Beranda Artikel Meugang: Tradisi Unik Masyarakat Aceh Menyambut Ramadhan

[DETaR] Meugang: Tradisi Unik Masyarakat Aceh Menyambut Ramadhan

BERBAGI
Ilustrasi. (Selma Alifah/DETaK)

Terdapat tradisi keren yang masih dijaga dengan baik di Aceh, namanya Meugang atau Ma’meugang. Ini adalah acara makan daging yang dilakukan sebelum puasa Ramadhan, lebaran Idul Fitri, dan Idul Adha. Penduduk Aceh menganggap tradisi ini sangat penting dan nggak boleh dilewatkan.

Bahkan, semua orang dari kota atau desa ikut serta dalam perayaan Meungang yang ini. Nah, untuk kamu, para mahasiswa, yang baru merantau ke daerah Aceh, jangan kaget kalau satu atau dua hari sebelum puasa kemaren ada banyak sekali stand daging sapi yang tiba-tiba menjamur di tepi jalan Darussalam.

Di beberapa tempat di Aceh, makanan daging yang disajikan pada perayaan meugang memiliki variasi yang berbeda-beda sesuai dengan khas daerahnya. Misalnya di Pidie, Bireun, dan Aceh Utara, mereka lebih suka menyajikan kari atau sop daging, sementara di Aceh Besar, masyarakat cenderung menyajikan daging asam keueung dan sie reuboh (daging yang dimasak dengan cuka), meskipun juga bisa ditambah dengan sop daging atau reundang (rendang daging). 

Iklan Souvenir DETaK

Di beberapa daerah seperti Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan, masyarakat cenderung menyajikan daging meugang dalam bentuk gulai merah atau rendang yang memiliki cita rasa pedas seperti masakan khas Padang, Sumatera Barat.

Hal ini tak heran karena sebagian besar masyarakat Aceh Selatan memiliki keturunan dari Padang. Asik banget ya, kalau bisa merasakan cita rasa masakan khas Padang yang terkenal pedas di tengah tradisi meugang yang kental dengan nuansa Aceh. 

Tradisi meugang udah ada sejak zaman dahulu di Aceh dan terus diwariskan secara turun-temurun. Menurut Antropolog Aceh, Muhajir Al-Fairusi, meugang adalah simbol kemakmuran. Asal kata “Meugang” sendiri berasal dari “Makmu Gang” yang artinya setiap gang atau jurong di Aceh harus makmur pada hari itu.

Bahkan dulu, para Sultan Aceh memastikan semua rakyatnya bisa makan daging dan siap menyambut Ramadhan dengan penuh sukacita. Konsep “Makmu Gang” mendorong gang dan jurong di Aceh untuk berkembang dan sejahtera melalui filantropi yang diterapkan oleh para Sultan Aceh. Wah, keren ya!

Selain melambangkan kemakmuran, perayaan meugang menjadi momen spesial bagi keluarga, terutama bagi orang tua untuk berkumpul bersama dengan anak dan cucunya. Pada hari meugang, anak dan sanak saudara yang merantau atau tinggal jauh biasanya pulang ke rumah dan berkumpul bersama.

Meskipun tidak ada perayaan khusus yang dilakukan, inti dari perayaan meugang adalah makan secara bersama-sama daging yang telah dimasak menjadi berbagai jenis masakan. Seru banget ya, bisa makan daging bersama keluarga tercinta!

Di kawasan pedesaan yang masih menghargai adat istiadat, menantu laki-laki yang tinggal bersama mertua diwajibkan membawa pulang daging saat perayaan Meugang. Semakin banyak daging yang dibawa, semakin baik.

Sebagai pengantin baru, akan sangat memalukan jika tidak dapat memberikan daging untuk dimasak di rumah mertua. Oleh karena itu, persiapan untuk Meugang dilakukan jauh-jauh hari dengan menyiapkan bekal yang cukup untuk perayaan tersebut dan juga untuk menyambut bulan Ramadhan .Karena Meugang bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga menjadi masalah harga diri dan gengsi bagi keluarga

Penulis bernama Ahlul Aqdi, Mahasiswi Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan anggota aktif di UKM Pers DETaK.

Editor: Refly Nofril