Cerbung | DETaK
Sudah beberapa jam berlalu setelah wawancaraku dengan sang profesor, tapi aku masih bisa merasakan pusing akibat pengalaman lompatan warp itu. Aku melihat sisa hidupnya yang dipersingkat, hanya dalam hitungan sepersekian detik, rasanya seperti memaksa masuk tali tambang ke lubang jarum, dan aku berhasil menjahit celana dalamku dengan itu. Tiap kali peristiwa itu terjadi sepertinya otakku tambah berkerut dan pikiranku jadi kacau. Terakhir kali lompatan itu terjadi saat aku tidak sengaja melihat sisa hidup orang itu, orang yang secara tidak langsung menyeretku ke situasi ini. Ada api, kepulan asap, darah dan jeroan manusia. Adegan yang lebih memualkan dari film Saw, yang membuatku tidak bisa makan dan tidur satu minggu penuh. Kenapa rasanya sudah lama sekali, ya?
Tidak ada gunanya mengingatnya. Kepalaku sudah cukup sakit sekarang. Malam itu bangsalku jauh lebih dingin dari biasanya. Aku sudah berusaha tertidur selama 3 jam terakhir, namun mataku menolak terpejam.

Aku meyalakan lampu di nakas sebelah ranjangku, meraih remot pendingin ruangan dari dalam laci dan menaikkan suhunya. Aku meraih remot lain dan menyalakan TV. Saluran yang ada kebanyakan menayangkan pertandingan bola dan film malam berlabel dewasa. Aku berhenti di satu saluran bincang malam yang membahas masalah politik, berharap kalau-kalau aku bisa tertidur saking bosannya.
Sampai acaranya selesai, tidak ada yang terjadi.
Aku mematikan TV, turun dari ranjang, kemudian berjalan ke arah pintu balkon.
Tanganku menyibak tirai. Kerai besinya berdenting saat terseret. Di baliknya, membentanglah langit malam berawan, serta lampu-lampu dari gedung apartemen di seberang. Kacanya samar-samar memantulkan wajahku yang letih. Aku menggesernya, melangkah keluar, dan manyambut hawa dingin malam yang jauh lebih menusuk dari pendingin udara. Sedini ini, lampu jalan kota masih sibuk berpendar, memandu mobil yang berlalu lalang. Taman dibiarkan gelap, hanya ditemani kerlip kecil lampu di tepinnya.
Jujur, aku lebih menyukai malam daripada siang. gelap akan membatasi penglihatanku, yang juga akan membatasi kemampuanku. Dalam posisiku kini, bahkan aku mendambakan mataku buta.
Bunyi sirine meraung di bawahku. Aku melongo ke bawah, memerhatikan perawat yang menggotong keluar ranjang dorong yang diisi seorang wanita hamil. Seorang pria lain keluar dari ambulan, mendorong ranjang bersama para petugas. Mereka mengingatkanku pada orang tuaku.
Ayah … ibu ….
Untuk satu alasan yang tidak dijelaskan, mereka tidak dibiarkan menjengukku. Sebenarnya, waktu istirahat yang diberikan untukku nyaris tidak cukup bahkan untuk bernapas, apalagi harus menerima tamu. Aku cuma bisa melihat mereka melalui panggilan video. Tiga kali seminggu. Hanya sedikit lebih sering daripada pemindaian MRI-ku.
Kali pertama ibu melihat kepalaku yang botak, dia menangis. Ayah juga geram bukan kepalang. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Aku meyakinkan mereka bahwa aku akan pulang tak lama lagi, dan selama aku bisa bekerja sama, aku tidak akan terluka.
Menyakitkan melihat mereka mengkhawatirkanku. Mungkin itu juga yang ayah dan ibuku rasakan. Mereka berdua tidak tahu kemampuaku sampai kehebohan masal itu terjadi—kehebohan yang membawaku ke bangsal ini.
Tiba-tiba saja, aku teringat dia. Gadis itu—Val. Sudah lama aku tidak melihatnya. Dan Ray. Dia orang terakhir yang kutemui sebelum terlibat degan ilmuwan-ilmuwan asing ini.
