
Zalifa Naiwa Belleil & Defi Ulantari | DETaK
Darussalam–Himpunan Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menggelar EMPATI 2026 di SOS Children’s Village Banda Aceh, 12–13 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menghadirkan berbagai kegiatan psikologi dan kesehatan bagi anak-anak, remaja, ibu asuh, serta staf SOS Children’s Village.

Pada hari pertama, kegiatan meliputi pemeriksaan kesehatan, pojok konseling, pelatihan seni ekspresif bagi anak, serta ruangku ceritaku bagi remaja. Sementara pada hari kedua, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan konseling kelompok, sharing and support group, psikoedukasi manajemen emosi bagi anak, psikoedukasi relasi sehat dan pergaulan remaja, serta outbound. Pemeriksaan kesehatan yang diberikan meliputi pengecekan tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol.
Ketua Pelaksana EMPATI 2026, Teuku Muhammad Thariq Syah Banta, mengatakan kegiatan tersebut merupakan program kerja tahunan Himpunan Mahasiswa Psikologi yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu psikologi secara langsung kepada masyarakat.
“Mahasiswa Psikologi tentunya ilmunya diaplikasikan ke masyarakat. Di kegiatan EMPATI inilah kesempatan kami untuk turun langsung ke lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, EMPATI 2026 mengusung tema “Merasa Menumbuh Bersama di Lembah Asa”. Tema tersebut menggambarkan harapan agar kegiatan dapat menjadi ruang yang menyenangkan dan nyaman bagi para peserta.
Berbeda dari tahun sebelumnya, EMPATI 2026 dilaksanakan di lokasi yang berbeda. Menurut Thariq, lokasi kegiatan ditentukan melalui survei untuk melihat kebutuhan dan fenomena yang dapat dibantu melalui pendekatan psikologi.
“Ketika kami survei ke SOS ini, ada fenomena-fenomena yang bisa dibantu dengan psikologi, jadi kami memilih SOS,” katanya.
Direktur SOS Children’s Village Banda Aceh, Rinaldi Hasan, mengapresiasi kegiatan mahasiswa tersebut. Ia mengatakan SOS Children’s Village terbuka terhadap kegiatan mahasiswa selama program yang diberikan sesuai dengan kebutuhan lembaga dan memberikan dampak bagi penerima manfaat.
“Kami membuka diri untuk semua mahasiswa berkegiatan, tapi pada intinya adalah melihat kebutuhan. Jadi jangan buat kegiatan yang tidak dibutuhkan, tetapi tolong dikaji dulu kebutuhannya,” ujarnya.
Salah satu peserta pemeriksaan kesehatan, Murni Hasan, mengaku terbantu dengan kegiatan tersebut karena dapat mengetahui kondisi kesehatannya secara gratis.
“Acara ini sangat berguna buat saya. Kalau tidak, harus pergi ke rumah sakit atau klinik dan harus bayar. Kalau ini gratis, kita bisa tahu hasilnya,” tuturnya. []
Editor: Nasywa Nayyara Tsany









