bulannya konsisten ada uang pemasukan. Untuk sekarang hanya terjual dalam bentuk eceran per bungkus yang dibandrol harga Rp10 ribu,” ujar Mariati.

Selain itu, biaya kemasan yang lumayan mahal dan tidak adanya uang pemasukan yang lancar membuat Mariati tidak lagi menjualkan produknya di swalayan-swalayan. []

Editor: Indah Latifa