Beranda Puisi Distorsi Negeriku, Indonesia

Distorsi Negeriku, Indonesia

BERBAGI
Ilustrasi (M. Talal/DETaK)

Puisi | DETaK

Bertindak anarkis
Meronta meringis
Mengisak tangis
Akhirnya tragis
Begitulah distorsi para politis
Hingga kabut akhir nanti masih saja dramatis
Tercengang seperti Ratu Balqis
Menatap kekuasaan Nabi Sulaiman yang tak kunjung habis

Duhai pemuda negeriku, Indonesia
Dunia ini fatamorgana
Indonesia juga demikian adanya
Bagian dari panggung dunia
Jangan terjebak distorsi politis
Jangan terjerat pada hal tak etis
Jangan terpikat omongan kaum elit yang manis

Iklan Souvenir DETaK

Para politis sibuk melakukan distorsi
Seolah-olah itu nyata padahal maya
Seolah-seolah jujur padahal busuk baunya
Seolah-olah kita percaya padahal hanya pura-pura tuli dan buta
Jangan begitu teman
Distorsi di negeri ini bukanlah hal yang tabu
Lantas kenapa kamu terkesan tidak tahu
Atau kamu sudah disuapi daun biru
Daun biru akan habis setapak jalan hidup
Tapi integritasmu akan membimbingmu sepanjang hidup
Karena itu, buka mata dan telinga
Telusuri sosial media
Kabar distorsi ada dimana-mana
Lalu, dedikasikan waktumu, tenagamu. dan pikiranmu
Untuk ikut andil merenovasi
Dari distorsi menjadi inovasi dengan nilai kreativitas yang tinggi

Aku termenung akan banyak hal
Bernostalgia akan pelajaran sejarah di sekolah menengah
Perjuangan pahlawan memperjuangkan kemerdekaan
Sampai nyawa dipertaruhkan
Tak bisa hanya jadi pelengkap kurikulum saja
Sejarah sarat makna
Bagian pedoman dalam menjalani kehidupan berbangsa
Kenapa kita harus diam menyaksikan distorsi negeri kita tercinta

Distorsi negeri
Negeriku Indonesia
Sudah lama terjadi
Sekarang ini, malah semakin menjadi-jadi
Semua kabar menjadi ambigu
Semua persoalan seolah tak ada batas benar atau palsu
Sekat kebenaran dan kebohongan tak terlihat lagi
Semakin hari, semakin bias

Distorsi negeriku, Indonesia
Negeri yang kaya bahasa, suku, budaya
Luas lautannya
Menjulang pegunungan di nusantara
Sawah yang terhampar dari kota sampai pelosok desa
Pantai indah yang membuat mata menjadi manja
Tak bisa dimanfaatkan semampunya
Karena ulah para pendistorsi
Mendistorsi negeriku, negeri kita, Indonesia

Ketika malam merangkak sunyi
Dari kebisingan negeri
Aku lamat dalam kesendirian
Larut dalam pertanyaan
Sampai kapankah distorsi ini berakhir
Benarkah hingga kabut akhir nanti
Baru mata mereka terbelalak
Sadar tak ada keabadian yang sejati di dunia ini
Semua berdalih dan berkata, “itu bukan distorsi”

Distorsi negeriku, Indonesia
Semoga tak mewabah lebih leluasa

Penulis bernama Rinatul Mauzirah mahasiswa FMIPA Program studi Kimia USK angkatan 2018. Ia juga aktif di UKM Pers DETaK Universitas Syiah Kuala.

Editor: Della Novia Sandra