Beranda Opini Vasektomi dan Perlawanan terhadap Patriarki

Vasektomi dan Perlawanan terhadap Patriarki

BERBAGI

Opini | DETaK

Dalam masyarakat yang masih kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarki, beban tanggung jawab atas fungsi reproduksi secara tidak adil lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Sejak usia remaja, perempuan dituntut untuk memahami dan mengatur siklus haid, mengenali masa subur, serta mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kehamilan. Mereka pula yang secara fisik dan mental harus menanggung konsekuensi dari penggunaan alat kontrasepsi, seperti pil, suntik hormonal, implan, dan intrauterine device (IUD).

Alat-alat kontrasepsi ini, meskipun umum digunakan, seringkali membawa berbagai efek samping seperti ketidakseimbangan hormon, perubahan berat badan, siklus menstruasi yang terganggu, flek pada wajah, hingga gangguan emosional yang tidak jarang mengganggu kualitas hidup perempuan. Ironisnya, sebagian dari metode ini bahkan tidak sepenuhnya efektif dalam mencegah kehamilan, yang semakin memperberat beban mereka.

Iklan Souvenir DETaK

Sementara itu, laki-laki cenderung tetap berada dalam posisi pasif terhadap isu kontrasepsi dan partisipasi yang sangat minim. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2022 mencatat bahwa lebih dari 97% pengguna alat kontrasepsi di Indonesia adalah perempuan. Sebaliknya, kontribusi laki-laki hanya sekitar 2,5%, dan dari angka itu pun sebagian besar menggunakan kondom—bukan vasektomi. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vasektomi merupakan metode kontrasepsi yang paling efektif dengan tingkat keberhasilan di atas 99%. Metode ini juga jauh lebih aman, murah, dan minim efek samping dibandingkan metode hormonal yang digunakan perempuan.

Kesenjangan ini menunjukkan adanya ketimpangan struktural dalam pembagian tanggung jawab reproduksi yang seharusnya menjadi urusan bersama. Kurangnya keterlibatan laki-laki dalam penggunaan kontrasepsi tidak hanya mencerminkan ketidakadilan gender, tetapi juga memperlihatkan kegagalan sistem sosial dan pendidikan dalam membentuk kesadaran kolektif bahwa reproduksi adalah tanggung jawab kedua belah pihak. Oleh karena itu, penting untuk mendorong wacana yang lebih progresif tentang kesetaraan reproduktif, termasuk edukasi tentang kontrasepsi bagi laki-laki dan normalisasi tindakan seperti vasektomi sebagai bentuk partisipasi aktif mereka dalam menjaga kesehatan reproduksi bersama.

Sayangnya, angka adopsi vasektomi di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini tak lepas dari stigma sosial yang kuat, vasektomi dianggap sebagai ancaman terhadap “kejantanannya”. Masyarakat kita masih mengaitkan maskulinitas dengan kemampuan membuahi, seolah-olah esensi menjadi laki-laki terletak pada potensi reproduksi, bukan pada tanggung jawab terhadap hasil reproduksi itu sendiri.

Ironisnya, ketika seorang perempuan menggunakan kontrasepsi hormonal selama bertahun-tahun dan mengalami gangguan kesehatan seperti perubahan mood, kenaikan berat badan, bahkan risiko penyakit reproduksi, hal itu dianggap wajar. Tapi saat seorang laki-laki menyebut kata “vasektomi”, reaksi sosialnya seringkali berlebihan, diolok, dianggap kehilangan ‘kejantanan’, bahkan dituduh dikendalikan pasangannya.

Inilah wajah patriarki yang paling nyata. Tubuh perempuan dianggap sebagai tempat paling sah untuk menanggung risiko dan konsekuensi seolah-olah kehamilan, kesehatan reproduksi, bahkan penderitaan fisik adalah bagian dari ‘takdir biologis’ yang harus diterima tanpa protes. Dalam logika yang timpang ini, perempuan dituntut untuk memahami tubuhnya secara mendalam, mengatur siklus suburnya, dan menyesuaikan diri dengan alat kontrasepsi yang sering kali membawa efek samping jangka panjang.

Sementara laki-laki, meski menjadi bagian tak terpisahkan dari proses reproduksi, justru dilindungi dari segala bentuk ketidaknyamanan. Kontrasepsi, dalam banyak kasus, menjadi beban yang dimonopoli perempuan, bukan keputusan yang dibagi secara adil.

