Beranda Opini Kampus Sibuk Menambah Program Studi, tapi Lupa Memperbaiki Rumahnya Sendiri

Kampus Sibuk Menambah Program Studi, tapi Lupa Memperbaiki Rumahnya Sendiri

BERBAGI

Opini | DETaK

Setiap tahunnya, banyak universitas bersaing untuk meluncurkan program studi (prodi) baru. Alasannya cukup logis, mulai dari memenuhi permintaan industri, menambah variasi pendidikan, hingga meningkatkan daya saing institusi. Di permukaan, langkah ini memang terlihat sebagai suatu kemajuan. Semakin banyak prodi yang ada, semakin kuat pula citra bahwa kampus tersebut sedang maju pesat. Namun, di tengah semangat perluasan ini, muncul pertanyaan yang penting untuk diajukan: mengapa kampus sangat semangat menambah prodi, tetapi sering kali mengabaikan kualitas fasilitas yang sudah ada? Bukankah fasilitas yang memadai adalah dasar utama untuk menciptakan pengalaman belajar yang baik?

Faktanya, banyak kampus justru memperlihatkan hal yang sebaliknya. Jumlah jurusan terus meningkat, tetapi ruang kelas tetap sempit dan pengap, laboratorium tidak dilengkapi dengan peralatan yang memadai, koleksi perpustakaan tidak lengkap, koneksi internet sering terputus, tempat parkir tidak cukup untuk menampung kendaraan mahasiswa, dan kondisi toilet jauh dari kata memadai.

Iklan Souvenir DETaK

Di sisi lain, jumlah mahasiswa terus bertambah setiap tahun seiring dengan pembukaan prodi baru. Hal ini mengakibatkan fasilitas yang sudah terbatas harus dipakai oleh semakin banyak orang. Ruang kelas menjadi penuh sesak, jadwal penggunaan laboratorium semakin padat, layanan administrasi menjadi lambat, dan kenyamanan mahasiswa pun mulai menurun. Ironisnya, masalah-masalah ini sering kali dianggap wajar, seolah-olah mahasiswa harus beradaptasi dengan keadaan yang terbatas.

Sebenarnya, fasilitas bukan sekedar tambahan dalam pendidikan. Mereka adalah bagian esensial dari proses pembelajaran itu sendiri. Mahasiswa tidak hanya memerlukan pengajar yang berkualitas, tetapi juga lingkungan yang mendukung perkembangan mereka. Sulit berharap mahasiswa dapat melakukan penelitian yang berkualitas jika laboratoriumnya tidak lengkap.

Sulit juga meminta mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi ketika ruang kuliah tidak nyaman atau alat pembelajaran sering bermasalah. Bahkan di era digital saat ini, koneksi internet yang stabil bukan lagi sebuah kemewahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar. Ketika fasilitas tidak mampu menunjang proses akademik, kualitas pembelajaran pun akan terpengaruh, tidak peduli seberapa bagus kurikulum yang dimiliki oleh kampus.

Fenomena ini menimbulkan kesan bahwa penambahan program studi lebih didorong oleh aspek promosi. Kampus dapat dengan mudah memasarkan jurusan baru demi menarik minat calon mahasiswa. Brosur penerimaan mahasiswa baru menjadi lebih menarik, media sosial kampus dibanjiri informasi tentang peluang pendidikan terbaru, dan citra kampus sebagai institusi yang selalu berkembang semakin kuat.

Sayangnya, promosi ini sering kali tidak didukung dengan persiapan infrastruktur yang memadai. Kampus seolah lebih fokus pada memperluas pilihan studi daripada memperbaiki kondisi yang sudah ada. Akibatnya, mahasiswa dari prodi lama maupun baru harus menyesuaikan diri dengan fasilitas yang kapasitasnya tidak pernah benar-benar bertambah.

Tidak ada yang salah dengan membuka prodi baru. Dunia kerja selalu berubah, jadi perguruan tinggi harus mampu menyediakan bidang ilmu yang sesuai dengan perkembangan. Akan tetapi, penambahan prodi seharusnya dilakukan setelah kampus memastikan bahwa semua sumber daya, baik dari sisi dosen, laboratorium, ruang belajar, maupun fasilitas pendukung lainnya, sudah cukup. Membuka jurusan baru tanpa persiapan yang matang justru berisiko merusak kualitas pendidikan secara keseluruhan. Akhirnya, mahasiswa yang paling merasakan dampaknya karena mereka belajar dalam keadaan yang belum siap untuk menangani pertumbuhan tersebut.

Jika dianalogikan, situasi ini mirip seperti sebuah rumah yang setiap tahunnya menerima penghuni baru, namun jumlah ruang tidur, kamar mandi, dapur, dan area bersama tidak pernah diperluas. Seiring berjalannya waktu, rumah tersebut akan terasa penuh, tidak nyaman, dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Perbandingan ini sangat tepat dalam menggambarkan kondisi beberapa perguruan tinggi saat ini. Jumlah mahasiswa terus bertambah, tetapi kapasitas fasilitas yang ada tidak berubah.

Hal ini berakibat pada penurunan kualitas layanan. Mahasiswa harus menunggu lebih lama untuk urusan administrasi, berlomba mendapatkan jadwal praktikum, bahkan kesulitan menemukan ruangan belajar yang nyaman. Keadaan ini tidak hanya mengganggu aktivitas akademik tetapi juga menciptakan pengalaman perkuliahan yang jauh dari harapan.

Kampus sering kali mengumandangkan visi untuk menghasilkan lulusan yang unggul, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global. Namun, visi tersebut sulit tercapai jika kebutuhan dasar mahasiswa belum terpenuhi. Pendidikan berkualitas tidak hanya muncul dari kurikulum yang baik atau akreditasi tinggi, tetapi juga dari lingkungan belajar yang mendukung proses akademik secara maksimal. Mahasiswa memerlukan ruang untuk berdiskusi, fasilitas praktik yang memadai, akses teknologi yang baik, serta layanan kampus yang cepat dan efisien. Semua ini merupakan investasi yang dampaknya jauh lebih signifikan dibanding sekadar menambah jumlah program studi.

Saatnya perguruan tinggi mengubah cara pandang mereka terhadap arti pembangunan. Kemajuan kampus seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak jurusan yang berhasil dibuka, tetapi seberapa baik kampus dapat memenuhi hak mahasiswanya untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Sebelum berlomba-lomba membuka program studi baru, kampus harus memastikan dulu bahwa fasilitas yang ada sudah memenuhi syarat untuk digunakan dan dapat melayani seluruh sivitas akademika dengan baik.

Sebab, kampus yang hebat bukanlah yang memiliki daftar jurusan terpanjang, melainkan kampus yang mampu memberikan pengalaman belajar terbaik bagi semua mahasiswanya. Menambah program studi memang bisa memperbaiki citra dalam waktu singkat, tetapi memperbaiki fasilitas adalah investasi jangka panjang yang akan mempengaruhi kualitas pendidikan di masa depan.

Penulis bernama Mila Karmila, Mhasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik