Beranda Terhangat Setelah Tiga Hari Digelar, Festival Gemasastrin 2022 Resmi Ditutup

Setelah Tiga Hari Digelar, Festival Gemasastrin 2022 Resmi Ditutup

BERBAGI
Penutupan Festival Gemasastrin dengan tabuh rapai oleh WR III USK, WD III FKIP USK, dan Pembina Gemasastrin. 08/10/2022. (Auliatul Maghfirah [AM] | DETaK)

Auliatul Maghfirah [AM], Shufiyya Maryam [AM] | DETaK

Darussalam – Gelanggang Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Gemasastrin) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) resmi menutup acara Festival Gemasastrin (Fesgem) yang mengangkat tema “Peran Bahasa dan Sastra terhadap Eksistensi Budaya dan Warisan Endatu” pada Sabtu, 08 Oktober 2022 di Ruang Audit Lantai 3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK.

Kegiatan ini ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dengan kategori; lomba cipta puisi, lomba cipta cerpen, lomba cipta esai, lomba baca puisi, lomba pidato Bahasa Indonesia, lomba mewarnai tingkat SD dan TK serta lomba vokal solo.

Iklan Souvenir DETaK

Raihan Shafira selaku Ketua Panitia mengaku bangga terhadap para panitia yang membantu dalam menyukseskan kegiatan Fesgem ini. Walaupun para panitia memiliki kesibukan tersendiri namun masih mampu untuk meluangkan waktu dalam kegiatan ini.

“Saya akui, saya sangat bangga dengan para panitia yang turut menyukseskan acara Festival Gemasastrin ini. Walaupun banyak kegiatan di luar, namun mereka tetap menyisihkan waktunya untuk tetap berhadir pada acara kita ini,” ujarnya.

Muhammad Ariffandi, Ketua Umum Gemasastrin juga mengungkapkan bahwa kegiatan Festival Gemasastrin ini tidak lepas dari peran para panitia, sponsor, media partner, para dewan juri serta peserta yang terlibat dalam kegiatan Festival Gemasastrin 2022 ini.

“Kegiatan ini pastinya tidak akan terlaksana dengan baik tanpa keterlibatan teman-teman panitia, teman-teman sponsor, media partner, para dewan juri, peserta serta pihak sponsor yang sudah terlibat dalam kegiatan Festival Gemasastrin 2022,” ungkapnya.

Acara ditutup secara resmi oleh Wakil Rektor III USK, Mustanir. Ia mengatakan bahwa tema yang diusung oleh Fesgem kali ini sangat bagus dan harus dijadikan agenda rutin, bukan hanya di FKIP Bahasa Indonesia saja tapi juga di fakultas-fakultas yang lain.

“Etnik itu bukan berarti orangnya aja, bukan. Tapi identitas peradabannya. Bahasanya, seninya budayanya. Jadi setiap hal yang diangkat sebagai tema kali ini mengingatkan kita kembali bahwa kita punya bangsa, punya etnik yang namanya Aceh,” ujarnya. []

Editor: Muhammad Abdul Hidayat