Artikel | DETaK
Sebagai salah satu sumber informasi, media juga mendapati tantangan akibat percepatan penyebaran informasi di dunia maya. Informasi yang disebarkan antar pengguna media sosial, akun-akun homeless media, hingga buzzer yang kebenarannya belum dapat dipastikan, justru mulai menggeser peran media sebagai sumber informasi masyarakat. Pergeseran ini terjadi karena kecepatan dan cara penyampaian informasi dari akun-akun tersebut yang menarik dan mudah diakses. Hal ini memang tidak serta merta menggantikan peran media dalam rujukan informasi dan verifikasi data, namun sebuah media juga harus menghadapi tantangan ini dengan inovasi untuk mempertahankan eksistensi dan pembacanya.
Menjangkau Masyarakat Melalui Berbagai Media Sosial

Dilansir dari Tempo.co, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia dengan jumlah pengguna sebanyak 167 juta. Dengan jumlah pengguna tersebut, terdapat empat media sosial yang paling banyak digunakan oleh Masyarakat yaitu whatsapp, Instagram, facebook dan tiktok. Hal ini merujuk pada riset yang dilakukan oleh We Are Social.
Aktifnya masyarakat dalam mengakses media sosial mengharuskan media juga untuk dapat mengikuti perkembangan ini, karena portal berita saja tidak lagi cukup menjangkau masyarakat. Selaras dengan ini, media-media di Indonesia baik media lokal hingga nasional turut aktif di berbagai platform media sosial seperti instagram, facebook, tiktok dan whatsapp dengan jumlah pengikut yang tidak sedikit.
Sebagai contoh, salah satu media besar Indonesia yaitu Tempo telah meluaskan jangkauannya melalui berbagai media sosial, misalnya di Instagram dengan nama pengguna @tempodotco, @tempo.co di tiktok, Tempo Media (tempodotco) di facebook dan Tempo.co di saluran Whatsapp. Keaktifan media di media sosial berdampak signifikan terhadap eksistensi dan jumlah pembaca, bahkan dengan cara ini media dapat menjangkau berbagai generasi. Tempo sendiri dapat menjadi contoh bagaimana keberhasilannya terlihat jumlah pengikut yang banyak, bahkan di akun instagramnya mencapai 1,6 juta pengikut.
Mengikuti Perkembangan Tren dan Isu Terkini
Tidak hanya cukup pada keberadaannya di seluruh media sosial, media juga harus mengikuti perkembangan tren dan isu yang berkembang di tengah masyarakat. Beriringan dengan fungsi media dalam pemberitaan dan verifikasi, media harus mengemas informasi tersebut dengan menarik, kreatif dan mudah dipahami oleh audiens terutama generasi muda yang aktif di media sosial.
Strategi ini diterapkan oleh Narasi, milik Najwa Shihab. Melalui akun media sosialnya Narasi menyampaikan pemberitaan dan informasi-informasi terkini dengan cara-cara terkini. Mereka aktif membuat berbagai jenis konten, mulai dari video pendek, infografis hingga produksi podcast. Di balik cepat sigapnya Narasi terhadap tren, tidak membuat mereka lepas dari isu-isu penting seperti korupsi, kebijakan publik, isu Pendidikan, lingkungan dan lain sebagainya. Isu-isu yang tergolong berat ini dapat dibungkus dengan visualisasi yang menarik misalnya dengan menggunakan template meme, potongan film dan menyesuaikan penulisan kalimat yang dekat dengan bahasa sehari-hari dan juga kekinian agar lebih mudah dipahami khalayak.
Tak hanya mempertahankan eksistensi melalui media digital, salah satu media tradisional Metro TV juga berupaya mengikuti perkembangan zaman dan tren yang sedang naik melalui tayangan acara beritanya. Jika biasanya news ancor pada suatu acara berita akan membacakan dengan lugas, formal dan tegas, Metro Tv berinovasi melalui Valentinus Resa sebagai news ancor membuat suasana berita lebih meriah, rileks, dan disisipi humor serta beberapa kali mengikuti tren yang sedang ramai, misalnya velocity pada berita mudik beberapa waktu lalu. Hal ini memberikan warna baru dan daya tarik sendiri untuk Metro Tv sebagai salah satu upayanya untuk menjaga eksistensi di dunia media.
