Beranda Artikel Fenomena Konten 10 Ribu Sehari: Bentuk Romantisasi Kemiskinan

Fenomena Konten 10 Ribu Sehari: Bentuk Romantisasi Kemiskinan

BERBAGI
Ilustrasi. (Raisa Amanda/DETaK)

Artikel | DETaK

Dalam beberapa bulan terakhir media sosial, terutama TikTok, diramaikan dengan fenomena konten “10.000 sehari”. Tren ini muncul dari unggahan beberapa kreator yang menunjukkan bagaimana seorang istri mengelola uang belanja 10.000 rupiah suaminya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sekilas, konten tersebut tampak sederhana namun menginspirasi, menampilkan kreativitas dan sikap berhemat di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Namun, banyak netizen yang meyakini tren ini menyimpan isu yang lebih kompleks, terutama terkait peran gender, relasi kuasa dalam rumah tangga, dan representasi perempuan di ruang digital.

Sebagian penonton memandang konten ini sebagai ajakan untuk hidup sederhana dan penuh syukur. Mereka memandang istri sebagai sosok yang cerdas dalam mengelola keuangan, penyayang, dan sabar menghadapi keterbatasan. Namun, sebagian lainnya justru memandangnya secara kritis. Banyak yang meyakini bahwa narasi “istri yang penurut dan menerima” dalam konten ini berpotensi menormalkan relasi yang timpang antara suami dan istri. Beberapa pengamat budaya digital menyebut fenomena ini sebagai bentuk romantisasi kemiskinan, di mana kesulitan hidup dijadikan tontonan yang menghibur sekaligus memperkuat nilai-nilai patriarki yang telah lama tertanam dalam budaya masyarakat.

Iklan Souvenir DETaK

Menurut analisis beberapa akademisi komunikasi, fenomena ini mencerminkan bagaimana media sosial telah menjadi ruang reproduksi nilai-nilai lama dengan cara baru. Melalui algoritma yang menekankan konten emosional dan relatable, TikTok secara tidak langsung mendorong munculnya narasi yang mengagungkan ketundukan perempuan. Dalam banyak video, suami digambarkan sebagai pihak yang berwenang atas sumber daya keuangan, sementara istri hanya digambarkan sebagai manajer yang patuh dan pengertian. Narasi ini dianggap problematis karena mengabaikan kenyataan bahwa dalam banyak keluarga modern, keputusan keuangan seharusnya merupakan hasil komunikasi dan kesepakatan bersama.

Seorang sosiolog gender berpendapat bahwa jenis konten ini mencerminkan “indoktrinasi lunak”, penanaman nilai ketundukan perempuan melalui konten yang terkesan ringan dan menghibur. Melalui simbol-simbol kecil seperti senyuman, ungkapan terima kasih, atau doa untuk suami, penonton diarahkan untuk melihat ketundukan sebagai bentuk cinta dan kesetiaan, alih-alih sebagai hasil dari struktur sosial yang timpang. Hal ini, menurutnya, dapat memengaruhi cara masyarakat memandang “istri ideal”, sosok yang rela berkorban dan tidak menuntut berlebihan, bahkan ketika keadaan tidak memungkinkan.

Kritik terhadap fenomena “10.000 per hari” juga marak di kolom komentar. Banyak netizen perempuan menyatakan kekhawatiran bahwa tren ini justru memperkuat stigma bahwa perempuan yang bersuara atau menuntut keadilan dianggap tidak patuh kepada suami mereka. Namun, dalam hubungan yang sehat, komunikasi dan kesetaraan adalah hal yang terpenting. Beberapa menekankan bahwa jenis konten ini berpotensi membungkam aspirasi perempuan, karena menggambarkan ketaatan sebagai bentuk moralitas tertinggi dalam rumah tangga.

Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana media sosial mengubah makna ruang privat. Kehidupan rumah tangga tidak lagi sepenuhnya privat; melainkan dapat menjadi konsumsi publik untuk ditonton dan diinteraksikan. Dalam konteks “10.000 Rupiah Sehari”, hubungan ekonomi antara suami dan istri disajikan sebagai tontonan yang membangkitkan empati sekaligus sensasi. Banyak yang menonton karena penasaran bagaimana para istri memenuhi kebutuhan hidup dengan uang yang sedikit, sementara yang lain menonton untuk hiburan. Namun, pada titik tertentu, batas antara pendidikan dan eksploitasi mulai kabur.

Tren ini seharusnya menjadi pengingat bahwa konten digital tidak pernah netral. Setiap tayangan membawa nilai, perspektif, dan ideologi yang dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat. Oleh karena itu, literasi digital sangat penting, terutama bagi generasi muda yang mengonsumsi konten media sosial setiap hari. Pengguna perlu belajar untuk melihat lebih dalam: apakah konten tersebut benar-benar mendidik, atau justru menanamkan pandangan bias tentang peran gender?

Fenomena “10.000 tayangan sehari” pada akhirnya menunjukkan bahwa media sosial memiliki dua wajah, bisa menjadi ruang kreativitas dan inspirasi, tetapi juga dapat memperkuat norma-norma yang membatasi. Tantangan ke depannya adalah bagaimana masyarakat, terutama perempuan, dapat menggunakan media ini untuk membangun narasi baru: narasi yang menggambarkan perempuan sebagai pemikir kritis, mandiri, dan setara dalam hubungan domestik.

Oleh karena itu, yang perlu diperangi bukan hanya fenomena viral itu sendiri, melainkan sistem nilai di baliknya. Sebab, di balik setiap tayangan riang di layar ponsel, tersimpan pesan yang dapat membentuk perspektif kita terhadap dunia dan perempuan itu sendiri.

Penulis bernama Raisa Amanda, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Cut Irene Nabilah