Beranda Terhangat Aksi Kamisan Aceh Gelar September Hitam Peringati Tragedi Semanggi II

Aksi Kamisan Aceh Gelar September Hitam Peringati Tragedi Semanggi II

BERBAGI
Koordinator lapangan Aksi Kamisan Aceh menyuarakan tuntutan penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat saat aksi September Hitam di Taman Ratu safiatuddin, Banda Aceh, Kamis, 25/9/2025. (Nailul Muna Nasution [AM]/DETaK

Nailul Muna Nasution [AM] & Rosti Witanti [AM] | DETaK

Darussalam– Aksi Kamisan Aceh kembali digelar di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Kamis 25 September 2025 dengan mengusung tema “September Hitam”, aksi ini memperingati 26 tahun tragedi Semanggi II sekaligus menolak lupa terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang belum terselesaikan.

Koordinator lapangan Aksi Kamisan ke-16, Hafiz Himawan, mengatakan aksi ini lahir sebagai bentuk refleksi dan penolakan terhadap impunitas.

Iklan Souvenir DETaK

“Kami mengingatkan atau merefleksi kembali bahwasanya Aceh salah satu daerah dengan pelanggaran HAM berat terbanyak, jadi kami berinisiasi menolak lupa terkait pelanggaran HAM itu dengan adanya Kamisan. Tujuannya adalah untuk mencari keadilan. Kami dari Kamisan Aceh berharap dengan adanya Kamisan di Aceh, maka keadilan dari korban pelanggaran HAM berat khususnya itu bisa terselesaikan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Kamisan merupakan ruang bebas menyuarakan persoalan HAM. “Kamisan itu tidak pernah ada tuntutan, dia itu seperti panggung bebas. Tapi tuntutan kami yang pastinya satu yaitu terselesainya pelanggaran HAM di Aceh, menolak impunitas dan sebagainya,” kata Hafiz.

Menurutnya, isu yang diangkat berbeda setiap minggu, namun khusus September ini difokuskan pada tema “September Hitam”. Ia menegaskan hingga kini belum ada respon dari pemerintah terkait aksi tersebut.

“Kalau kita tanya respon pemerintah belum ada, bahkan sampai saat ini belum ada keberlanjutan dari pihak KKR. Masih banyak korban pelanggaran HAM yang belum terselesaikan,” ujarnya.

Salah seorang peserta aksi, Arifal Akbar, menyebut keikutsertaannya didorong oleh keprihatinan atas belum tuntasnya kasus pelanggaran HAM.

“Seperti kita tahu semua di Indonesia masih banyak ketidakadilan, masih banyak korban pelanggaran HAM yang belum ditemukan keadilannya, dan juga tindak pelanggaran HAM itu terus berlanjut sampai hari ini. Yang mendorong saya untuk ikut ini, saya ingin di Indonesia tidak ada lagi pelanggaran HAM untuk ke depannya,” ungkapnya.

Arifal menilai Aksi Kamisan memiliki peran penting dalam menjaga ingatan publik atas kasus pelanggaran HAM. “Menurut saya sangat penting, Aksi Kamisan ini menjadi wadah untuk kita merawat ingatan apa yang telah terjadi di masa sebelumnya dan tindakan pelanggaran jangan sampai dilupakan karena sampai saat ini belum ada keadilan,” katanya.

Ia berharap pemerintah lebih serius menindaklanjuti penyelesaian pelanggaran HAM. “Saya harap pemerintah dapat membuka mata dan telinga dengan sebesar-besarnya. Lihat ke seluruh penjuru, banyak tindakan pelanggaran HAM yang terus terjadi. Banyak warga yang terdampak dari represifitas aparat sampai hari ini. Saya harap pemerintah dapat menindaklanjuti seluruh pelanggaran HAM baik yang dulu maupun yang baru,” tutupnya.[]

Editor: Khalisha Munabirah