Beranda Artikel Tunjangan Hari Raya Saat Lebaran

[DETaR] Tunjangan Hari Raya Saat Lebaran

BERBAGI
Ilustrasi. (Shahibah Alyani/DETaK)

Artikel | DETaK

Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim

Tidak terasa sudah 30 hari bulan puasa berlalu. Momentum yang dinanti setelah berpuasa adalah merayakan hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Selain ketupat, baju baru, dan kue lebaran perayaan hari raya di Indonesia identik dengan memberikan Tunjangan Hari Raya (THR). THR seringkali dibagikan oleh perusahaan kepada para pekerja atau antar sanak saudara. 

Iklan Souvenir DETaK

Pembagian THR selalu menjadi salah satu tradisi masyarakat Muslim Indonesia yang paling ditunggu-tunggu. Tradisi ini merupakan sebuah kegiatan dimana orang yang lebih tua atau yang telah memiliki penghasilan membagikan sejumlah uang dengan nominal yang tidak ditentukan kepada sanak saudara, biasanya THR dibagikan kepada anak-anak sembari bersalaman dengan menyelipkan uang ditangannya. Tidak heran jika THR seringkali disebut dengan “salam tempel”.

Selain dengan menyelipkan uang, THR juga biasanya diberikan dengan dimasukkan ke dalam amplop yang memiliki gambar-gambar serta ilustrasi yang menarik. Semakin canggih teknologi, kini THR juga dapat disalurkan melalui transaksi online. 

Namun tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa THR ini merupakan tradisi khas yang hanya hadir di Indonesia. Juga tidak banyak yang tahu bahwa mulanya pemberian THR hanya diberikan kepada setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dilansir dari suara.com pemberian THR bermula pada tahun 1852 yang diperkenalkan oleh Soekiman Wijosandjojo yang pada tahun itu menjabat sebagai perdana Menteri Masyumi, yang kemudian kebijakan ini turut diikuti oleh perusahaan swasta. 

Maknanya, THR sebenarnya merupakan hak pendapatan pekerja yang wajib diberikan kepada pekerja sebelum hari raya, besaran nominalnya pun telah ditentukan. Hingga akhirnya THR mengalami pergeseran makna menjadi tradisi bagi-bagi uang keluarga pada hari raya. Menariknya, uang THR yang biasanya dibagikan selalu berupa uang kertas baru yang pasti membuat orang senang ketika menerimanya.

Penulis adalah Raisyah Siti Hafifah, mahasiswa Ilmu Komunukasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik(FISIP), Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan salah satu anggota di UKM Pers DETaK USK.

Editor: Refly Nofril