Ketika tubuh perempuan dijadikan ‘medan kompromi’, maka sistem reproduksi tidak lagi menjadi ranah kesetaraan, melainkan arena ketidakadilan yang disahkan oleh budaya dan dilanggengkan oleh norma. Perempuan didorong bahkan dipaksa secara sosial untuk menjadi pihak yang menanggung seluruh beban kontrasepsi, seolah-olah itu adalah kodrat yang tak bisa diganggu gugat. Mereka dianggap “lebih kuat”, lebih tahan terhadap perubahan hormon, lonjakan emosi, nyeri fisik, hingga potensi kerusakan jangka panjang seperti gangguan siklus haid atau bahkan infertilitas. Semua ini dibungkus dalam narasi mulia bernama ‘tanggung jawab’, namun tanpa pernah secara serius mempertanyakan tanggung jawab siapa sebenarnya?

Dalam praktiknya, tanggung jawab itu tidak dibagi, melainkan dibebankan secara sepihak kepada perempuan sebuah bentuk ketimpangan yang telah dinormalisasi. Laki-laki nyaris selalu berada di zona nyaman: tidak terganggu hormon, tidak dihadapkan pada risiko medis, tidak diminta untuk mengorbankan apa pun selain kesediaan memakai kondom yang bahkan sering dihindari. Ironisnya, ketika perempuan memikul seluruh konsekuensi biologis dan emosional dari kontrasepsi, kontribusi laki-laki justru dielu-elukan hanya karena ‘bersedia’ berdiskusi, seakan itu sudah cukup.

Di sinilah letak kegagalan sistem: ketika ketimpangan gender tidak hanya terjadi dalam struktur sosial, tetapi meresap hingga ke dalam rahim—secara harfiah dan simbolis. Ketika tubuh perempuan terus dijadikan arena kompromi, maka yang terjadi bukan hanya pengabaian hak-hak biologis, melainkan juga pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip keadilan reproduksi yang seharusnya berpihak pada keseimbangan dan pilihan bersama.

Padahal, laki-laki yang memilih vasektomi justru menunjukkan tingkat kesadaran dan empati yang tinggi. Ia paham bahwa perencanaan keluarga bukan hanya tanggung jawab istri, dan ia siap mengambil peran aktif tidak hanya dalam diskusi, tetapi dalam tindakan nyata. Ini adalah bentuk maskulinitas yang baru, bukan dominasi, melainkan komitmen nyata.

Beberapa negara seperti Kanada, Inggris, dan Belanda menunjukkan tren yang jauh lebih progresif. Menurut data dari Canadian Urological Association, vasektomi menjadi pilihan kontrasepsi utama bagi hampir 22% pasangan di Kanada, menunjukkan bahwa ketika stigma dihapus dan edukasi diberikan secara menyeluruh, laki-laki bersedia ambil bagian.

Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal partisipasi laki-laki dalam kontrasepsi jika dibandingkan dengan negara-negara yang telah lebih maju dalam membangun kesadaran gender. Salah satu indikator paling mencolok adalah rendahnya adopsi vasektomi—metode kontrasepsi permanen yang aman dan efektif—di kalangan laki-laki. Di Indonesia, vasektomi masih dikelilingi oleh tabu, stigma sosial, serta kesalahpahaman yang mengakar kuat dalam struktur budaya patriarki. Bagi banyak laki-laki, keputusan untuk melakukan vasektomi sering dipersepsikan sebagai bentuk kehilangan kendali atas tubuhnya, bahkan dianggap sebagai simbol kelemahan atau ‘penyerahan kuasa’, sebuah pandangan yang sesungguhnya lahir dari konstruksi maskulinitas yang sempit dan toksik.

Pandangan ini mencerminkan bagaimana laki-laki pun sesungguhnya menjadi korban dari sistem patriarki yang mereka warisi. Mereka dikondisikan untuk selalu menjadi dominan, subur, dan berkuasa atas keputusan reproduksi, sehingga langkah-langkah yang menunjukkan kesetaraan dan tanggung jawab bersama justru dianggap sebagai ancaman terhadap peran sosial mereka. Dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi citra “kepala keluarga” sebagai otoritas absolut dalam rumah tangga, peran aktif laki-laki dalam urusan kontrasepsi sering kali dilihat sebagai penyimpangan dari norma gender tradisional.

Akibatnya, wacana tentang vasektomi kerap tidak mendapatkan ruang yang layak. Ketika topik ini muncul, respons publik cenderung ditandai oleh tawa sinis, penolakan emosional, hingga rasa takut yang bukan disebabkan oleh risiko medis, melainkan oleh ancaman terhadap ego sosial. Kekhawatiran bukan pada fungsi biologis, tetapi pada persepsi kehilangan jati diri sebagai laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa resistensi terhadap vasektomi bukan bersifat personal semata, melainkan merupakan manifestasi dari konstruksi budaya yang menjadikan dominasi reproduksi sebagai bagian dari identitas maskulin.

