Beranda Artikel Potret Peninggalan Sejarah Kopi Masyarakat Gayo di Masa Belanda

[DETouR] Potret Peninggalan Sejarah Kopi Masyarakat Gayo di Masa Belanda

BERBAGI
Salah satu bukti peninggalan pada masa Belanda di Gayo. (Sumber: Ist)

Artikel | DETaK

Tanaman kopi masuk ke Indonesia tahun 1696 dan berhasil pada tahun 1699. Perkebunan kopi arabika berkembang pesat di Jawa kemudian  menyebar ke pulau-pulau lain. Namun masa kejayaan kopi mulai memudar saat adanya gejala serangan jamur Karat Daun (Heinilein vastntrix). Varietas-varietas kopi Arabika yang ditanam pada saat itu rentan terhadap serangan jamur tersebut, sehingga dalam waktu relatif singkat telah menimbulkan kerugian yang besar. Akibatnya banyak perkebunan kopi arabika di lahanlahan rendah dialihkan ke tanaman lain, seperti kakao, karet, dan kelapa.

Untuk mengatasi penyakit tersebut, pada tahun 1900 dimasukkan (dimtroduksi) jenis Robusta. Jenis ini agak tahan serangan jamur karat daun, sehingga dalam waktu relatif singkat tanaman kopi rubusta telah mendominasi kebunkebun kopi terutama di lahan-lahan rendah, sayangnya mutu kopi robusta tidak sebaik arabika.

Iklan Souvenir DETaK

Tahun 1908 pertama kali Belanda memperkenalkan kopi arabika yang diintroduksi ke Takengon. Ditanam pertama sekali di sebelah Utara Danau Lut Tawar yang diyakini disekitar Paya Tumpi. Kemudian Belanda mengembangkan kawasan perkebunan lainnya yang dikelola sebagai tanaman komersial yang hasilnya dieksport keluar negeri bersama tanaman sayur-sayuran seperti kentang, teh dan getah pinus mercusi (terpentin).

Banyak bukti-bukti peninggalan sejarah yang menegaskan bahwa Belanda pernah mengembangkan kopi di Dataran Tinggi Gayo, bukti peninggalan sejarah ini berupa lahan perkebunan dan para pekerja perkebunan yang dibawa dari Pulau Jawa. Para pekerja yang didatangkan dari Pulau Jawa sampai saat ini masih tetap tinggal di Dataran Tinggi Gayo dan sudah berasimilasi dengan suku bangsa gayo.

Pemandian Belanda di Desa Weh Pornk Kecamatan Silih Nara
Pemandian Belanda di Desa Weh Pornk Kecamatan Silih Nara
Bekas rumah pekerja kebun di perkebunan Belanda di Desa Weh Porak
Bekas rumah pekerja kebun di perkebunan Belanda di Desa Weh Porak
Sisa bangunan pengeringan kopi belanda yang terletak di desa Weh Pesam Kecamatan Silih Nara

Penulis adalah Rifdah Afifah Bardan, mahasiswi Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan salah satu anggota UKM Pers DETaK USK.

Editor: Aisya Syahira