Opini | DETaK
Mungkin, ada yang keberatan jika penulis menggunakan kata ‘ilusi’ dalam pemaknaan masa depan. Jika merujuk pada kaidah bahasa, ‘ilusi’ memiliki beberapa makna: 1) sesuatu yang hanya dalam angan-angan, 2) pengamatan yang tidak sesuai pengindraan, dan (3 tidak dapat dipercaya atau palsu. Makna ini merujuk pada pengertian kata ilusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Jika disederhanakan, kata ‘ilusi’ berarti hal yang tidak akan pernah terjadi. Ilusi pada konteks masa depan, penulis artikan sebagai delusi. Hal yang tak memiliki faedah, angan-angan yang tak pernah tercapai. Penulis tidak keberatan jika dicap sebagai orang yang tidak percaya terhadap masa depan, that’s okey.

Namun, penulis ingin mengajukan sebuah pertanyaan, apa landasan konkrit jika masa depan bukan sebuah ilusi? Mungkin, beberapa orang akan menjawab, “Masa depan adalah hal yang pasti”, yang lain ikut menambahkan, “Masa depan adalah suatu keniscayaan”, jawaban yang mungkin lebih kompleks, “Masa depan adalah sesuatu hal yang akan terjadi dalam kehidupan manusia, masa depan adalah keharusan bagi manusia, mau tidak mau, masa depan akan menghampiri setiap manusia”. Dan penulis mengajukan pertanyaan yang fundamental, “Adakah yang menjamin masa depan itu akan indah, bahagia, dan sempurna seperti yang kita impikan?”
Tentu saja, banyak orang akan memberikan argumen, asumsi, spekulasi, dan perspektif tentang masa depan. Tapi, penulis mencoba menjawab dari segala opini-opini tersebut, bahwa masa depan tidak ada satu pun yang bisa menjamin: baik itu bahagia atau tidak, baik itu cerah atau kelam, atau semisalnya. Secara tidak langsung, jawaban tersebut mengarah pada konotasi ilusi: yaitu hal yang tak pernah terjadi.
Pada dasarnya, masa depan adalah masa di mana masa tersebut belum tentu terjadi, atau bahkan tidak pernah terjadi. Tidak ada yang menjamin seseorang itu akan menghadapi masa depan. Pada konteks yang lebih luas, masa depan tidak pernah diraih oleh orang-orang. Bahkan, kata masa depan hanya “motivasi usang” untuk selalu berpikir dan bertindak positif dengan harapan kelak akan menjadi lebih baik.
Secara khusus, ilusi masa depan penulis arahkan kepada anak-anak muda yang selalu mendambakan masa depan yang cerah, yang indah, dan bahagia. Dengan kehidupan yang mapan, pekerjaan yang baik, dan lingkungan yang berkualitas. Tentunya, hal itu adalah dambaan bagi semua orang (tak terkecuali penulis). Namun, menjadi bahan kritik, apakah masa depan tersebut akan terjadi sesuai dengan harapan? Kembali lagi pada konteks masa depan adalah ilusi, tidak ada jaminan, bahkan penjamin untuk hal tersebut. Pada akhirnya, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan masa depan adalah ilusi.
Masa depan adalah ilusi yang menakutkan. Bagaimana tidak, kita selalu didoktrin untuk meraih masa depan dengan banting tulang, bekerja keras, terus berusaha, dan kata-kata mutiara indah (walau kenyataannya menyakitkan) lainnya yang diajarkan oleh orang tua, guru, sahabat, bahkan teman sejawat. Masa depan tidak bisa diraih dengan leha-leha, masa depan, tidak bisa diraih dengan santai-santai, masa depan tidak bisa diraih dengan bermimpi. Jika kita generalkan frasa atau klausa tersebut, masa depan adalah hal yang harus diperjuangkan, pada tahapan yang kejam, kita harus membayarnya dengan nyawa. Lantas, di mana letak kenyataan masa depan? Jika kita harus mempertaruhkan nyawa di masa kini?
Perlu adanya pemikiran kontruktif dan kedewasaan. Kita tidak menemukan suatu hal jika dilandasi atas asumsi-asumsi yang negatif. Jika kita cermati lebih dalam, tidak ada kata yang salah tentang masa depan dan ilusi. Letak kesalahan tersebut adalah sikap kita yang tidak mau menerima dan berusaha terhadap kenyataan. Masa depan adalah tentang kelak yang diproses sekarang. Ilusi adalah kata tiada, yang tidak mungkin ada. Tapi, jika kita telaah lebih dalam, ilusi menjadi titik balik yang luar biasa dalam kehidupan jika kita maknai lebih arif dan bijaksana. Bagaimana tidak, dalam ilusi kita bisa melukis dan menginterpretasikan segala keinginan, harapan, dan cita-cita. Melalui dimensi ilusi, kita mampu membangun hal yang tak mungkin, hal yang mustahil menjadi mungkin. Titik baliknya ada pada kebalikan ilusi yaitu kenyataan.
Variabel kontrol tentang kenyataan bermula dari fondasi ilusi. Masa depan adalah ikhtisar dari ilusi, buah dari pada proses panjang kenyataan. Pada akhirnya, kenyataanlah yang menjadi lawan ilusi, masa depan pun menjadi lemah jika kita melawannya dengan masa kini. Kata ilusi dan masa depan serta ketakutan, adalah serangkai yang tak terpisahkan yang melekat pada anak-anak muda yang selalu khawatir, takut, dan ragu. Hal ini dilandasi oleh beberapa faktor: 1) tingginya imajinasi tentang masa depan, 2) jalan tentang masa depan yang masih abstrak, dan mungkin 3) masa depan yang dibunuh oleh masa kini.
Berbicara tentang masa depan, terlebih lagi dengan anak muda, adalah hal yang paling emosional namun unik. Anak muda, menafsirkan masa depan dengan varian yang berbeda-beda. Ada yang optimis, ada yang pesifimis, ada yang protektif, ada pula yang enjoy. Semua itu dilandasi atas kehidupan dan jalan hidup mereka masing-masing. Tak ada yang salah tentang masa depan, ketakutan terhadap masa depan, dan ilusi yang membayangi masa depan adalah hal yang wajar, sejatinya kita hidup dalam dimensi ilusi, manifestasi kehidupan, dan rekaan pengaturan yang telah diatur kepada masing-masing individu ataupun kolektif.
Abtrak memang, namun sudah demikian adanya. Hidup ini tidak selalu tentang kita, kadang ada bagian-bagian lain yang menjadi penentu kehidupan. Walaupun orang-orang mengatakan penentu kehidupan adalah diri kita sendiri. Tidak sepenuhnya salah, dan tentunya tidak sepenuhnya benar. Mengapa? Hidup tidak hanya tentang kerja, makan, tidur. Namun dalam rotasinya ada campur tangan dimensi lain. Entah itu lingkungan, sosial, dan tentunya takdir. Kita dipaksa untuk bergerak sesuai poros dengan arah masa depan yang tak kita ketahui, namun dipaksa untuk dibayangi. Yang (mustahil) terjadi, tapi dikehendaki terjadi.
Rumit memang, dan begitulah adanya: masa depan adalah ilusi yang menakutkan.[]
Penulis bernama Muhammad Iqbal Fahimy, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Indah Latifa










