Hijratun Hasanah | DETaK
Kutacane didirikan sekitar tahun 1904 oleh G.C.E Van Daalen. Ada dua versi yang masuk akal tentang awal mula dari kata “Kuta Cane”. Versi pertama, Kutacane berasal dari dua suku kata yakni kuta dan cane yang mana “kuta” dalam bahasa Alas artinya adalah “kota” sedangkan “cane” dalam bahasa Belanda berarti “tebu”.
Di Kutacane, terdapat sebuah momentum sejarah yang bernama Benteng Tugu Kutarih yang terletak di Desa Kutarih, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara. Benteng Tugu Kutarih merupakan sejarah untuk mengenang tragedi para pejuang dalam melawan penjajah Belanda pada tanggal 14 Juni 1904. Pertempuran yang memakan ribuan korban jiwa dari pejuang Tanoeh Alas saat memukul mundur para penjajah Belanda menjadi bukti sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari daerah Kutacane.

Benteng Tugu Kutarih merupakan saksi bisu dari sebuah perang yang dikobarkan oleh Pasukan Belanda Pimpinan Kapten Van Daalen di Lembah, Menurut catatan J.C.J Kempees korban yang mati Syahid dari rakyat Gayo-Alas berjumlah 313 pria meninggal, 189 wanita meninggal, 59 anak-anak meninggal, 20 wanita luka berat, 31 anak-anak luka berat, 63 anak anak dan wanita cedera, 75 karaben disita dan bahan bahan makanan. Sumber lain juga mengatakan korban jiwa yang mati syahid sendiri terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan (Menurut Asnawi Ali) Tetapi Menurut Zentgraaff korban lebih banyak lagi yakni berjumlah 4.000 orang.
Banyaknya korban jiwa dari pihak bangsa Gayo-Alas bisa jadi dilandasi oleh keyakinan yang kuat dari bangsa Gayo-Alas bahwa lebih baik berlumurkan darah daripada dijajah oleh bangsa Belanda ditambah lagi kaum wanita dan anak-anak tidak ada yang berada diluar benteng, mereka saling bahu-membahu membantu kaum lelaki mengusir Belanda yang hendak menjajah Lembah Alas. Kerugian yang di dapat pada pihak Belanda sendiri menurut J.C.J Kempes 2 marsause tewas, 3 opsir luka luka masing masing, Kapten Scephens, Letnan van bram moris, Letnan cristoffel, 1 brigade lebih marseuse luka luka, 4400 peluru ditembakan Diantara yang tewas terdapat Kepala Kampung Kuta Reh dan Kejeruntua Batu Mbulan dan Pengulu Cik Batu Mbulan.
Pembantaian Tentara Belanda atau bisa juga disebut sebagai genosida pertama Bangsa Belanda terhadap rakyat Indonesia yang terjadi ditahun 1904 dimana gubernur Aceh waktu itu hendak menguasai Aceh secara keseluruhan, maka diutuslah seorang pewira Belanda kapten Van Daalen yang sangat membenci bangsa pribumi untuk menguasai sisa-sisa wilayah kesultanan Aceh Darussalam yang masih berdaulat penuh atas negerinya, Gayo dan Tanah Alas, konon hasil dari ulah Van Daalen disetiap benteng yang ia temui bisa dipastikan tidak akan menyisakan satu orang pun yang selamat, bahkan dibenteng kuta reh (Tanah Alas), konon hanya menyisakan satu orang anak laki-laki yang berhasil selamat dan dibawa ke kuta raja (Banda Aceh) untuk dipertontonkan kepada Orang-orang Belanda yang ada di Kuta Raja sebagai tanda kemenangan mereka terhadap Bangsa Gayo-Alas dan penaklukkan sisa wilayah Kesultanan Aceh Darussalam.
Letak Tugu peringatan Benteng Kuta Reh sendiri berada tidak begitu jauh dari Kota Kutacane hanya memerlukan waktu selama 5 menit dari ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara tersebut, lebih tepatnya Tugu ini berada di Kute Gumpang, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara.
Bentuk fisik dari Tugu ini tidak begitu luas yang terdiri dari dua bangunan satu bangunan berbentuk seperti sebuah benteng dengan dua tingkat dan ditingkat paling atas terdapat sebuah benda yang membentuk seperti bambu, di bangunan satunya lagi berbentuk persegi panjang yang dipuncak paling atas bangunan ini berdiri seorang pejuang Alas lengkap dengan baju mesiratnya dan menggenggap sebuah pisau mekhemu di tangan kanan dan bambu di tangan kiri.[]
Referensi:
Tulisan Riduwan Philly yang berjudul “Tapak Tilas Tugu Benteng Kuta Reh Sisa Dari Kebengisan Pasukan Van Daaelen” diakses melalui kaisosogarcia.blogspot.com
Tulisan dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kutacane_(kota)
#30HariKilasanSejarah
Editor: Sahida Purnama










