Artikel | DETaK
Makam Tun Sri Lanang terletak di Desa Meunasah Lueng, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Pencarian yang telah dilakukan puluhan tahun lamanya, baik di Aceh maupun Malaysia, akhirnya membuahkan hasil. Sebelum tsunami pada tahun 2004, makam Tun Sri Lanang ditemukan yang lokasinya berdekatan dengan kediamannya.
Banyak masyarakat di Aceh, termasuk masyarakat yang menetap di desa Meunasah Lueng, tidak mengetahui tentang sosok dan ketokohan Tun Sri Lanang. Ia adalah Uleebalang pertama Samalanga (1615-1659) yang bernama asli Tun Muhammad. Orang tuanya bernama Tun Ahmad Paduka Raja yang lahir di Seluyut, Batu Sawar Johor Lama pada 1565.

Tun Sri Lanang merupakan pujangga besar dunia Melayu, Datuk Bendahara Negeri Johor, yang sekaligus menjabat penasehat Sultan. Karena ahli di bidang agama, sastra, dan pemerintahan, ia dilantik oleh Sultan Iskandar Muda untuk menjadi Uleebalang Samalanga. Keberadaannya di Nanggroe Aceh tidak terlepas dari keberhasilan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menaklukkan Portugis di Semenanjung Malaya dengan membawa serta Datuk Bendahara Negeri Johor ke Aceh beserta 22.000 penduduk dari Semenanjung Malaya.
Apabila tidak ada karya monumental Tun Sri Lanang, Kitab “Sulalatus Salatin”, maka dunia saat ini tidak akan mengetahui sejarah Singapura kuno. Dunia hanya mengetahui sejarah Singapura modern yang dibangun oleh orang Inggris, Thomas Standford Raffles. Hal yang patut membanggakan dunia Melayu adalah kitab “Sulalatus Salatin” merupakan karya sastra sejarah yang ditulis oleh putra Melayu dengan menggunakan huruf Arab Jawi. Kitab ini berisikan nilai-nilai kearifan budaya dan nasehat-nasehat, panduan adat-istiadat, hikayat raja-raja Melayu dan Nusantara, sistem pemerintahan, dan nasehat raja kepada rakyatnya. Karya ini menjadi bacaan wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah di Malaysia dan menjadi rujukan bagi para peneliti atau pakar sastra dan naskah kuno dari sejumlah negara.
Saking agungnya, di Malaysia nama Tun Sri Lanang diabadikan menjadi nama perguruan tinggi, sekolah, dan perpustakaan. Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara, menamai perpustakaan induknya “Perpustakaan Tun Sri Lanang”. Ketokohan Tun Sri Lanang besar pengaruhnya di Singapura dan Malaysia dibandingkan di Indonesia.
Sastrawan Singapura yang bernama Djamal Tukimin, seorang keturunan Jawa, tepatnya berasal dari Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, menuturkan kepada penulis bahwa nama Tun Sri Lanang dijadikan nama penghargaan bidang sastra tertinggi di Singapura. Kediaman dan makam Tun Sri Lanang yang terletak di Aceh menjadi simbol perekat budaya dan sejarah antar bangsa, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. []
Penulis adalah Siraj Defara, mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan salah satu anggota di UKM Pers DETaK.
Editor: Indah Latifa










