Beranda Opini Apakah Mager Tanda Kelelahan atau Strategi Bertahan di Dunia Perkuliahan?

Apakah Mager Tanda Kelelahan atau Strategi Bertahan di Dunia Perkuliahan?

BERBAGI
Ilustrasi. (Jihan Sabila Padma/DETaK)

Opini | DETaK

Dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda dan mahasiswa, kata “mager” sudah menjadi istilah yang akrab. Singkatan dari “malas gerak” ini awalnya muncul sebagai bentuk ekspresi santai untuk menyampaikan rasa enggan atau tidak bersemangat melakukan sesuatu. Namun, seiring waktu, istilah ini berkembang menjadi budaya tersendiri yang mencerminkan cara hidup sebagian masyarakat modern. Fenomena mager tak lagi sekadar soal rasa malas, melainkan menjadi representasi kompleks dari tekanan hidup, gaya hidup digital, hingga krisis motivasi kolektif di era serba cepat ini.

Di kalangan mahasiswa, mager menjadi semacam bahasa universal untuk menggambarkan kondisi mental dan fisik yang kelelahan menghadapi rutinitas perkuliahan seperti tugas, praktikum, organisasi, dan kehidupan sosial. Dalam satu hari, seorang mahasiswa bisa berpindah dari ruang kelas ke perpustakaan, dari diskusi kelompok ke rapat organisasi, lalu kembali ke indekos untuk mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Dalam situasi seperti itu, perasaan mager bukanlah hal aneh melainkan sering kali menjadi pelarian logis dari kelelahan kronis.

Iklan Souvenir DETaK

Pada satu sisi, mager memang kerap dipandang sebagai bentuk kemalasan yang merugikan. Seseorang yang terlalu sering merasa mager cenderung mengabaikan tanggung jawab, menunda pekerjaan, hingga kehilangan peluang penting. Di dunia perkuliahan, ini bisa berdampak pada akumulasi tugas, absensi kuliah, hingga rendahnya kualitas akademik. Mahasiswa yang terlalu sering merasa mager mungkin mulai menghindari kelas, tidak menyelesaikan tugas, atau enggan berpartisipasi dalam kegiatan kampus. Semua ini pada akhirnya bisa memengaruhi indeks prestasi dan masa studi mereka.

Di sisi lain, kita tidak bisa serta-merta menghakimi mager sebagai kemalasan belaka. Kehidupan mahasiswa di era sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah arus informasi yang deras, tekanan media sosial, tuntutan akademik yang tinggi, serta ketidakpastian masa depan. Dalam masyarakat yang terus bergerak cepat dan mendorong manusia untuk selalu produktif, muncul kebutuhan baru yang kerap diabaikan: kebutuhan untuk berhenti sejenak. Mager, dalam hal ini, menjadi sinyal tubuh dan pikiran bahwa seseorang memerlukan istirahat.

Banyak mahasiswa kini mengalami yang disebut sebagai academic burnout. Mereka terlalu banyak terlibat dalam kegiatan akademik dan non-akademik, hingga lupa menyediakan waktu untuk merawat diri. Dalam psikologi, kelelahan seperti ini bisa menyebabkan apatis, hilangnya motivasi belajar, bahkan gangguan mental seperti kecemasan atau depresi. Dalam konteks ini, mager bukanlah bentuk kemalasan, tetapi alarm agar seseorang mengambil waktu untuk pulih sebelum benar-benar tumbang.

Lebih jauh lagi, fenomena mager juga dapat dilihat sebagai reaksi terhadap ekspektasi sosial yang tidak masuk akal. Banyak mahasiswa merasa tertekan oleh harapan orang tua, dosen, bahkan teman sebaya yang menuntut kesuksesan akademik, keterlibatan organisasi, pengalaman magang, dan kehidupan sosial yang ideal semuanya sekaligus. Dalam tekanan ini, mager bisa menjadi bentuk resistensi terhadap gaya hidup multitasking yang tidak manusiawi. Mereka yang memilih untuk mengambil jeda, atau sekadar berdiam diri di kamar indekos bukan berarti malas, tetapi bisa jadi sedang mencoba menjaga kewarasan.