Memberikan Ruang Hiburan bagi Pembaca
Berdasarkan artikel GoodRX yang ditulis oleh psikolog klinis dan konselor menyatakan bahwa terpaan terus menerus oleh berita buruk akan menyebabkan seseorang menjadi stress. Berkaitan dengan itu, media massa sendiri memiliki fungsi sebagai media hiburan bagi khalayak, hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999. Salah satu media yang berinovasi dari hal ini adalah Tirto.id yang mana memiliki akun khusus informasi ringan dan hiburan yaitu @tirtofy. Tirto.id sendiri khas dengan sajian berita yang dalam dan analisis mendalamnya, namun dengan menyediakan alternatif informasi yang lebih ringan melalui @tirtofy para pembaca diberi ruang untuk tidak terus menerus melihat berita yang berat.
Pada akun @tirtofy tersebut disajikan konten hiburan yang ringan dan beragam, mulai dari fakta-fakta unik yang dekat dengan Masyarakat salah satu contohnya adalah unggahan mengenai “password kesukaan orang Indonesia”. Informasi yang ringan, menarik dan tidak perlu khawatir lagi dengan kebenarannya karena melalui riset dan verifikasi. Unggahan-unggahan di akun tersebut dibungkus dengan gaya desain yang menarik, simple namun informatif.
Memiliki Sosial Media Specialist dan Content Creator Sendiri
Salah satu Upaya yang dilakukan media adalah dengan membentuk bagian khusus media specialist yang di dalamnya terdapat content creator yang akan mengelola media sosial dan membuat konten rutin untuk diunggah. Konten-konten seperti reels maupun video tiktok biasanya akan menjadi selingan dari berita-berita maupun informasi harian. Salah satu media yang memiliki content creator adalah kumparan. @kumparancom rutin membuat konten reels sebagai selingan yang diproduksi oleh content creator media tersebut. Konten yang biasa dibuat bertema Point Of View (POV) yang saat ini banyak dibuat di media sosial maupun tanya jawab dengan masyarakat sekitar.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat dilihat bahwa tantangan di era percepatan informasi dan perkembangan media sosial mengharuskan media massa dapat beradaptasi dan menyesuaikan. Konten yang cepat, ringan, up to date dan kreatif menambah daya khususnya bagi generasi muda. Yang paling penting dari aspek-aspek tersebut adalah verifikasi dan kredibilitas untuk menekan penyebaran hoax di media sosial. Melihat media besar nasional yang peka dan memahami pentingnya media sosial dan bidang kreatif sudah seharusnya seluruh media massa dapat menerapkan upaya-upaya yang sama, khususnya media lokal. Kepekaan terhadap pentingnya media sosial ini akan membawa sebuah media agar lebih berkembang, tetap eksis dan dapat terus bersaing di era digital yang serba cepat ini.
Referensi:
Group, T. M. (2013). @tempodotco. Instagram.
Patterson, E., & Guarnotta, E. (2022). Doomscrolling: Why Too Much News Can Be Bad for Your Mental Health. GoodRx. https://www.goodrx.com/health-topic/mental-health/is-news-bad-for-your-mental-health
Rainer, P. (2024). Inilah Media Sosial yang Paling Sering Dipakai di Indonesia. GoodStats. https://goodstats.id/article/inilah-media-sosial-paling-sering-dipakai-di-indonesia-Pdyt0
Tempo. (2024). 5 Negara Pengguna Media Sosial Terbanyak, Indonesia Termasuk. Tempo.Co. https://www.tempo.co/digital/5-negara-pengguna-media-sosial-terbanyak-indonesia-termasuk-36700
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS (1999). file:///C:/Users/ACER/Downloads/UU Nomor 40 Tahun 1999.pdf
Penulis bernama Khairon Nisah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh.
Editor: Masya Pratiwi











