Beranda Headline Standar Sukses di Negeri ini Haruskah Menjadi Dokter?

Standar Sukses di Negeri ini Haruskah Menjadi Dokter?

BERBAGI
Ilustrasi. (Intan Eriyani [AM]/DETaK)

Opini | DETaK

Perspektif merupakan cara padang seseorang akan suatu hal yang dilihat. Masyarakat, sering disebut sebagai faktor penentu kemajuan dan kemunduran dari sebuah daerah. Perilaku yang ditimbulkan sangat berpengaruh bagi semua orang. Biasanya, kita sering termakan oleh pesrpektif masyarakat yang dianggap sebagai suatu hal benar. Namun, tanpa kita sadari nyatanya pemikiran-pemikiran tersebut akhirnya membuat kita teracuni dan terperangkap oleh pemikiran kita sendiri  dan terkadang ini  membuat seseorang menjadi tidak bebas untuk berpendapat. Itulah yang kita rasakan sekarang ini. Hal ini serupa dengan pandangan masyarakat tentang jurusan perkuliahan. Sepakat atau tidak bahwa  masyarakat Indonesia terlalu terobsesi dalam memandang standar seseorang terlebih di bagian status kehidupan.

Merujuk data SRS pada tahun 2018 yang sudah disesuaikan dengan estimasi kelengkapan survei 55 persen, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,12 per 100.000 penduduk. Menurut Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 adalah 267,1 juta jiwa. Ini berarti ada 2.992 kematian akibat bunuh diri di tahun tersebut. Sedangkan menurut data dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), angkanya meningkat secara signifikan tiap tahunnya. Berdasarkan data terbaru, Polri melaporkan bahwa terdapat 663 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari-Juli 2023.

Iklan Souvenir DETaK

Dilansir dari (Serambinews.com) Calon Dokter Tewas Tergantung (diduga bunuh diri) yang menimpa seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsyiah. Kejadian terjadi pada 24/8/2014, banyak faktor yang dikaitkan dengan penyebab kematiannya. Diantaranya satu faktor utama yang tidak disebutkan, yaitu latar  belakang pendidikannya. Seperti diketahui bahwa almarhum adalah seorang mahasiswa kedokteran, calon dokter. Sebuah institusi pendidikan yang dianggap eksklusif dan jauh dari pemberitaan, terkesan sangat tertutup.

Banyak kasus kekerasan dan pemaksaan meluas di negeri ini, berkedok keinginan orang tua yang memaksakan anaknya untuk bisa berkuliah di kedokteran. Orang-orang menganggap bahwa menjadi seorang Dokter adalah jalan pintas untuk cepat kaya. Dipandang tinggi dalam masyarakat dan mendapatkan perlakuan spesial dalam lingkungan. Tak heran hal ini membuat sekian banyak generasi muda merasa pendidikan Dokter adalah jurusan yang tepat untuk menjadi seseorang yang dihargai di bumi pertiwi ini. Siapa sih yang tidak mau seperti itu. Keinginan menjadi seorang Dokter pasti dimiliki oleh semua orang. Meski kita tahu bahwa profesi ini tidak mudah untuk dijalani dan bukanlah suatu hal yang mudah untuk mendapatkannya. Oleh sebab itu, benarkah pandangan tentang sukses itu harus menjadi seorang Dokter.

Mungkin kita semua tahu selama ini masyarakat menganggap tinggi status tersebut dan tanpa kita sadari kita melupakan hal terpenting dalam hidup, serta menganggap rendah profesi lain. Tidak peduli sekecil apa gaji yang akan didapatkan dan bagaimana pandangan buruk orang tentang standar Guru. Percayalah, kita tidak akan ada sampai di sini tanpa jasa dari seorang Guru. Bayangkan berapa banyak Dokter yang telah dilahirkan oleh seorang Guru. Mungkinkah kita bisa pintar tanpa Guru? Jawabannya ada pada diri kita.

Sudah cukup kita membatasi standar sukses di negeri ini. Sukses tidak selamanya tentang materi, uang, kekayaan, dan jabatan yang tinggi. Melainkan tentang apa yang kita rasakan. Sukses  itu adalah ketika apa yang kita lakukan itu berguna bagi bangsa dan negara. Semua profesi di negeri sama tidak ada istilah beda standar, yang membuat standar itu adalah pemikiran kita sendiri yang begitu sempit. Mindsed tentang sukses harus menjadi Dokter, saya rasa itu merupakan kesalahan besar. Negeri ini akan hancur jika orang-orangnya seperti ini. Apapun itu, jangan menggangap remeh orang lain, setiap orang punya jalan suksesnya masing-masing. Kita tidak punya hak membatasi kehidupan orang lain dengan menetapkan standar kesuksesan.  Jadi stop menganggap guru sebagai profesi “rendah” di tengah masyarakat. Semua profesi itu baik dan punya peranan masing-masing.

Penulis adalah Intan Eriyani, Mahasiswi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zafira Miska