Beranda Artikel Pasi Karam, Sebutan Lama Kota Meulaboh

[Kilasan] Pasi Karam, Sebutan Lama Kota Meulaboh

BERBAGI
Ist.

Safinaz Olvia | DETak

Kota Meulaboh terletak di bagian barat laut Pulau Sumatera dan merupakan ibu kota dari Kabupaten Aceh Barat. Namun, jika dilihat kembali hari kelahiran Meulaboh dan Aceh Barat berbeda yang mana wilayah Meulaboh ini sudah ada terlebih dahulu dibandingkan Aceh Barat. Dalam melihat perbedaan lahirnya Kota Meulaboh dan Kabupaten Aceh Barat ini, maka harus mengulik sejarah terlebih dahulu, baik pendekatan sejarah murni maupun secara yuridis.

Menurut HM. Zainuddin dalam bukunya Tarih Atjeh dan Nusantara, Meulaboh dulu dikenal sebagai Negeri Pasi Karam, yang wilayahnya berdampingan dengan laut. Di mana jika dikaitkan dengan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 di Provinsi Aceh dan khususnya terjadi juga di Kabupaten Aceh Barat serta Meulaboh ini, dan wilayah Meulaboh berdasarkan hasil penelitian sementara dan sebuah laporan riset Coastal Progradation Patterns As A Potential Tool Inseismic Hazard Assessment oleh beberapa lembaga seperti BPPT dan lain-lain, menyebutkan tsunami pernah terjadi beberapa kali di Meulaboh.

Berdasarkan catatan sejarah menunjukan bahwa Meulaboh sudah berumur 402 tahun, jika dihitung saat naik tahtanya Sultan Saidil Mukamil (1588-1604) Meulaboh sudah ada sejak sultan tersebut berkuasa dengan nama wilayah Pasir Karam.

Jika melihat dari sejarah masa kesultanan Aceh, daerah ramai pertama adalah Pasi Karam yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh yang pada akhir abad ke-15 telah berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya adalah Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Wilayah bagian barat kerajaan Aceh mulai dibuka dan dibangun pada abad ke-16 atas tindakan Sultan Saidil Mukamil yang mana Sultan Aceh yang hidup antara tahun 1588-1604, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda yang hidup tahun 1607-1636 dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie.

Dari perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat di akhir abad ke-17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Uleebalang, yaitu Kluang, Lamno, Kuala Lambeusoe, Kuala Daya, Kuala Unga, Babah Awe, Krueng No, Cara Mon, Lhok Kruet, Babah Nipah, Lageum, Lhok Geulumpang, Rameue, Lhok Rigaih, Krueng Sabe, Teunom, Pangan, Woyla, Bubon, Lhok Bubon, Meulaboh, Seunagan, Tripa, Seneu’am, Tungkop, Beutong, Pameeu, Teupah, Simeulu, Salang, Leukon, Sigulain.

Di Pasi Karam pada masa itu dibuka perkebunan merica, tetapi wilayah ini tidak begitu ramai karena belum dapat menandingi wilayah Singkil yang banyak disinggahi kapal dagang untuk mengambil muatan kemenyan dan kapur barus. Kemudian pada masa pmerintahan Sultan Djamalul Alam, wilayah Pasir Karam kembali ditambah pembangunannya dengan pembukaan kebun lada, dengan didatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh untuk mengolah kebun-kebun itu.

Salah seorang sumber sejarah di Aceh Barat, penamaan Pasi karam menjadi Meulaboh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ketika dia belum menjadi sultan. Sebelum menjabat menjadi sultan, dia banyak melakukan kunjungan, sampai ke Ribee di Bengkulu. Sebelum ke Ribee, dia singgah di Pasi Karam, dan saat dilantik menjadi Sultan dia teringat dengan Pasi Karam. Dia pun menanyakan kepada bawahan, “Diphat tanyoe Meulaboh di barat uronyan?”, sejak saat itu diduga Pasi Karam berubah nama menjadi Meulaboh (Tjut Yatim, 2011).

Terlepas dari bagaimana sejarah awal terbentuknya nama Meulaboh, yang paling penting adalah mempelajari sejarah untuk mengetahui peristiwa di masa lampau dan mempersiapkan dan memahami dengan lebih baik untuk kehidupan masa sekarang maupun masa yang akan datang. []

Referensi:
Teuku Dadek. 2013. “Menggagas Hari Jadi Meulaboh” diakses melalui https://aceh.tribunnews.com/2013/04/28/menggagas-hari-jadi-meulaboh.

#30HariKilasanSejarah

Editor: Indah Latifa