Beranda Terkini Mahasiswa Program MBKM Proyek Desa USK di Aceh Selatan Gunakan Aplikasi SIGAP

Mahasiswa Program MBKM Proyek Desa USK di Aceh Selatan Gunakan Aplikasi SIGAP

BERBAGI
(Doc. Panitia)

Rifdah Afifah Bardan | DETaK

Aceh Selatan – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dijalankan mahasiswa USK adalah Proyek Desa merupakan proyek sosial untuk membantu masyarakat di perdesaan atau daerah terpencil dalam membangun ekonomi rakyat, infrastruktur dan lainnya selama 5 bulan mulai dari 15 Februari hingga 18 Juni 2022. Kegiatan ini berlokasi di beberapa desa di Aceh Selatan.

Ada banyak manfaat yang dirasakan mahasiswa mengikuti kegiatan ini terutama berbagai soft skills yang tidak didapatkan selam masa perkuliahan. Selain itu, mahasiswa yang mengikuti program ini akan mendapatkan konversi 20 SKS.

Iklan Souvenir DETaK

“Tentunya soft skill yang tidak diajarkan pada bangku kuliah kami dapatkan pada program yang kami ikuti ini. Dengan mengikuti program ini maka nilai kami akan dikonversi sebanyak 18 SKS dengan nama mata kuliah Proyek Desa serta mendapatkan bebas KKN sebanyak 2 SKS jadi total SKS pada program ini sebanyak 20 SKS,” ujar Pharamita, salah satu mahasiswa Prodi Matematika yang mengikuti program MBKM.

Sistem Informasi Gampong (SIGAP) adalah aplikasi yang digunakan selama MBKM, aplikasi ini telah di-upgrade dengan tambahan fitur baru yang disebut SEPAKAT (Sistem Perencanaan, Penggagaran, Analisis dan Evaluasi Kemisikinan Terpadu). Fitur ini berfungsi sebagai alat untuk membantu proses perencanaan dan penganggaran desa berdasarkan data dan analisis yang menggambarkan keadaan sosial ekonomi desa.

“Setelah di-upgrade ternyata ada satu fitur tambahan lagi pada aplikasi SIGAP yaitu SEPAKAT, di mana SEPAKAT merupakan Sistem Perencanaan, Penggagaran, Analisis dan Evaluasi Kemisikinan Terpadu. Nah fungsi dari SEPAKAT ini sebagai alat untuk membantu proses perencanaan dan penganggaran desa berdasarkan data dan analisis yang menggambarkan keadaan sosial ekonomi desa. Selanjutnya pada minggu pertama setelah kami kembali ke Aceh Selatan KOMPAK serta DPMG provinsi melakukan pelatihan kepada anak MBKM yang berada pada Aceh Selatan tentang fitur SEPAKAT yang mana kami harus bisa melatih dan mendampingi operator dalam fitur SEPAKAT tersebut,” jelas Pharamita.

Selama 5 bulan menjalani program MBKM tentunya banyak kesan yang dirasakan oleh mahasiswa. Ketika diwawancarai, Widi mengatakan bahwa program tersebut dapat menambah relasi serta membantu belajar menyelesaikan dan mencari solusi akan sebuah masalah.

“Pada MBKM penerapan SIGAP ini yang membuat saya tertarik mengikutinya adalah ketika program ini ditempatkan di Kabupaten Aceh Selatan di mana yang kita ketahui Aceh Selatan merupakan kabupaten dengan beragam tempat wisata dan sejarahnya. Secara umum program ini juga menambah relasi secara internal maupun eksternal. Serta sejauh ini dalam program ini mahasiswa dituntut menyelesaikan masalah dan solusi akan masalah tersebut, mahasiswa juga sudah berhubungan dengan pihak-pihak penting yang sangat membantu dalam program ini,” pungkas Widi.[]

Editor: Hijratun Hasanah