Fenomena ini diperkuat oleh budaya digital yang mengubah cara mahasiswa menjalani hari-hari mereka. Kehadiran aplikasi hiburan, layanan pesan antar, dan media sosial membuat mahasiswa semakin mudah terjebak dalam gaya hidup pasif. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur hanya dengan menonton video pendek, bermain game, atau berselancar di internet. Tanpa disadari, ini memperkuat kebiasaan mager, bukan karena enggan bergerak, tapi karena semua kebutuhan sudah bisa diakses dari genggaman tangan.

Namun, kebiasaan mager bisa menjerumuskan mahasiswa pada semangat belajar yang menurun tugas menumpuk, dan rutinitas terganggu. Selain itu, gaya hidup yang sering menyertai kebiasaan mager juga bisa memengaruhi kesehatan fisik, mulai dari obesitas hingga menurunnya imunitas tubuh.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mengenali penyebab rasa mager yang mereka alami. Apakah mager karena tubuh benar-benar lelah? Atau hanya karena ketidakmampuan mengatur waktu dan dorongan internal? Menyadari penyebab ini bisa menjadi langkah awal untuk mengatasi masalah secara proporsional. Jika memang butuh istirahat, tidak ada salahnya mengambil waktu untuk rehat. Tapi jika mager muncul sebagai bentuk penundaan tanggung jawab, maka perlu ada strategi untuk mengubahnya.

Salah satu cara praktis adalah dengan membuat jadwal harian yang fleksibel namun terstruktur. Mahasiswa bisa menetapkan waktu belajar, waktu istirahat, dan waktu bersantai secara jelas. Kebiasaan kecil seperti membuat to-do list, menulis jurnal harian, atau menggunakan aplikasi pengingat bisa membantu menghindari jebakan mager yang berkepanjangan. Selain itu, penting juga untuk membuat lingkungan yang mendukung, baik secara fisik maupun sosial. Kamar yang bersih dan rapi bisa meningkatkan semangat belajar, sementara teman yang produktif bisa menjadi motivasi untuk lebih aktif. Membatasi waktu penggunaan gadget juga sangat krusial. Mahasiswa bisa mulai menerapkan digital detox dalam skala kecil, seperti tidak membuka media sosial saat jam belajar, atau mematikan notifikasi aplikasi hiburan. Dengan begitu, fokus bisa lebih terjaga dan kecenderungan untuk “mager sambil scroll” bisa ditekan.

Lingkungan pertemanan pun menjadi faktor penting. Mahasiswa yang dikelilingi teman-teman yang aktif, suportif, dan memiliki visi hidup cenderung lebih termotivasi untuk bergerak dan berkembang. Sebaliknya, jika lingkungan sekitar cenderung pasif dan tidak memiliki semangat, maka rasa mager bisa menular secara emosional. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk selektif dalam membangun jejaring sosial yang sehat.

Pendidikan karakter juga perlu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan tinggi. Mahasiswa perlu dibekali dengan keterampilan manajemen waktu, kesadaran diri, dan kemampuan mengelola stres. Semua ini akan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan kehidupan kampus yang dinamis, sekaligus mengurangi kecenderungan untuk mager sebagai pelarian.

Pada akhirnya, mager bukanlah musuh yang harus diberantas sepenuhnya. Dalam batas tertentu, mager adalah bagian dari respons tubuh terhadap tekanan dan kelelahan. Tapi mahasiswa perlu belajar untuk mengelola mager dengan bijak: kapan harus beristirahat, kapan harus bangkit. Keseimbangan antara produktivitas dan waktu santai adalah kunci agar masa-masa kuliah tidak hanya penuh pencapaian, tetapi juga menyenangkan dan bermakna. Dengan pendekatan yang sadar dan sistematis, mager bisa diubah dari hambatan menjadi pengingat. Pengingat bahwa di balik target akademik, karier, dan sosial, ada kebutuhan dasar yang tak boleh dilupakan: istirahat, pemulihan, dan koneksi dengan diri sendiri.

Penulis bernama Jihan Sabila Fadma, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala.

Editor : Sara Salsabila