Opini | DETaK
Senioritas dalam dunia kampus merupakan sesuatu yang lazim adanya, baik dari aktivitas akademik maupun di luar akademik misalnya organisasi. Senior dianggap orang yang terlebih dahulu merasakan pahit dan manisnya kehidupan kampus. Lazimnya senior identik dengan penokohan akan identitasnya, baik itu idealismenya, pola pikir serta perangainya.
Dalam dunia kampus, tentu ketika ada yang diseniorkan pasti ada juga yang namanya junior. Junior sendiri merupakan tingkatan di bawah senior dalam dunia kampus, junior yang notabenenya orang yang baru masuk kampus tentunya perlu adanya bimbingan dan pembelajaran dari senior, dalam hal ini biasanya senioritas berbentuk mentoring tidak formal maupun formal melalui kegiatan keorganisasian.
Lazimnya istilah senior dinisbatkan sebagai mahasiswa yang lebih dahulu masuk ke kampus, sementara dari sisi lain terdapat pandangan bahwa seseorang dianggap lebih senior diukur pada sisi keilmuannya bukan pada leting atau umurnya secara mutlak. Bagaimanapun realitas yang terjadi mayoritas senior hampir selalu diukur dari segi angkatan masuk (leting).
Senior dianggap sebagai patron bagi juniornya dalam aktivitas kampus, misalnya untuk urusan akademik. Tentu saja senior yang dianggap memiliki pengalaman yang setingkat lebih di atas juniornya ketika di kampus, dan tentunya junior akan mempertanyakan tentang pengalaman atau materi-materi yang mereka perlu ketahui atau belum mereka pelajari sama sekali.
Patron secara ideal merupakan sesuatu yang dianggap sebagai teladan, secara ideal patron tidak selalu dipandang sebagai subjek orang dalam hal ini merupakan senior, namun patron bisa juga menjadi sebuah perangai/sifat. Patron bagi mahasiswa adalah kebijaksanaan, senior hanyalah refleksi dari perangai yang ada. Syukur ketika sang junior mendapati senior yang mencerminkan kebijaksanaan, namun menjadi sebuah kecelakaan apabila junior mendapatkan senior yang sama sekali tidak mencerminkan kebijaksaan dalam dirinya.
Selain untuk urusan akademik, biasanya nomenklatur senior juga terdapat di dunia organisasi misalnya di Organisasi Mahasiswa (Ormawa), senior percaya bahwa dalam meregenerasi tubuh organisasi maka perlu generasi yang akan menggantikannya di organisasi.
Maha-Benar Senior dengan Segala Doktrinasinya

Ada beberapa kalimat klise yang mungkin sering kita dengar, yaitu pasal 1: Senior tak pernah salah, dan pasal 2: Apabila senior salah maka kembali pada pasal 1. Tentunya hal ini merupakan sesuatu yang ketinggalan zaman, namun sudah menjadi kebiasaan yang dilontarkan oleh senior kepada juniornya meskipun bernada guyon. Namun, kebanyakan junior seakan segan dengan kalimat tersebut hingga seakan dibayang-bayangi ketakutkan ketika ingin melakukan sesuatu.
Sebagai junior yang bijak, paradigma senioritas harus direkontstruksi ulang, penyebutan kata senior yang awalnya dinilai dari aspek tunggal menjadi multi aspek penilaian, misalnya keilmuan, idealisme, dan sebagainya. Dogmatisasi senior terus mengalir, senior yang seakan-akan Maha-Benar senantiasa mendikte juniornya. Beberapa hal yang akan dirasakan oleh junior dengan harapannya bahwa kehadiran senior dapat membuat pola pikir lebih bijak dan nasihat dari senior tersebut berguna selagi juniornya menyandang gelar “mahasiswa”.
Realitas seniorisasi kampus sebagian berbentuk otoritarian, senior yang selalu ingin mengkaderisasi juniornya malah menjadi janggal, mulai dari sikap berkuasa sendiri dan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan senior akan diterima secara mentah oleh junior. Anehnya lagi, senior ingin mencetak dengan bentuk dan kapasitas yang sama semua dalam dunia kampus. Misal mahasiswa junior dilarang oleh seniornya untuk masuk ke organisasi lain selain dari organisasi yang disebutkan oleh senior.
