Beranda Cerpen Subuh Kala Itu

[DETaR] Subuh Kala Itu

BERBAGI
Ilustrasi. (Akmal Musopa Siregar/DETak).

Cerpen | DETaK

Malam itu kota terasa lebih riuh dari biasanya. Lampu-lampu jalan bersinar terang seperti
bintang yang jatuh ke bumi. Angin dini hari berembus lembut, menenangkan siapa pun yang
menghirupnya. Memang begitulah khas Ramadan, heningnya berbeda, damainya terasa
lebih dalam.

“Drrrtt… Drrrrtt… Drrttttt…”
Ponsel Abdi bergetar, memecah lamunannya.

Iklan Souvenir DETaK

“Di, nanti malam sahur on the road kita?” ucap Raven penuh semangat.
Abdi tersenyum sendiri dalam kamar yang remang. “Gas lah, mana nih kita,” balasnya ringan,
tanpa berpikir panjang.

Tak butuh waktu lama, lima serangkai yang dikenal sebagai “biang onar” yaitu Abdi, Raven,
Sam, Juan, dan Reza berkumpul di pusat kota. Motor-motor mereka berderet, suara knalpot
bersahut-sahutan memecah sunyi malam; sunyi yang pada saat bersamaan diisi oleh para
ahli ibadah yang menundukkan kepala, membaca Al-Qur’an, mengharap ridha Illahi.
Namun mereka tertawa keras, bercanda tanpa henti, merasa malam itu sepenuhnya milik
mereka tanpa sedikitpun mengingat bahwa mereka hanya menumpang hidup di bumi yang
diciptakan untuk menyembah Sang Maha Pencipta.

Mereka berkeliling kota, membelah jalanan yang lengang. Dari satu tempat ke tempat lain,
hingga akhirnya berhenti di jembatan. Mereka membeli nasi bungkus untuk sahur di warung
pinggir jalan, makan sambil membuat video dan foto untuk media sosial seakan mengabari
ribuan pengikut lebih penting daripada memenuhi panggilan Tuhan. Tawa mereka pecah
berkali-kali, merasa seolah hidup akan selamanya, tanpa pernah benar-benar memikirkan
bahwa kematian selalu berjalan diam-diam di belakang mereka.

“Ramadan tahun ini seru banget, bjirrr,” kata Sam sambil tertawa.

“Yang penting vibes-nya,” sahut Raven santai.

Vibes nongkrong maksudnya,” timpal Juan.

Mereka tertawa bersama sambil siaran langsung, bangga dengan kelakuan mereka sendiri.
Tak ada yang berbicara tentang ibadah. Tak ada yang saling mengingatkan.
Waktu berjalan begitu cepat ketika diisi dengan kelalaian. Tiba-tiba suara adzan subuh
berkumandang dari berbagai arah sangat lembut, syahdu, menggetarkan jiwa bagi mereka
yang takut kepada Tuhannya. Namun bagi mereka, itu hanya suara latar yang lewat begitu
saja. Tidak ada getar di hati mereka. Semua terasa seperti angin lalu.

“Udah subuh, pulang yuk. Ngantuk nih,” kata Reza sambil menguap.
Mereka pulang dengan tubuh lelah dan hati yang hampa. Jiwa mereka terasa kosong, seakan
kehilangan cahaya yang seharusnya mengisi malam Ramadan.

Setibanya di rumah, Abdi langsung menjatuhkan diri ke kasur. Dari luar kamar, terdengar
suara lembut ibunya.
“Abdi, sudah subuh. Salat dulu, Nak.”

“Iya, sudah tadi di masjid. Ribut banget sih, mak?” jawabnya kesal.

“Masha Allah nak, yuk ngaji bareng mamak,”

Abdi berdecak kesal, “mak, aku ngantuk. Nanti saja ihh,” geramnya.

Sajadah terlipat rapi di sudut kamar. Ia meliriknya sekilas dan untuk pertama kalinya, ia
berani berbohong atas nama Tuhan.

“Nanti aja… ngantuk banget. Lagian mamak juga nggak tahu,” gumamnya pelan.
Matanya pun perlahan terpejam.

Bruukk!

Ia terjatuh.

Bukan ke dalam tidur yang nyaman, melainkan ke ruang luas tanpa ujung. Gelap. Sunyi.
Udara terasa berat dan panas, membuat seluruh tubuhnya merinding.
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat mengerikan seperti desis logam membara.

Sssshhhraaaatttt…

Dari kejauhan, sebuah besi panjang menyala merah pekat seperti bara api berjalan
mendekat. Panasnya terasa bahkan sebelum menyentuh kulitnya.
“Apa ini…?” suara Abdi gemetar.

Tanpa peringatan—

SRAKK!

Besi itu mencambuk punggungnya.

Jeritannya memecah kehampaan. Rasa sakitnya luar biasa. Kulitnya melepuh dalam sekejap,
dagingnya seperti terbelah, bau hangus memenuhi udara.