Aku kembali ke dalam, menutup pintu balkon, menarik tirainya. Kamar terasa lebih hangat, mungkin karena aku sudah teralu lama terkena angin malam. Sudah lewat 2 jam dari tengah malam, mataku mulai berat. Saat aku kembali ke ranjangku, berkemul dalam selimut, seketika itu juga aku tidur.
Biasa tidurku kosong. Kali ini aku bermimpi tentang kejadian itu, kecelakaan yang memberiku kemampuan ini.
Hari itu adalah ulang tahunku yang ke 16. Orang tuaku dan aku memang tidak biasanya merayakan ulang tahun dengan heboh. Biasa ibu hanya akan memasak masakan kesukaanku—semur daging—dan mereka memberiku hadiah kecil seperti kaus atau kemeja flanel baru.
Kali ini, mereka membelikanku sepasang sepatu yang sudah lama kuinginkan. Dan lagi, mereka sudah mempersiapkan liburan keluarga ke luar kota selama seminggu. Ayah berhasil mendapat izin cutinya dan memesan tiket kapal dengan potongan haarga yang cukup besar. Untungnya waktu itu sedang liburan sekolah dan ibu bisa menutup toko rotinya selama yang dia mau.
Itu mungkin terdengar agak aneh. Biasanya remaja yang merayakan ulang tahun akil balig mereka akan berusaha menjauh dari orang tua mereka, menunjukan tanda-tanda kedewasaan seperti, “Aku mau liburan bareng teman-teman saja.” atau, “Boleh aku dapat mobil?” dan, “Yah, Bu, berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!”
Aku malah sebaliknya. Mungkin hanya tersisa beberapa tahun sampai aku tidak lagi pantas diperlakukan seperti anak-anak. Aku takut suatu saat, Ayah dan Ibu lah yang sadar lebih dulu bahwa aku sudah dewasa, dan akan tiba saatnya mereka mulai memperlakukanku seperti seorang pria. Hingga saat itu, aku tidak mau ada yang berubah. Aku tetaplah anak mereka. Aku akan tetap senang berlibur hanya bertiga dengan mereka.
Pagi itu kami sudah siap dengan semua bawaan. Kami pergi ke pelabuhan dengan taksi. Kapal yang kami tumpangi sudah bersandar di dermaga. Kulihat banyak penumpang lain menatap ke arah kapal yang sama. Itu bukan kapal yang besar. Kapasitasnya sekitar 300 orang. Lambung putihnya yang berkerak karena air garam dan teritipdiayun oleh ombak yang pecah di kaki-kaki dermaga. Angin pelabuhan yang bertiup tak tentu arah menyebarkan aroma asin ke hidungku. Di ujung lain cakarawala,bisa kulihat pulau tujuan kami seperti gundukan hitam yang terapung tenang di tengah samudera.
Hanya selang setengah jam kemudian, kami sudaah menaiki kapal. Mesinnya menggemuruh dan bisa kurasakan getaranya di lantai dek. Alur kecil ombak yang terbelah dari haluan menyambar sisi lambung kapal, meninggalkan jejak samar ke belakang buritan.
Aku bertengger di balik. Angin menyapu rambutku ke belakang. Aroma garam kiat kuat. Mataku perih, namun tidak ada yang bisa menggantikan sensasi ini. Ibu dan Ayah sedang duduk-duduk di geladak terbuka. Aku praktis memberikan mereka waktu hanya untuk berdua karena pandangan kami satu sama lain terhalang ruang kemudi.
Gundukan hitam di cakrawala itu kian membesar. Kini aku bisa melihat detailnya. Bentuknya seperti penyu—peyu yang sangat berlumut. Tepat di mana mulutnya berada, aku bisa melihat gua besar dengan untaian akar menutupinya. Sedangkan bagian cangkangnya ditumbuhi hutan lebat. Meski begitu aku bisa melihat satu-dua pondok besar yang dibangun tepat di puncaknya. Beberapa bagian hutan juga terlihat lebih jarang dari yang lain. Dan yang menutupi daerah di pinggirnya adalah pantai pasir putih. Kudengar pulau itu juga punya area kemah bibir pantai.
Yang menggangguku sekarang adalah langitnya. Masih 2 jam lagi sampai kami tiba, namun awan mendung itu tinggal setengah jalan ke arah kapal kami. Langit mendadak hitam dan angin bertambah kencang. Aku langsung tahu kalau keadaan tidak akan baik-baik saja.
Aku mundur dari haluan, namun mendadak petir menyambar tiang radio dan menghantarkan gelombaang kejut ke seluruh penjuru kapal. Rambut lenganku bediri dan rasanya aku bisa mencium aroma hangit dari sesuatu yang terbakar.
Para penumpang mulai panik dan berdesakan masuk. Aku dengan bodohnya pergi ke buritan untuk mencari Ayah dan Ibu sampai akhirnya aku sadar telah melihat mereka masuk, sebelum dengan ceroboh terseret menjauh oleh kerumunan itu. Saat aku hendak kembali, hujan sudah turun layaknya bom air, seolah ada tangki mahabesar yang meledak depat di atas kepalaku. Pandanganku mengabur karena hujan, telingaku berdenging, rasanya seperti sedang dikelilingi air terjun. Lantai dek atas seketika menjadi licin. Kapal semakin tidak terkendali karena ombak menggoyang kapal. Hanya menunggu waktu sampai gelombang lebih besar datang dan menggeser titik berat kapal terlalu jauh.
Aku mencoba berjalan tertatih sasmbil berpegangan erat pada langkan. Satu-satunya yang menyelamatkanku dari tegelincir adalah kaki telanjangku. Tiba-tiba, petir kembali menyambar tiang radio. Gelombang kejutnya jauh lebih hebat. Lantai dek bergetar dan menggoyahkan pijakanku. Tepat saat kapal miring ke satu sisi lambung, aku tergelincir, langsung menuju rahang ombak raksasa yang siap melahapku.
Kesadaranuku tidak hilang. Aku bisa melihat buih-buih beriak di sekelilingku. Pandanganku perih karena air garam. Napas yang tersisa dalam paru-paruku tidak akan membuatku bertahan lebih dari satu menit. Telingaku tersumbat. Aku tidak pernah mmenduga air bisa terasa hangat dan dingin menusuk di saat yang bersamaan. Bisa kurasakaan sumsum tulang belakangku membeku.
Aku tidak menyangka kalau inilah caraku mati. Tertelan ombak, diseret jauh ke dalam lautan. Tekanan air hamper-hampir meremukkan tulang igaku.
Nilai pelajaran berenangku tidak memuaskan. Di air yang diam saja gaya bebasku hanya bisa mendorongku lima meter sebelum aku terengah-engah dan memutuskan menepi dengan berjalan di dasar kolam. Tapi ini bukan kolam renang. Dasar lautan mungkin masih ratusan meter di bawah, dan tinggi badanku bahkan tidak sampai enam kaki. Sekarang, pantat kapal sudah bermeter-meter jauhnya di atasku, masih berombang-ambing. Di bawah sini tidak ada ombak, tidak ada arus. Badai di atas rasanya hanya ilusi.
Tubuhku kian tenggelam sementara kaki dan tanganku berayun tanpa daya. Pemandangan itu semakin kabur sampai tiba-tiba serangan yang amat menyengat membakar bagian belakang mataku. Saking perihnya, aku berteriak. Napas terakhir yang kumiliki terbuang dalam bentuk buih. Aku tercekat. Air laut yang asin menggores kerongkongan dan tenggorokanku.
Aku menjadi panik, membuang energi yang tersisa untuk mengayunkaan tangan dan menggelengkan kepala keras-keras. Rasa sakitnya belum juga memudar. Pandanganku yang gelap mendadak berganti. Aku bisa melihat kenanganku dengan jelas. Beberapa adalah saat aku masih sangat kecil. Yang lain kenangan mengejutkan, memalukan, dan indah. Inikah kilas hidup yang dikatakan orang bakal kaulihat saat sekarat?
