Opini | DETaK
Era digital memberikan dampak yang signifikan terhadap percepatan arus penyebaran informasi di masyarakat. Kejadian terkini, tanpa memerlukan waktu yang lama, dapat diketahui hanya melalui media sosial. Hal ini memperlihatkan bahwa kemudahan teknologi semakin masif. Setiap daerah di Indonesia mempunyai akun berita terkini yang memberikan informasi terbaru dari daerahnya masing-masing. Admin dari akun tersebut ialah masyarakat biasa tanpa keahlian jurnalistik yang spesifik. Namun, masih banyak masyarakat umum yang lebih memilih mendapatkan informasi dari akun seperti itu dibandingkan dengan akun media arus utama, seperti media berita profesional. Padahal, dari segi kredibilitas dan proses jurnalistik, media resmi jelas memiliki standar yang lebih ketat. Lalu, mengapa fenomena ini sering terjadi?
Pertama, faktor kecepatan menjadi alasan utama. Akun berita tidak resmi biasanya langsung mengunggah informasi terkini setelah menerima laporan dari masyarakat sekitar. Mereka tidak melalui proses verifikasi berlapis seperti media profesional. Tentu saja, dalam situasi mendesak, misalnya kecelakaan lalu lintas, razia, atau bencana alam, masyarakat cenderung merasa membutuhkan informasi secepat mungkin. Kecepatan ini memberikan kesan bahwa akun tersebut “lebih update” dan responsif terhadap kejadian di lapangan. Dengan begitu, masyarakat dapat memantau suatu peristiwa dengan cepat tanpa merasa tertinggal.

Sebaliknya, media berita resmi dan profesional harus menjalankan proses yang lebih panjang dan ketat, misalnya konfirmasi kepada narasumber hingga penyuntingan sebelum berita dipublikasikan. Proses ini memang dilakukan untuk menjaga keakuratan berita, tetapi jelas membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan media berita tidak resmi. Terkadang, dalam konteks budaya digital yang serba instan, selisih waktu beberapa jam saja bisa membuat audiens merasa tertinggal terkait suatu peristiwa.
Kedua, gaya penyampaian informasi juga memiliki pengaruh yang signifikan. Media tidak resmi cenderung menggunakan bahasa yang santai, singkat, dan langsung pada inti persoalan. Formatnya yang sederhana, sering kali hanya berupa foto atau video singkat disertai keterangan pendek, memberikan kesan yang lebih melekat bagi masyarakat. Sebab, gaya ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, media resmi menggunakan struktur berita yang lebih formal dan sistematis. Bagi sebagian orang, gaya ini terasa terlalu panjang atau kaku untuk dibaca di tengah kesibukan.
Ketiga, faktor kedekatan emosional dan partisipasi publik. Akun berita tidak resmi sering kali membuka ruang bagi masyarakat untuk mengirimkan informasi secara langsung melalui pesan pribadi atau Direct Message (DM). Hal ini menciptakan rasa keterlibatan masyarakat terhadap suatu kejadian tertentu. Masyarakat merasa menjadi bagian dari proses penyebaran informasi. Mereka bukan hanya konsumen berita, tetapi juga kontributor. Interaksi semacam ini jarang terlihat dalam media berita resmi yang lebih menjaga jarak profesional antara redaksi dan audiens. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kenetralan media berita resmi.
Keempat, algoritma media sosial turut memperkuat fenomena ini. Konten yang cepat diunggah dan langsung mendapatkan banyak respons biasanya lebih sering muncul di FYP pengguna. Akun berita tidak resmi yang aktif mengunggah informasi singkat dan aktual cenderung lebih mudah menjadi viral. Akibatnya, masyarakat lebih sering terpapar konten dari akun tersebut dibandingkan dengan berita dari media resmi yang mungkin tidak seintens itu dalam mengunggah konten.
Namun, di balik keunggulan kecepatan informasi tersebut, terdapat risiko yang perlu diperhatikan. Informasi yang cepat tanpa melalui proses verifikasi terlebih dahulu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, kepanikan, bahkan penyebaran hoaks. Tanpa proses konfirmasi yang jelas, detail penting bisa saja terlewat atau disampaikan secara keliru. Masyarakat yang tidak mencari informasi lebih lanjut di media berita resmi akan lebih mudah mempercayai berita tersebut. Akibatnya, kebiasaan mengandalkan sumber yang belum tentu akurat dapat menurunkan kualitas literasi media masyarakat.
Di sisi lain, media resmi memang perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens. Kecepatan dan ketepatan seharusnya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua nilai yang harus berjalan beriringan. Media profesional dapat memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan informasi awal secara cepat, kemudian memperbaruinya setelah proses verifikasi selesai. Strategi ini memungkinkan mereka tetap relevan tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik.
Bagi mahasiswa, fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi. Pilihan terhadap sumber informasi bukan hanya soal kepraktisan atau kecepatan, tetapi juga soal tanggung jawab. Dalam konteks akademik dan kehidupan sosial, informasi yang akurat jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang pertama mengetahui kabar terbaru.
Pada akhirnya, dominasi akun berita tidak resmi menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Kecepatan, kedekatan, dan kemudahan akses menjadi faktor utama. Namun, tanpa kesadaran kritis, keunggulan tersebut dapat berubah menjadi kelemahan. Oleh karena itu, mahasiswa dan masyarakat perlu membangun keseimbangan dengan memanfaatkan kecepatan informasi dari media sosial, tetapi tetap melakukan verifikasi melalui media resmi yang memiliki standar jurnalistik yang jelas.
Penulis bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswi Pogram Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Naisya Alina



![[DETaR] Manfaat Tarawih di 10, 20, hingga 30 Malam](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/image-238x178.png)
![[DETaR] Qunut Nazilah di Akhir Witir : Antara Tradisi, Dalil, dan Kepedulian Sosial](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi-Opini-Detar-238x178.png)






