Artikel | DETaK
Di tengah padatnya jadwal perkuliahan yang dipenuhi dengan tugas, organisasi, dan perlombaan, terselip sebuah paradoks nyata bahwa loneliness epidemic atau epidemi kesepian tidak dapat dihindari oleh mahasiswa. Fenomena tersebut terjadi ketika mahasiswa tetap merasa terasingkan walaupun berada di lingkungan yang ramai dan aktif di perkuliahan. Tidak sedikit mahasiswa yang terlihat aktif dan berprestasi di luar, namun kenyataannya mereka diselimuti perasaan kesepian karena tidak merasa benar-benar terhubung secara emosional dengan teman-temannya. Interaksi yang hanya sebatas formalitas seperti pembagian tugas kelompok dan presentasi membuat mahasiswa tidak akrab secara batin dengan individu lain.
Perasaan kesepian ini tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa introvert saja, tetapi juga mahasiswa ekstrovert. Ketika tuntutan akademik yang tidak diimbangi dengan ruang istirahat dan relasi yang sehat akan membentuk rasa lelah secara emosional yang tidak dapat terhindarkan. Setiap manusia memiliki kapasitas energi yang berbeda-beda, jadi wajar saja jika seseorang dapat merasakan burnout dan kehilangan semangat di waktu-waktu tertentu.
Kesepian kini dipandang sebagai isu kesehatan publik yang serius. Jika tidak diatasi dengan bijak, maka dapat menimbulkan kerugian yang besar bagi mahasiswa. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, motivasi belajar, dan performa akademik mahasiswa tersebut. Di sisi lain, media sosial yang harusnya menjadi ruang untuk membangun relasi, justru sering memperparah keadaan. Banyak orang yang memiliki ratusan teman daring, tetapi kenyataannya tidak benar-benar dekat dengan mereka. Unggahan tentang pencapaian dan kesuksesan memang dapat menginspirasi, tetapi juga berpotensi memicu perbandingan sosial yang membuat sebagian mahasiswa merasa tertinggal dan terasing dari teman-teman sebayanya.

Kondisi tersebut secara perlahan akan membentuk tekanan psikologis. Mahasiswa yang tetap hadir di kelas, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan mengikuti kegiatan kampus merasa bahwa hal tersebut dilakukan hanya sebagai kewajiban saja sehingga akan tetap muncul rasa hampa di dalam dirinya. Secara akademik, dampaknya cukup signifikan. Mahasiswa yang merasa kesepian cenderung mengalami kesulitan fokus saat mengikuti perkuliahan, lebih sering menunda pekerjaan, dan kurang percaya diri dalam berdiskusi atau mempresentasikan gagasan. Jika hal tersebut terus terjadi, maka kondisi ini dapat memengaruhi nilai, produktivitas penelitian, hingga partisipasi dalam kegiatan pengembangan diri.
Lalu bagaimana cara melawannya? Jawabannya bukanlah menutup diri, melainkan membangun support system yang sehat. Support system bukan berarti harus memiliki ratusan teman, tetapi cukup memiliki teman-teman yang dapat diandalkan. Kehadiran yang tulus mampu mengurangi beban emosional dan membuat mahasiswa merasa lebih dihargai.
Kampus juga memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan yang suportif bagi mahasiswa. Program yang disediakan oleh kampus seperti konseling yang mudah diakses, komunitas berbasis minat, hingga ruang diskusi yang aman dapat menjadi sarana membangun koneksi yang lebih bermakna di lingkungan kampus. Budaya kompetitif perlu diimbangi dengan budaya kolaboratif agar mahasiswa tidak merasa berjalan sendiri dalam mengejar prestasinya. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengambil langkah sederhana untuk menjaga kesehatan sosialnya. Mulai dari mengurangi perbandingan sosial di media sosial, lebih terbuka untuk membangun percakapan yang mendalam, serta berani meminta bantuan ketika merasa kewalahan adalah bentuk kepedulian terhadap diri.
Dengan demikian, loneliness epidemic bukan sekadar isu pribadi saja, tetapi juga tantangan di lingkungan kampus. Mahasiswa yang berprestasi dan berdaya saing tercipta dari kesehatan mental dan kualitas relasi sosial, sehingga hal ini harus menjadi perhatian bersama. Prestasi yang berkelanjutan hanya dapat tumbuh dari individu yang merasa didukung, dihargai, dan tidak berjalan sendirian.
Penulis Bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zikni Anggela











