Opini | DETaK
Walk out yang dilakukan oleh banyak delegasi menjadi salah satu tindakan protes keras warga dunia terhadap pemerintahan Israel. Saat Benyamin Netanyahu hendak menyampaikan pidatonya dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kondisi ruang sidang PBB tidak dapat dikendalikan bahkan oleh pimpinan sidang tersebut. Pimpinan sidang sempat mengetuk palu dan mengatakan kepada para delegasi agar tetap duduk di kursinya beberapa kali namun tak dihiraukan oleh para delegasi tersebut.
Sebagian besar delegasi bisa dikatakan sudah muak dan bosan mendengar penjelasan Israel terkait penyerangan kepada Hamas atau bentuk pertahanan diri dari serangan Hamas. Padahal, penyerangan yang sudah jelas korbannya adalah 65.000 jiwa warga sipil telah tewas sejak Oktober 2024 yang di mana sebagian besarnya adalah anak-anak dan perempuan.

Israel menyamakan seluruh warga Palestina dengan Hamas yang merupakan salah satu kelompok pemegang pemerintahan di Palestina, terkhusus wilayah Tepi Barat (Fatah) dan Gaza. Netanyahu menggunakan retorika yang memojokkan Palestina sebagai pendukung teroris, bahkan tak jarang menuduh warga sipil sebagai mata-mata Hamas. Padahal Hamas hanya salah satu kelompok dan tidak mewakili seluruh Palestina. Israel tetap menutup mata dan telinganya dari suara warga dunia yang terus melontarkan “Free Palestine” sampai tak terhingga.
“All Eyes On Palestine” adalah kalimat yang tepat untuk keadaan saat ini. Seluruh mata pada Palestina yang terus menjadi korban kekejaman Israel namun belum ada titik terangnya. Lalu, akankah Netanyahu menghentikan genosidanya? Dalam pidato tegas dan lugas yang disampaikan Netanyahu dalam sidang PBB di mana sebagian besar kursi para delegasi kosong saat itu, Ia mengatakan bahwa Israel tidak akan berhenti sebelum tugasnya di Palestina dapat terselesaikan. Walaupun, tekanan dunia yang terus menerus mengimpitnya. Netanyahu bahkan mengecam Negara Barat (Eropa) yang mulai mendukung Palestina dengan mengatakan “keputusan memalukan kalian mendorong terorisme terhadap orang Yahudi, dan terhadap orang-orang tak bersalah sekalipun,” lugasnya.
Berdasarkan portal Detikhikmah, lontaran Netanyahu kepada Negara Barat juga sangat berhati-hati agar tidak menyinggung Amerika Serikat, salah satu negara pendukung Israel terkuat. Seperti yang kita tahu, bahwasanya Amerika Serikat sangat dekat dengan Israel sejak lama, kedekatan dan dukungan penuh dari Amerika Serikat membuat Israel semakin percaya diri dengan genosida yang dilakukannya selama ini. Netanyahu terlalu fokus terhadap keamanan Israel terancam tapi Ia lupa dengan penderitaan warga sipil Palestina. Mungkin bukan lupa dalam tanda kutip ‘tidak sengaja’ tetapi secara ‘sengaja’.
Pidato Netanyahu dalam sidang PBB memperlihatkan isolasi diplomatik Israel yang semakin nyata di lingkungan Internasional. Terutama di tengah meningkatnya tekanan global untuk menghentikan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Permasalahan ini tidak dapat di hentikan dengan satu petikan jari, pidato yang disampaikan Netanyahu tidak menawarkan solusi damai melainkan menyebabkan permasalahan semakin buruk.
Isi pidato Netanyahu memperlihatkan bahwa Israel berusaha memutarbalikkan fakta lapangan. Israel merasa menjadi korban di medan perang ini dengan berusaha menekankan perspektif tidak bersalahnya. Kritikan yang dilontarkan Netanyahu kepada delegasi negara-negara yang keluar dari sidang dengan sengaja tersebut, semakin memperlihatkan sisi arogannya. Untuk permasalahan ini, walk out saat sidang dimulai bukan berarti bentuk tidak sopan tetapi bentuk tidak setuju terkait genosida yang dilakukan Israel di Palestina.
Walk out menjadi salah satu cara awal memperlihatkan ketidaksetujuan negara yang mendukung Palestina. Selanjutnya negara-negara tersebut harus mengambil langkah yang lebih berani dan mengambil tindakan tegas untuk menolak pelanggaran HAM di Palestina. Khususnya PBB, harus mengambil tindakan yang lebih tegas agar hukum internasional dan hak asasi manusia lebih dihargai, terutama kepada warga sipil yang menjadi korban.
Masalah tersebut tidak hanya menyangkut agama tertentu tetapi rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan yang harusnya dimiliki oleh seluruh umat manusia namun masih dipertanyakan. Faktanya, masih ada negara-negara yang mendukung Israel padahal jejak pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukannya terbukti dengan jelas. Jika setiap negara masih berada di zona netral sama saja negara tersebut menjadi salah satu pendukung genosida di Palestina. Aksi walk out menjadi pengingat bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja dalam hal keberpihakan terhadap keadilan.
Lantangkan suara kebenaran dan keadilan sampai suara kebohongan terbungkam. Suara kita sangat berharga bagi Palestina, langkah awal kita mendukung Palestina dapat membangkitkan kobaran api semangat untuk terus berjuang melukiskan keadilan demi tercapainya kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Tidak harus menjadi pejabat agar suara keadilan didengar, cukup menjadi diri yang penuh dengan keyakinan dan kesadaran memihak keadilan dan mengingatkan ataupun mengajak orang-orang di lingkungan sekitar baik melalui langsung atau tidak langsung (sosial media) agar peduli dengan permasalahan internasional tersebut. Langkah kecil dari kita menjadi salah satu cara termudah dan berdampak untuk kesejahteraan Palestina.
Penulis bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Khalisha Munabirah






![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