“Ampun! Ampun ya Allah! Sakit… aku tidak kuat!” teriaknya.

Namun cambukan kedua datang. Lalu ketiga. Keempat. Tubuhnya hancur, kulitnya
mengelupas, darah bahkan menguap sebelum sempat mengalir karena panas yang tak
terperi. Setiap kali tubuhnya remuk, tubuhnya kembali utuh hanya untuk dihancurkan lagi.
Ia menangis, meronta. Namun siapa yang dapat menolongnya? Teman-temannya yang
tertawa semalam? Ibunya yang ia bohongi? Atau sajadah yang ia abaikan?

“Aku cuma nongkrong… aku cuma ketawa… aku minta maaf…”

Dalam gema ruang itu, seolah ada suara yang menjawab tanpa kata:
Kelalaian tetaplah kelalaian.
Kau mengabaikan panggilan untuk bersujud kepada-Ku.
Kau bersikap seolah-olah kau tidak membutuhkan-Ku.
Ia teringat adzan subuh yang ia abaikan. Ia teringat ibunya yang selalu berkata, “Jangan
tinggalkan salat, Nak. Puasa tanpa salat itu kosong.” Ibumu tak dapat menolongmu jika
engkau sendiri tidak mau menolong dirimu dengan taat kepada Tuhanmu.
Tawa semalam bergema di kepalanya, kini terdengar seperti ejekan. Air matanya jatuh deras.
Cambukan itu kembali menghantam.

“Aku menyesal! Aku salah! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Tolong beri aku kesempatan!”
suaranya parau.

Penyesalan itu lebih menyakitkan daripada cambukan. Ia menggerogoti hatinya, menusuk
relung jiwanya.

Dalam derita yang berulang itu, ia menyadari bahwa ini bukan sekadar hukuman, ini
peringatan. Ia diperlihatkan akibat kelalaiannya sebelum semuanya benar-benar terlambat.

“Aku mau berubah! Aku mau salat! Ampuni aku!” teriaknya.

Tiba-tiba semuanya berhenti.

Gelap berubah menjadi hening.

Abdi terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya gemetar hebat, basah oleh keringat.
Jantungnya berdegup keras. Ia memegang punggungnya. Tidak ada luka. Tidak ada bekas terbakar. Namun rasa perih itu masih hidup dalam ingatannya.

Dari luar kamar terdengar suara ibunya melantunkan Al-Qur’an. Suara itu lembut, namun
menusuk hatinya. Ia teringat ayat yang sering ia dengar:

“…Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS.
Al-Ma’un: 4–5)

Ia melirik jam. Subuh telah lama berlalu, bahkan waktu dhuha hampir habis.
Air matanya menetes. Ini Ramadan. Bulan ampunan. Bulan rahmat. Tapi ia memilih lalai.
Ia bangkit perlahan. Langkahnya linglung. Rasa takut masih membekas, namun lebih dari itu,
rasa malu menyelimuti dirinya malu kepada Tuhan, malu kepada dirinya sendiri, dan malu
kepada ibunya.

Ia mengambil wudhu. Air yang menyentuh wajahnya bercampur dengan air mata. Seolah
membasuh kesombongan dan kelalaiannya. Ia membentangkan sajadah.
Kali ini sujudnya berbeda. Ia sesenggukan.

“Ya Allah… aku lalai. Aku sibuk dengan dunia kecilku. Jangan Engkau cabut nyawaku saat aku
seperti tadi malam…”

Tangisnya pecah.
Ia sadar, jika kematian datang saat ia tertidur tanpa salat, apa yang bisa ia jawab?

Ponselnya bergetar. Grup “Biang Onar” kembali ramai.

Raven: “Malam ini lanjut gak? Kemarin seru banget coii.”

Juan: “Bikin lagi konten dong! Sambil live, dapat saweran!”

Abdi menatap layar itu lama. Bayangan besi panas kembali terlintas. Ia bergidik.
Tangannya gemetar saat mengetik:

“Skip dulu. Mau fokus ibadah. Jangan tinggalin salat, guys.”

Beberapa detik hening. Emoji tertawa muncul. Stiker ledekan juga menyusul.
Dulu ia akan ikut tertawa. Kini tidak. Ia meletakkan ponselnya dan mengambil mushaf yang berdebu tipis. Huruf-huruf itu terasa berbeda pagi itu, terasa lebih hidup, lebih menenangkan.
Hari itu ia menjalani puasanya dengan hati yang baru. Setiap adzan berkumandang, dadanya
bergetar. Bukan hanya karena takut, tetapi karena sadar bahwa kesempatan untuk taubat
masih ada.

Ia tak ingin menunggu penyesalan yang datang ketika semuanya benar-benar terlambat.
Karena ia telah merasakan, walau hanya dalam mimpi, betapa pedihnya cambukan azab.
Dan ia tak ingin merasakannya dalam kenyataan saat tak ada lagi kesempatan untuk berkata,
“Aku menyesal.”

Penulis bernama Zikni Anggela, Mahasiswi Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila