Beranda Terkini KIP Aceh Gelar Nonton Bersama Film “Tepatilah Janji”

KIP Aceh Gelar Nonton Bersama Film “Tepatilah Janji”

BERBAGI
Sesi foto bersama KIP Aceh dengan mahasiswa dalam acara nonton bareng film Tepatilah Janji, di Hotel The Pade,Aceh Besar.01/10/2024. (Doc. Panitia)

Diffa Nailah [AM], Mutia Hafizah [AM] | DETaK

Aceh Besar–Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh melaksanakan nonton bersama film “Tepatilah Janji” Bersama Mahasiswa Universitas Syiah Kuala dan KIP Kabupaten/Kota di Hotel The Pade, Kabupaten Aceh besar, pada selasa malam, 01 Oktober 2024.

Film “Tepatilah Janji” disutradarai oleh Garin Nugroho yang merupakan lanjutan dari film “Kejarlah Janji” yang telah rilis pada tahun 2023, berisi mengenai edukasi terkait pesan-pesan politik yang dikemas dalam genre komedi.

Iklan Souvenir DETaK

Film “Tepatilah Janji,” mengisahkan keluarga Bu Pertiwi yang terpengaruh oleh politik ketika putra tertuanya, Adam, terpilih sebagai walikota. Pilkada yang dihadapi Adam dipenuhi persaingan dan praktik politik tidak etis, sementara istri Adam, Tari, dan adik-adiknya, Isham dan Sekar, memberikan reaksi beragam. Film ini juga menggabungkan elemen komedi dan romansa, termasuk kisah cinta Bu Pertiwi dengan Pak Janji di tengah euforia warga desa dan isu politik dinasti yang berkembang melalui media sosial.

Acara nonton bareng film “Tepatilah Janji” berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran politik di kalangan masyarakat, terutama mahasiswa. Dengan mengangkat isu-isu politik yang relevan, film ini memberikan wawasan baru dan mendorong partisipasi aktif menjelang Pilkada Aceh pada 27 November 2024, serta menjadi alat efektif dalam mengedukasi pemilih.

Ketua KIP Aceh, Saiful dalam sambutannya menyampaikan film ini merupakan media edukasi kepada masyarakat terutama mahasiswa sebagai agent of change terkait dengan isu-isu politik diantaranya politik uang, politik dinasti, hoax dan hal negatif politik lainnya dalam menghadapi Pilkada Aceh 27 November 2024 mendatang.

“Melalui film ini, semoga masyarakat dalam menggunakan hak pilih betul-betul berdasarkan hati nurani, bukan berdasarkan politik uang, politik dinasti dan hoax/berita bohong,” ungkapnya.

Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Alya Shafiyah mengaku film ini memberikan wawasan politik khususnya bagaimana rakyat tetap memiliki kekuasaan untuk menanggapi ketidakpuasan atas hak-hak mereka.

“Dari film tersebut ilmu yang saya dapat ya sebagai seorang pemimpin harus menepati janji. Meskipun udah jadi pemimpin tapi rakyat tetap punya kuasa untuk menanggapi apa yang tidak mereka dapatkan dari hak mereka, termasuk janji pemimpin terhadap rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Ziyan Hasyna mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Syiah Kuala juga menyebutkan bahwa acara nonton bareng film ini merupakan pendidikan politik yang tidak hanya berupa materi teoretis, namun juga melibatkan kegiatan sosialisasi dan edukasi yang interaktif.

“Acara nonton bareng film ini sebagai contoh gimana masyarakat dapat diarahkan untuk lebih peduli dengan isu politik. Film ini menunjukkan bahwa pendidikan politik bukan hanya materi teoretis, tetapi juga praktis melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi yang interaktif,” ujarnya. [ ]

Editor: Pramudiyanti Saragih