Falsafah berdemokrasi dan bernegara dalam konteks kehidupan kampus tentunya akan terasa aneh ketika seorang junior yang hendak berproses dengan dan mungkin ingin menuju ke organisasi yang sesuai dengan minat dan bakatnya malah dihadang dan hanya boleh masuk ke organisasi yang hanya disebutkan oleh senior. Akhirnya mahasiswa sebagai junior yang berproses ibarat bak robot yang selalu digerakkan oleh otak dan hati senior. Sehingga diinterpretasikan bahwasanya senior kerap menjadi penentu nasib seorang junior. Dan pada akhirnya mahasiswa yang merasa dipaksa akan merasa ketidaknyamanan dalam berproses sehingga berpotensi menyebabkan human error. Dan pada akhirnya mahasiswa dibentuk dengan cetakan atau bentuk yang sama.
Apabila kita menelisik lebih dalam, bentuk keotoriteran bukan hanya bentuk pemaksaan, tetapi juga dalam hal rapat pengambilan keputusan di dalamnya. Misal sebuah organisasi mengadakan rapat dan mahasiswa junior yang ingin memberikan saran cenderung merasa inferior karena implikasi proses masuk ke sebuah organisasi melalui proses yang tidak ideal yaitu berbentuk pemaksaan kehendak senior.
Di samping itu dalam hal pegambilan keputusan, apabila junior telah memberikan saran dan disepakati oleh sebagian banyak peserta rapat, hampir kerap sekali keputusan yang pertama berpotensi dibatalkan apabila saran yang diberikan berasal dari mulut otak dan hati senior. Hal ini merupakan bentuk keotoriteran seorang senior yang acap kali mewarnai forum-forum musyawarah yang berakibat pada berubahnya konklusi sebuah rapat, sehingga rapat yang dilaksakan kerap terjadi penyusunan konsep ulang.
Syahdan, bentuk keotoriteran seorang senior terkadang menjadi agen propaganda bagi juniornya, senior biasanya acap sekali menggiring sebuah isu agar dapat diakomodir oleh juniornya. Bentuk penggiringan isu bisa jadi bermuara pada sebuah aksi atau apapun itu yang sebenarnya merupakan kepentingan dan kehendak seorang senior, sehingga junior akan selalu taat kepada senior tanpa menelaahnya terlebih dahulu.
Tentunya keotoriteran seorang senior haruslah digugat oleh junior sejak dalam pikiran, senioritas mesti ditafsirkan ulang dan kebiasaan mengagung-agungkan senior serta pengkultusan senior sebaiknya dihilangkan dari budaya berorganisasi. Kebiasaan-kebiasaan lama yang seakan menjadi belenggu haruslah digugat oleh junior. Dan junior tidak selamanya menjadi pemuas kehendak dari seorang senior.
Budaya kaderisasi merupakan sebuah keniscayaan, namun senior yang gagap selalu salah merespons junior ketika berbeda pendapat. Idealnya proses kaderisasi di kalangan mahasiswa harus menempatkan kebijaksanaan sebagai patron dan meletakkan nilai-nilai intelektualitas dalam setiap tindakan mahasiswa. Jika nilai intelektualitas tidak dapat ditampakkan maka esensi dan eksistensi mahasiswa itu patut dipertanyakan keberadaannya.
Pada akhirnya senioritas hanya menjadi ajang untuk junior melacurkan dirinya pada senior. Lantas yang diwariskan oleh senior tidak lain hanyalah berbentuk kesombongan, keegoan, dan dendam masa lalu. Sudah seharusnya junior merdeka dalam menentukan arahnya dan menilai senior bukanlah sebagai pemberi arahan. Pun senior demikian dengan menjadi senior harus memberikan bimbingan dan nasihat yang bijak kepada juniornya.[]
Penulis bernama T. Muhammad Shandoya, Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Syiah Kuala.
Editor: Indah Latifa