Untuk itu, upaya edukasi dan normalisasi peran laki-laki dalam kontrasepsi harus menjadi agenda sistemik dan berkelanjutan, tidak hanya bersifat wacana, tetapi tertanam dalam kebijakan, kurikulum pendidikan, layanan kesehatan, hingga narasi besar media. Pendidikan seks yang komprehensif sejak dini perlu memasukkan perspektif kesetaraan gender dalam isu reproduksi—bukan semata-mata menekankan peran perempuan sebagai penjaga moralitas, tetapi membentuk kesadaran bahwa kontrasepsi adalah tanggung jawab bersama yang berbasis pada rasa hormat, kesetaraan, dan kemitraan.

Layanan kesehatan harus didesain ulang agar inklusif terhadap laki-laki, menyediakan informasi dan fasilitas kontrasepsi pria—termasuk vasektomi—dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Tenaga medis perlu dilatih untuk membongkar stigma yang melekat pada tubuh laki-laki sebagai simbol dominasi, agar tidak memperkuat pandangan usang bahwa kontrasepsi pria adalah bentuk ‘pengebirian maskulinitas’.

Lebih dari itu, kampanye publik yang progresif harus mampu mendekonstruksi mitos-mitos patriarkal yang telah mengakar. Iklan, konten media sosial, film, dan karya budaya lainnya harus dilibatkan dalam mengubah cara pandang kolektif tentang peran laki-laki dalam kesehatan reproduksi. Kita perlu membentuk narasi baru: bahwa laki-laki yang berani memilih vasektomi atau sekadar berkontribusi aktif dalam pengendalian kelahiran bukanlah sosok lemah, tetapi justru cerminan maskulinitas yang matang, penuh tanggung jawab, dan sadar akan keadilan.

Menggeser narasi ini bukan hanya tentang meredakan beban yang selama ini secara tidak adil ditanggung perempuan, tetapi juga tentang membebaskan laki-laki dari jerat maskulinitas toksik yang mengekang mereka untuk menjadi manusia seutuhnya. Ini adalah perjuangan untuk hak tubuh, untuk otonomi, dan untuk dunia yang lebih setara di mana reproduksi bukan lagi ranah eksklusif perempuan, melainkan panggung kolaboratif yang dibangun atas dasar kesadaran, empati, dan keberanian untuk berubah.

Namun, gerakan menuju kesetaraan harus dimulai, sekecil apa pun langkahnya. Vasektomi bukan ancaman bagi maskulinitas ia adalah ekspresi tanggung jawab, empati, dan cinta yang matang. Laki-laki yang memilih langkah ini bukan sedang menyerah, tetapi sedang menunjukkan keberanian untuk membebaskan pasangannya dari beban reproduksi yang tidak adil. Mereka bukan kehilangan kendali, melainkan mengambil kendali secara sadar atas peran mereka dalam hubungan yang setara.

Sudah waktunya percakapan tentang kontrasepsi tidak lagi dibingkai sebagai beban biologis dan moral yang otomatis diwariskan kepada perempuan. Sudah saatnya kita membongkar narasi lama yang memosisikan perempuan sebagai satu-satunya penjaga gerbang reproduksi, sementara laki-laki dibiarkan berada di pinggiran, pasif, dan acuh. Percakapan ini harus bergeser dari dominasi menjadi kolaborasi, dari pengabaian menjadi partisipasi.

Laki-laki harus hadir bukan hanya sebagai pasangan biologis, tetapi sebagai sekutu yang setara dalam setiap keputusan tentang tubuh, masa depan, dan kehidupan bersama. Menjadi sekutu berarti memahami bahwa cinta dan kepemimpinan sejati tidak lahir dari dominasi atau keengganan memikul tanggung jawab, melainkan dari keberanian untuk berbagi beban, dari kesadaran bahwa keadilan dimulai di rumah, di ranjang, dan di setiap percakapan tentang pilihan hidup.

Di tengah dunia yang masih condong pada ketimpangan gender, pilihan laki-laki untuk menjalani vasektomi bukanlah tindakan ekstrem atau mencederai maskulinitas, melainkan simbol perubahan: sebuah keputusan personal yang membawa dampak kolektif. Vasektomi menjadi representasi konkret dari kemauan untuk meruntuhkan norma usang yang selama ini menempatkan tubuh perempuan sebagai arena pengorbanan tanpa henti. Ini adalah langkah kecil, ya, tapi langkah yang mengguncang fondasi patriarki. Langkah yang memberi ruang bagi perempuan untuk bernapas, dan bagi laki-laki untuk tumbuh sebagai mitra yang adil, bukan sekadar penonton dalam urusan yang seharusnya ditanggung bersama.

Dengan memilih untuk terlibat aktif dalam kontrasepsi, laki-laki sedang ikut menulis ulang definisi cinta, tanggung jawab, dan keberanian. Ini bukan hanya soal tubuh, tapi soal peradaban.

Penulis bernama Amanda Tasya, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila