Beranda Cerbung Green Inside Out: Chapter 2

Green Inside Out: Chapter 2

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah | DETaK)

Cerbung | DETaK

Kesal. Sangat mengesalkan. Itulah yang ada dihati Lyn saat ini. Bukan tanpa sebab Lyn merasa seperti itu. Hal yang menyebabkan ia kesal tak lain tak bukan ialah tembikar-tembikarnya. Tembikar-tembikar karya saat ini mengalami crack saat final firing yang berarti semua kerja kerasnya telah terbuang. Kejadian crack itu sendiri dalam bidang pottery merupakan hal lumrah. Lyn sendiri telah menghadapi banyak kejadian crack dalam hampir 20 tahun ia melakukan pottery. Bahkan, sekalipun Lyn telah melakukan setiap tahap dengan benar, cracking dalam firing sendiri merupakan kejadian yang sering terjadi. Namun, yang membedakan crack saat ini dan crack sekarang ialah berbeda.

Sebabnya, kejadian crack ini ialah murni akibat kebodohannya sendiri. Lyn yang terburu-buru menciptakan tembikar-tembikar baru, membuka oven ketika masih panas, yang merupakan big NO dalam proses firing. Hal ini menyebabkan tembikar crack, akibat terjadinya perubahan suhu secara mendadak, yang sering dialami oleh artist pottery pemula, yang seperti kita hampir mustahil tidak diketahui oleh Lyn, yang telah berkecimpung di dunia ini selama hampir lebih 20 tahun.

Iklan Souvenir DETaK

Setelah menggerutu beberapa saat, Lyn-pun mengambil tembikar-tembikar ciptaannya untuk disortir, yang ternyata merupakan tindakan yang salah. Bukannya membuat Lyn makin tenang, Lyn merasa kesabarannya semakin diuji, karena semua tembikar yang dia keluarkan memiliki crack, baik kecil maupun besar. Yang berarti ia tidak dapat mengunakannya. Lyn-pun hanya dapat membuang semua tembikar yang baru ia keluarkan dari oven.

Kemudian, Lyn-pun duduk mengistirahatkan dirinya. Lyn sangat kelelahan akibat membuat beberapa tembikar baru ditambah ia juga menunggu proses firing selesai, dimana sangatlah menguras kekuatan fisik maupun mental dirinya. Sambil menumpulkan energi dengan memejamkan mata, Lyn hanya bisa bersenandung kecil, mengenang masa-masa ketika ia berada di atas es. Lyn masih ingat dengan jelas perasaan ketika berdiri disana. Suhu dingin yang menusuk dari tempat ia berpijak. Sensasi licin yang ia rasakan ketika berseluncur di atas es. Rasa pusing yang ia alami ketika melakukan spin. Keletihanya ia hadapi ketika melatih jump miliknya. Ah, terlalu banyak hal yang ia telah lalui untuk dapat bersinar diatas es.

Lyn yakin bukan hanya ia saja yang mengalami semua rasa sakit untuk dapat menjadi seorang figure skating yang memukau. Semua figure skating telah mengalami hal yang sama. Namun entah mengapa, meski dengan keadaan yang menakutkan, latihan yang menyiksa, hingga tekanan yang menyesakkan. Lyn terus maju. Mungkin karena biaya yang mahal, waktu yang telah tercurah, dan keinginan untuk menjadi primadona, memutuskan untuk terus berjalan ke depan.

Jika ditanya dengan jujur apakah Lyn pernah berfikir untuk menyerah? Maka jawabannya adalah pernah. Bahkan bukan hanya sekali Lyn berfikiran seperti itu namun, berkali-kali. Ketika ia jatuh dari jump berkali-kali hingga mengalami masalah lutut, ketika ia pusing akibat spin hingga muntah, ketika ia menangis atas perkataan jahat dari coach-nya. Setiap masa sulit yang ia hadapi untuk dapat menjadi seorang figure skating primadona, selalu membuatnya berfikir ‘Apakah ia harus menyerah saja?’. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Lyn tersebut tentu telah dijawab dengan medali-medali yang ia bawa pulang.

Medali-medali tersebut menjadi bukti kesuksesannya dia bidang ice skating. Bukti bahwa latihan keras terbayarkan, bukti rasa sakit yang ia alami tidak lah sia-sia. Bukti bahwa ia telah bersinar ketika di atas es. Telah. Itu kuncinya. Lyn telah bersinar semasa ia dulu di atas es. Jika dibandingkan dengan sekarang? Lyn-pun menghembus nafas kasar sambil membuka matanya, memaksakan dirinya untuk fokus ke tembikar-tembikarnya yang belum ia kerjakan.

Lyn bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah sebuah tembikar, tembikar yang menjadi the only survivor dalam proses firing yang sangat kacau tadi. Lyn merasa bingung bagaimana bisa sebuah tembikar selamat dari kekacauan itu. Lyn semakin merasa bingung ketika melihat tembikar yang selamat. Tembikar tersebut memiliki pola ombak vertikal miring serta memiliki satu pegangan seperti cangkir disatu sisinya. Mungkin ini merupakan takdir bahwa tembikar yang selamat merupakan tembikar yang terinspirasi dari dia.

Sebenarnya, Lyn tidaklah ingin melanjutkan pengerjaan tembikar tersebut, ia berniat meninggalkan tembikar tersebut di proses firing. Namun, apalah daya ketika tembikar-tembikar yang ia rencanakan akan lanjut ke proses glazing malah hancur semua, menyisakan satu tembikar yang direncanakan tidak masuk ke dalam proses glazing. Lyn mengurut dahi sebelum akhirnya mengambil tembikar itu dan melakukan proses glazing padanya.

“Ah, selamat datang! Anda ingin mengambil pesanan atas nama Verto, bukan? Saya letakkan ditempat biasa buketnya,” ucap Lyn dengan gugup ketika melihat pria berambut blonde tersebut muncul. Seperti biasa, pria bernama Verto tersebut, berjalan kearah buket bunga pesanannya dan menyerahkan 10 rubel, yang menandakan ia memesan 2 buket lagi. Buket dengan bunga lily ungu dan peony merah muda untuk ibunya, coach Margaret serta buket yang berisi bunga hydrangae dan chamomile, untuk dirinya.

Biasa pria tersebut berjalan keluar tanpa sepatah kata apapun setelah menaruh 10 rubel di depan Lyn, dan Lyn hanya bisa terdiam di tempat tidak melakukan apapun. Namun, kali ini berbeda. Sebelum sempat ia beranjak keluar, Lyn dengan cepat memegang lengan pria tersebut dan menariknya, membuat pria tersebut berhenti dan berbalik melihat Lyn dengan mengerutkan keningnya. Lyn yang tidak berencana melakukannya dengan sekeras itu pun hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa canggung dan malu. Setelah beberapa saat, Lyn tidak berkata apapun akibat masih merasa canggung dan malu. Sementara, pria tersebut semakin mengerutkan keningnya, jelas tidak sabar dan sedikit tersinggung, sebelum akhirnya mencoba melepaskan cengkraman Lyn di lengannya.

Lyn-pun yang akhirnya tersadar bahwa ia masih mengcengkram tangan pria tersebut menjadi semakin malu, melihat Lyn yang malu pria dengan tidak sabar bertanya

“ada yang bisa saya bantu?” suara Verto terdengar kesal dan sarkastik membuat Lyn merasa bersalah dan malu. Tanpa pikir panjag Lyn-pun mengambil box yang berisi tembikar buatannya, yang disambut dengan tatapan kebingungan pris itu.

Melihat Verto kebingungan, Lyn berkata “Saya berniat menjual tembikar juga bersamaaan dengan buket bunga, tembikar yang saya berikan kepada anda adalah karya saya, karena ibu anda adalag customer tetap saya. Saya memberikan satu secara khusus. Saya harap ibu anda menyukainya” ucap Lyn dengan cepat menjelaskan alasan dibalik tembikar yang diberikkanya.

Hal yang Lyn kata ialah fakta, Lyn berniat memberikannya tembikar kepada coach Margaret. Namun, sebaliknya punya coach Margaret telah hancur di proses firing  terakhirnya, dan untuk menggantikannya ia memberi tembikar Ocean depth kepada Verto. Yep tembkar tersebut memilii nama yang diberikkan kepadanya, Ocean depth. Tembikar tersebut memiliki nama tersebut karena warnanya. Warna biru gelap seperti gelapnya laut di malam hari. Warna yang sangat cantic dan powerfull siap menenggelamkan pandangan seseorang ke dalamnya. Sangat cocok dengan Verto yang memiliki mata biru yang memikat orang tanpa disadari.

Jujur, Lyn tidak berharap Verto akan menerima tembikarnya. Namun, diluar dunggan Vertopun menraih box tersebut dan membawanya mengeluari toko. Lyn kembali terdiam untuk yang kesekian kalinya ketika berhadapan dengan Verto, akhir tersenyum senang dan kembali menlanjutkkqn langkahnya ke lobby.

-Bersambung-

Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala

Editor: Zikni Anggela