Namun, apa itu? Itu bukan kenanganku. Aku melihat seorang gadis duduk di sebuah halte, memandangku dengan lagak sok sambil mengemut lolipop dan sedotan susu kocok bersamaan. Dia mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Aku juga melihat seorang anak laki-laki gemuk berkacamata dengan rambut kecoklatan. Usianya sekitar dua belas tahun. Dia tersenyum padaku. Lalu aku melihat gadis dan anak laki-laki itu di dalam satu kejadian yang sama, mereka saling adu pelotot, kemudian berpaling padaku. Sesaat kemudian aku melihat banyak orang berlarian keluar dari sebuah gedung. Api yang menjilat-jilat tepat di depan mataku. Asap yang mengaburkan pandanganku. Lalu ada pasukan anti huru-hara di mana-mana. Kemudian aku memandang diriku sendiri di cermin, plontos dan hanya memakai pakaian rumah sakit. Hutan malam hari, anjing pemburu, anak-anak yang berlarian, percikan listrik, pandangan-pandangan dari mata yang berpendar dalam gelap, dan api lagi. Api yang sedang melalap kota.
Ada ribuan hal lain yang kulihat, namun tidak satupun kukenal. Semuanya melintas begitu saja seperti buih yang menelanku. Rasa nyeri di mataku berangsung menghilang, namun di saat ia benar-enar berhenti, aku sudah tidak lagi melihat apa pun.
Aku terbangun entah berapa lama kemudian. Aku bisa melihat gumpalan tipis nan gelap mengganntung di sesuatu yang sepertinya langit. Awan mendung yang sudah memudar. Hujan sudah berhenti. Aku terbaring di dek kapal. Basah kuyup. Bibirku kesemutan. Tubuhku seperti baru saja dikeluarkan dari balok es.
Wajah orang-orang yang tidak kukenal menjulang di atasku, tertutup kabut yang mungkin hanya ada di mataku. Sesaat sebelum aku pulih benar, seseorang mendekapku kuat-kuat, tidak peduli pakaian basahku merembeskan air ke pakaiannya.
“Dai? Nak? Kau baik-baik saja?” suara Ibu terdengar sangat jauh dan bergaung. Dia mengelus punggungku dengan tangan gemetar. Dekaapannya kian kuat.
Aku tidak bisa menjawab. Air laut menggores pita suaraku sampai-sampai mengerang pun terasa perih. Tapi, aku mengangguk.
Karena hal itu, kapal terpaksa putar haluan ke pelabuhan tempat kami berangkat tadi. Awan hitam itu menggantung di atas pulau seolah mengunggu korban baru. Samar-samar kulihat kilat kemerahan merekah di dalamnya.
Begitulah liburan kami berakhir. Seolah belum cukup buruk, aku harus menjalani rawat inap selama seminggu untuk memulihkan kondisiku. Belakangan aku diberitahu bahwa petir itu turut menyambarku, meskipun aku yakin tidak meraasakan aliran listrik jutaan volt menghantamku pagi itu. Aku baru percaya saat kulihat foto luka bakar di bawah kulit punggungku yang berbentuk seperti rambatan akar tanaman bewarna merah, memanjang ke dua arah mengikuti alur tulang belakangku. Salah satu ujungnya berakhir tepat di tengkukku. Iris mataku juga tampak lebih pucat dari seharusnya, dari yang awalnya sewarna kopi, kini tampak lebih mirip madu.
Hanya satu hari setelah kejadian itu, aku mulai dihantui mimpi-mimpi yang terlalu nyata sehingga aku merasa sedang mengalaminya. Satu minggu terbiasa dengan mimpi-mimpi itu, aku akhirnya melihat masa depan untuk kali pertama.
Bersambung ke chapter 5
Penulis bernama Teuku Muhammad Ridha, Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil angkatan 2019, ia juga merupakan salah satu Redaktur UKM Pers DETaK USK.










