Beranda Artikel Teladan Hidup dari Imam Al-Bukhari R.A

Teladan Hidup dari Imam Al-Bukhari R.A

BERBAGI
Ilustrasi. (M. Talal/DETaK)

Artikel | DETaK

Disapa dengan kunyah al-Bukhari, karena penisbatan atas asal-nya dari Bukhara, Kota Khurasan , Transoxiana (iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Mughira bin Bardizabah bin al Ahnaf- al-Ja’fiy Abu Abdillah Bin al- Hasan al- Bukhari al- Hafizh, dalam keseharian ia juga di panggil Abu Abdullah. Lahir pada hari Jum’at, hari ke-13 dari bulan Syawal tahun 194 H. Wafat pada tahun 256 H, hari Sabtu pada malam hari Raya Idul Fitri, beliau hidup selama 62 tahun.

Berikut penulis menguraikan beberapa teladan dan motivasi hidup dari al-Imam al-Bukhari r.a.

Iklan Souvenir DETaK

Pertama,  Imam Bukhari r.a tidak pernah merasakan tumbuh dalam belaian sang ayah, pada usianya yang masih anak-anak ayahnya wafat. Namun, kepergian sang ayah tidak menurunkan semangatnya untuk mencari ilmu, sepeninggalnya sang ayah, mewariskan harta kepada imam Bukhari untuk dipergunakan menuntut ilmu.

Kedua, lahir dengan tuna netra, bukhari kecil terlahir spesial, terlebih keikhlasan dalam menuntut ilmu agama. Sosok ibunda imam bukhari dalam mimpinya nya pernah bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s membawa kabar gembira dari Allah SWT, jawaban atas doa-doanya yang tulus kepada sang anak Imam Bukhari r.a. Dalam pesan ini berisi bahwa Allah akan mengembalikan penglihatan bukhari kecil, ketika pagi hari Bukhari kecil sudah bisa melihat dunia.

Gambaran kisah ini memberi inspirasi bagi calon ibu  dan ayah, bahwasanya doa orang tua kepada anaknya sangat makbul dihadapan Allah SWT, maka berdoalah dengan ikhlas dalam setiap hembusan nafasmu untuk anak tercinta. Kisah serupa juga terjadi kepada Imam As-Sudais ( Syaikh Abdurrahman As-Sudais), Imam masjidil Haram, dimana Sudais kecil yang berkarakter bandel mengganggu ibu nya yang sedang mempersiapkan hidangan untuk tamu dengan memasukan pasir ke dalam hidangan tersebut, lalu sang ibu dengan tenang dan ikhlas berucap “wahai Sudais anakku, pergi lah kamu jadi imam di masjidil Haram!”. Doa sang ibu terjawab sudah, kini suara Syaikh Sudais menghiasi seluruh rumah Allah SWT di pelbagai belahan dunia.

Ketiga, giat dalam belajar sang imam mempunyai guru mencapai 1080 orang, termasuk ulama ahlul hadits Imam Ahmad Ibn Hambali, Abu Ashim An-Nabil dll. Kejumudan bukhari dalam mencari ilmu pengantar untuk bepergian ke berbagai negeri untuk mencari hadits kepada ahli hadits yang berada di Irak, Hijaz, Syam, Mekkah, Kufah, Kaherah dll. Allah SWT juga memberikan kelebihan kepada imam bukhari berupa kuat hafalannya dan detail, sehingga menjadi parameter baginya dalam menyikapi perbedaan pendapat dikalangan ulama.

Keempat, semangat imam bukhari telah menulis hadits dari seribu syaikh atau bahkan lebih, semua hadits tersebut lengkap dengan sanadnya. Selain itu Al-Bukhari juga telah menyelesaikan banyak karya tulis dan salah satunya yang menduduki posisi terpenting setelah Qur’an adalah Al-Jami’ Ash-Shahih (Shohih Bukhari). Peneliti Barat Dr. Zwemmer, ahli ketimuran berkebangsaan Inggris memasukkan Imam Bukhari ke posisi kedua setelah Nabi Muhammad s.a.w. sebagai ulama hadits terbesar.

Penulis, hanya sanggup menguraikan empat hikam dan motivasi dari Al-Bukhari r.a, hal ini bukan berarti Sang Imam tidak memiliki hikmah hidup yang lain. Melainkan keterbatasan ilmu dari penulis, seseorang yang berpangkat Imam dan Wali Allah s.w.t kalau kita tulis dalam lembaran kertas maka niscaya membutuhkan ratusan penulis ulung untuk menyelesaikannya. Hal terbukti dengan masih banyaknya para pengkaji ilmu yang meneliti dan menyebut nama ini di setiap detik nya, yang berarti nama nya telah terukir indah di seluruh hati umat manusia, tak hanya kaum muslimin saja bahkan mereka dari kaum orientalis barat juga berhaji besar atas Imam yang agung ini. []

Penulis adalah Sahimi Ibn Ishak, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan salah satu anggota di UKM Pers DETaK USK.

Editor: Della Novia Sandra