Beranda Opini Asmara Subuh, Tradisi Anak Muda yang Mengkhawatirkan

[DETaR] Asmara Subuh, Tradisi Anak Muda yang Mengkhawatirkan

BERBAGI
Ilustrasi Asmara Subuh. Desain oleh (Shahibah Alyani/DETaK)

Opini | DETaK

Asmara Subuh, sebuah istilah yang selalu muncul di Bulan Ramadhan. Kegiatan yang selalu dilakukan oleh anak muda setiap selesai salat subuh hingga terbit matahari. Asmara subuh selalu menjadi tren populer di kalangan anak muda setiap tahunnya, ada yang mengatakan asmara subuh adalah istilah yang digunakan pada seseorang yang menikmati waktunya setelah selesai shalat, baik dengan olahraga, jalan-jalan santai atau bahkan ngumpul dengan teman.

Setiap selesai salat subuh, anak muda mulai berkeliaran sekitaran kota menikmati waktu subuh mereka dan biasanya pantai menjadi destinasi yang paling ramai dikunjungi. Asmara subuh hanya tradisi yang terjadi di bulan Ramadhan, sedangkan di bulan lain, anak muda tak pernah terlihat bergerombolan untuk menikmati waktu pagi. Bahkan pakaian mereka akan identik dengan sarung untuk laki-laki dan mukena untuk perempuan.

Iklan Souvenir DETaK

Setiap tahunnya, asmara subuh memang menjadi kegiatan yang selalu dirindukan dalam bulan Ramadhan, namun sayangnya fenomena ini semakin lama mulai salah diartikan, hingga akhirnya menjadi budaya yang menyimpang. Seperti balap liar, menganggu masyarakat, menggoda wanita, hingga menjadi tempat ajang cari jodoh.

Tak ada yang salah dalam menggunakan istilah asmara subuh sebagai alasan untuk kumpul dengan teman, baik hanya duduk mengobrol atau bahkan jalan-jalan dengan motor. Bukan dengan menggunakan istilah tersebut untuk alasan berdua-duaan dengan lawan jenis, menganggu orang lain atau bahkan membuat kegaduhan. Jangan lupa, jika asmara subuh itu dilakukan di bulan suci Ramadhan.

Selain makna yang salah diartikan, suasana asmara subuh di era sekarang juga berubah. Banyak anak muda memilih bermain handphone di tengah kegiatan, seakan arti kumpul hanya sekedar duduk, diam, bermain handphone dan pulang. Tak ada tanda-tanda kebersamaan, padahal waktu yang mereka habiskan bisa diganti dengan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

Lalu yang menjadi pertanyaan, dengan makna yang kian menyimpang, haruskah asmara subuh ini dilarang? Tidak, tak perlu dilarang namun perlu pengawasan yang lebih ketat, karena era sekarang kebanyakan anak muda mulai menormalkan asmara subuh sebagai kegiatan berdua-duaan dengan lawan jenis. Sudah seharusnya asmara subuh menjadi tradisi yang dapat menyehatkan dan menguatkan hubungan sosial sesama anak muda dan perlu untuk memberikan pemahaman agama akan asmara subuh yang sudah seharusnya dilakukan dengan ketentuan syari’at Islam yang berlaku. Tidak boleh berdua-duaan dengan lawan jenis adalah salah satunya.

Asmara subuh bisa menjadi salah satu kegiatan untuk menyegarkan pikiran, menghilangkan kejenuhan dan menyehatkan badan. Sudah seharusnya makna asmara subuh sebagai kegiatan menikmati waktu subuh kembali diluruskan, jangan membuat tradisi Ramadhan menjadi budaya yang menyimpang. Jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang damai, dan mengurangi hal-hal yang merugikan. Tak ada yang salah dengan asmara subuh jika setiap anak muda sadar akan batasan dan aturan syari’at Islam.

Berikanlah contoh anak muda yang sehat akal dan perilaku pada generasi yang akan datang, karena apa yang dilakukan sekarang akan menjadi cermin di masa depan. Sebagai anak muda, sudah seharusnya kita menghilangkan budaya menyimpang yang kian mengkhawatirkan. Buktikan jika anak muda mampu memberikan suasana damai asmara subuh di bulan Ramadhan, tanpa ada perilaku menyimpang dari agama.[]

Penulis adalah Aisya Syahira, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan salah satu redaktur di UKM Pers DETaK.

Editor: Sahida Purnama