
Amirah Nurlija Zabrina & Kamilina Junita Damanik [AM] | DETaK
Darussalam–Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil meraih medali perak pada ajang Mandalika Essay Competition 7 (MEC 7) pada 5–8 September 2025 di Universitas Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Kompetisi esai tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Nusantaramuda dan Lembaga Setara Prisma Nusantara. Tahun ini, MEC 7 membuka delapan subtema, yaitu Pertanian, Hukum & Ekonomi, Pendidikan, Pariwisata & Budaya, Teknologi, Pangan, Lingkungan, dan Kesehatan.

Berikut nama mahasiswa FISIP USK yang mengikuti ajang Mandalika Essay Competition 7 (MEC 7):
1. Rizfa Maghfirah dari program studi (prodi) Ilmu Politik
2. Muhammad Vikram dari prodi Ilmu Politik
3. Zikni Anggela dari prodi Ilmu Politik.
Tim FISIP USK memilih Sub tema Hukum dan Ekonomi, mengangkat Esai berjudul “Suara Kita: Inovasi Digital dan Kolaborasi Inklusif dalam Proses Demokrasi dan Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045.” Esai ini berfokus pada pengembangan inovasi digital berupa sebuah aplikasi yang dapat menampung aspirasi masyarakat sekaligus menjadi sarana pendidikan politik.
Hal tersebut selaras dengan permasalahan saat ini, di mana terjadi partisipasi pasif dari masyarakat yang menyebabkan aspirasi mereka kurang terserap. Dengan demikian, inovasi digital ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk mempermudah penyerapan aspirasi.
Ketua Tim, Rizfa Maghfirah menjelaskan strategi tim dalam menjalani kompetisi adalah dengan menyiapkan mind mapping sejak awal penulisan. Dengan cara itu, mereka bisa menentukan bagian-bagian penting yang akan ditonjolkan dalam esai.
“Dari awal penulisan esai aku udah membuat mind mapping apa aja yang perlu ditonjolin di dalam esai. Misalnya di pendahuluan, hal yang harus ditonjolkan itu sebab dan akibat, jadi seperti kenapa masalah ini menjadi penting, kenapa harus topik ini dan kenapa topik ini jadi penting. Jadi dari awal kami cukup menguasai materinya karena udah ada mind mapping dari awal,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Rizfa mengungkapkan, tantangan terbesar bukan berasal dari persiapan lomba, melainkan dari keterbatasan pendanaan. Sehingga hanya satu anggota yang berhasil berangkat mewakili tim.
“Akhirnya yang berangkat dari kami hanya satu orang karena mempertimbangkan dana. Kalau kami memaksakan pergi berdua, kami harus banyak mengeluarkan uang pribadi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rizfa menjelaskan bahwa dana yang diberikan universitas memang cukup banyak. Namun, mengingat biaya perjalanan yang cukup mahal, dana tersebut hanya cukup untuk tiket pesawat.
“Walaupun fakultas membantu Rp2 juta dan biro memberi Rp8 juta, total Rp10 juta itu hanya cukup untuk tiket pesawat. Biaya lain seperti penginapan, terus Grab dari bandara ke tempat itu, kami harus bayar pakai uang sendiri. Belum lagi uang jajan selama di sana. Yah, itu sih hambatan terbesar kami sebenarnya,” ungkapnya.
Rizfa berpesan kepada mahasiswa agar tidak merasa malu untuk mencoba, karena usaha dan kerja keraslah yang akan menentukan keberhasilan.
“Jangan malu, jangan merasa minder untuk ikut lomba, karena dari awal kita ikut lomba kita udah tau hasilnya apa, kenapa aku bilang gini, karena semakin kamu bekerja keras maka apa yang kamu usahakan tadi semakin dekat dengan kamu,” pesannya.[]
Editor: Fathimah Az Zahra



![[Lensa] Sejumlah Titik Kampus Dipenuhi dengan Tumpukan Sampah](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/06/Foto-3-1-100x75.jpg)





