Cerpen | DETaK
Setiap sore di perempatan Jalan Melur, seorang anak berusia sepuluh tahun berdiri dengan sebuah payung kuning yang warnanya mulai pudar. Namanya Raka. Tubuhnya kecil, namun langkahnya selalu sigap ketika hujan mulai turun. Ia bukan pengemis, bukan pula penyemir sepatu seperti sebagian anak yang sering terlihat di sudut kota. Raka hanya ingin memastikan satu hal: tak ada orang yang basah kuyup saat menyeberang.
Ibunya, Santi, berjualan gorengan di pinggir jalan. Sejak ayah Raka meninggal setahun lalu akibat kecelakaan kerja, hidup mereka berubah drastis. Santi harus bekerja dari pagi hingga malam untuk mencukupi biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Raka sering berkata bahwa ia tidak ingin menjadi beban. Maka, setiap hari sepulang sekolah, ia membantu sebisanya—sesederhana menyiapkan adonan, hingga menjaga lapak ketika ibunya harus membeli bahan tambahan.

Namun, ada satu kebiasaan Raka yang tidak pernah diminta siapa pun. Saat hujan turun, ia berdiri di tepi zebra cross, membuka payung kuning warisan ayahnya, dan menuntun siapa saja yang sedang menyeberang.
“Kalau hujan, orang-orang sering terburu-buru. Takut terpeleset,” katanya suatu kali. “Ayah bilang, kalau kita bisa meringankan langkah orang lain, hidup kita ikut ringan.”
Sore itu hujan turun lebih deras dari biasanya. Langit tampak seakan retak, menyisakan celah-celah gelap yang menyeret dingin ke seluruh kota. Raka menggigil, tapi tetap berdiri. Ia melihat seorang nenek berpayung sobek sedang menunggu kesempatan menyeberang. Mobil-mobil melaju cepat, dan genangan air membuat jalan sulit diprediksi.
Tanpa pikir panjang, Raka menghampiri nenek itu. Ia membuka payung kuningnya yang sudah bolong di satu sisi, dan memayungi nenek itu menyebrangi jalan. Ketika tiba di seberang, nenek itu menepuk pundaknya.
“Kamu seharusnya di rumah, Nak. Hujannya deras sekali,” ucap sang nenek dengan suara yang nyaris tenggelam oleh rintik hujan.
Raka hanya tersenyum. “Ibu masih berjualan. Saya temani Ibu.”
Malam itu, seorang pengendara ojek online yang melihat aksi Raka memotret diam-diam dan mengunggahnya ke media sosial. Foto itu menunjukkan seorang bocah kecil dengan payung kuning di bawah hujan lebat, payung yang tampak jauh lebih besar dari tubuhnya. Dalam beberapa jam, foto itu dibagikan ratusan kali.
Keesokan harinya, lapak gorengan ibu Raka dipenuhi banyak orang yang tiba-tiba datang. Ada yang membeli gorengan, ada yang memberi pelindung hujan baru, ada pula yang menawarkan bantuan pendidikan untuk Raka. Namun bocah itu hanya berdiri malu, memeluk payung kuning tuanya.
Saat seorang warga bertanya mengapa ia tetap menggunakan payung yang sudah sedikit rusak padahal sudah diberi yang baru, Raka menjawab dengan suara lirih.
“Ini payung Ayah,” katanya. “Ayah selalu bilang payung ini bakal menjaga kami. Kalau saya memayungi orang, rasanya seperti Ayah juga ikutan menjaga.”
Ibunya yang mendengar itu hanya menunduk, menyeka matanya diam-diam di balik penggorengan panas.
Sore itu hujan kembali turun, tak sederas hari sebelumnya, namun cukup untuk membuat Raka kembali berdiri di ujung jalan. Orang-orang yang lewat sudah mengenalnya, namun ia tetap mengangguk sopan setiap kali menuntun pejalan kaki menyeberang.
Payung kuning itu kembali terbuka, meneduhkan siapa saja yang berjalan di bawahnya. Dan meski warnanya memudar dan bagian pinggirnya robek, payung itu tetap tampak paling terang di tengah kelabu kota.
Di perempatan Jalan Melur, di bawah langit yang retak, seorang anak kecil mengajarkan kota ini tentang kehilangan, keteguhan, dan kebaikan yang tak pernah meminta balasan. Dan selama hujan masih turun, selama ibunya masih berdiri di pinggir jalan, selama kenangan ayahnya masih hidup dalam payung kecil itu, Raka akan terus berada di sana.
Penulis bernama Ainurrahmah Elhalimi Mahasiswi Program Studi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Syiah Kuala
Editor : Rimaya Romaito Br Siagian










