Beranda Artikel Cara Rayakan Lebaran di Masa Pandemi

Cara Rayakan Lebaran di Masa Pandemi

BERBAGI
Ilustrasi. (Shahibah Alyani/DETaK)

Artikel | DETaK

Istilah Lebaran tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, khususnya bagi umat Islam yang senantiasa melaksanakan Lebaran setiap tahun. Lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal berdasarkan penanggalan bulan Hijriah, lebaran ini disebut juga dengan Hari Raya Idul Fitri.

Tepat dua kali sudah perayaan Hari Raya Idul Fitri dirayakan umat Islam di tengah pandemi Covid-19. Tahun ini juga begitu, di Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah ini biasanya momen Idul Fitri atau Lebaran di manfaatkan untuk saling memaafkan, mendatangi sanak saudara untuk berkumpul bersama, berziarah, dan lain sebagainya. Namun, di tengah maraknya pandemi virus corona yang tengah melanda saat ini, memaksa semua orang untuk tetap stay at home, mengurangi pertemuan yang tidak terlalu penting, menghindari kerumunan, bahkan pemerintah juga telah melarang masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik guna mengurangi rantai penyebaran Covid-19. Hal ini menyebabkan suasana  merayakan  lebaran tidak semenyenangkan seperti lebaran saat dalam kondisi normal.

Iklan Souvenir DETaK

Namun, walaupun Lebaran berlansung di saat-saat pandemi, membuat kita harus tetap bersyukur karena masih dapat merasakan lebaran Idul Fitri untuk kesekian kalinya dan kita juga harus menyambutnya dengan suka cita.

Dilansir dari https://tirto.id/gfc6 berikut adalah tata cara merayakan Lebaran di tengah pandemi.

1.Silaturrahmi Virtual

Lebaran terasa kurang tanpa memaafkan, meskipun berjauhan namun silaturrahmi harus tetap berjalan. Gunakan fitur video conference untuk menyapa keluarga dan kerabat di hari raya. Beberapa aplikasi yang bisa dipakai untuk “sungkem online” di antaranya adalah aplikasi WhatsApp, Instagram, Skype, Zoom, dan Google Hangout.

Namun, dalam menggunakan aplikasi tersebut kamu perlu menjaga kerahasiaan data pribadi agar tidak bocor. Pastikan terlebih dahulu keperluan data yang diminta dan keamanannya benar-benar dapat dipercaya.

2. Salat  Idul Fitri di Rumah

Di hari Lebaran, seluruh umat muslim kerap melakukan salat Idul Fitri sebanyak dua rakaat. Meski merupakan salat sunah, salat di hari raya ini sangat dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah di tanah lapang, masjid, atau mushala. Akan tetapi, di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, salat Idul Fitri justru lebih baik dilaksanakan di rumah, baik sendirian maupun bersama anggota keluarga.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) yang mengimbau masyarakat untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah masing-masing. Jika melakukan salat Idul Fitri secara sendirian, maka cukup melaksanakan salat ini seperti biasanya dengan membaca surat-surat yang pendek dan tidak perlu ada khotbah. Bila dilakukan bersama anggota keluarga di rumah harus terdiri dari sedikitnya 4 orang, yaitu 1 orang imam dan 3 orang makmum. Tata cara solatnya sama seperti salat Id biasa. Seusai salat, khutbah dilakukan sesuai ketentuan khotbah Idul Fitri. Namun, bila jumlah jamaah kurang dari 4 orang atau bila dalam pelaksanaan salat jamaah di rumah tidak ada yang bisa memberikan khotbah, salat Idul Fitri boleh dilakukan berjamaah tanpa khotbah.

3. Tetap Menerapkan Protokol Kesehatan

Dengan salat Idul Fitri di rumah, dapat mencegah kontak fisik dengan orang lain. Namun bagaimana jika kedatangan tamu di hari raya Idul Fitri? Jika menolak kunjungan tamu mungkin akan terkesan tidak sopan, tapi kita berhak untuk memberlakukan protokol kesehatan sebagai berikut:

  • Memakai masker ketika menerima tamu.
  • Tidak saling berjabat tangan.
  • Meminta tamu untuk terlebih dahulu cuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
  • Menerima tamu hanya di teras atau tidak di dalam rumah.
  • Menjaga jarak saat berbincang minimal 1,8 meter physical distancing.
  • Tidak berlama-lama.

Dengan menerapkan tata cara merayakan Lebaran di Tengah Pandemi ini, kita tetap bisa bersilaturrahmi dengan penuh kebahagian dan rasa syukur, namun tetap terlindung dari virus Corona. []

Penulis bernama Hijratun Hasanah, salah satu anggota aktif di UKM Pers DETaK Universitas Syiah Kuala.

Editor: Cut Siti Raihan