Artikel | DETaK
Beberapa tahun terakhir, kabar duka berulang kali datang dari kamar-kamar kos mahasiswa di berbagai daerah. Mereka yang seharusnya tengah menapaki masa paling produktif dalam hidup, justru ditemukan tak bernyawa dalam kesunyian ruang sewa. Pada 2025 tercatat dua kasus yang kembali mengguncang publik. Kasus pertama, seorang mahasiswa di Tanjung Duren, Jakarta Barat, ditemukan meninggal setelah dua hari tak terlihat, dengan dugaan asam lambung sebagai penyebabnya. Tak lama berselang, kasus kedua seorang mahasiswi asal Kalimantan ditemukan tewas di kamar kosnya di Padang, juga diduga akibat gangguan serupa. Dua peristiwa ini menambah panjang daftar kasus kematian mahasiswa yang dikaitkan dengan penyakit asam lambung (GERD).
Penyakit asam lambung sering dianggap sepele, padahal dalam kasus tertentu dapat berujung pada kondisi serius yang mengancam jiwa. Anggapan ini kerap membuat penderita, terutama mahasiswa rantau, menunda penanganan medis dan mengabaikan gejala yang muncul.

Apa Itu GERD dan Bagaimana Ia Dapat Menyebabkan Kematian?
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi kronis di mana asam lambung atau isi perut naik kembali ke kerongkongan akibat melemahnya katup lambung. Prevalensinya di Indonesia diperkirakan 9,35%–53,8% (Konsensus Nasional Penatalaksanaan GERD, Revisi 2022). Bagi mahasiswa rantau, gejalanya sering dianggap remeh seperti: heartburn, mulut pahit atau nyeri ulu hati. Tapi di balik rasa tidak nyaman itu, terdapat risiko serius jika dibiarkan. Naiknya asam lambung secara terus-menerus dapat menyebabkan esofagitis parah, tukak, pendarahan internal, dan penyempitan kerongkongan (striktur).
Penting untuk dipahami bahwa GERD sendiri jarang langsung menyebabkan kematian. Fatalitas biasanya terjadi karena komplikasi yang diabaikan atau kesalahan diagnosis, misalnya nyeri dada hebat yang disangka sekadar heartburn padahal berkaitan dengan jantung. Gejala “red flags” yang menuntut penanganan darurat meliputi: nyeri dada hebat, muntah darah atau feses hitam, disfagia, dan penurunan berat badan mendadak.
Pada mahasiswa rantau yang jauh dari pengawasan keluarga, pola makan tidak teratur, stres akademik, dan kurang tidur memperbesar risiko komplikasi ini. Kesimpulannya, GERD adalah penyakit serius yang “menyimpan ancaman” jika tidak ditangani, tapi kematian biasanya muncul dari akibat lanjutan, bukan dari penyakit itu sendiri.
Mengapa mahasiswa rantau rentan terkena GERD?
- Pola makan berantakan
Pola makan mahasiswa sering kali berantakan. Banyak yang menunda makan demi menghemat uang, lebih sering mengandalkan mie instan, atau bahkan tidak makan seharian karena sibuk. Makanan cepat saji jadi pilihan praktis, meski sebenarnya kurang baik bagi tubuh. Ditambah kebiasaan minum kopi berlebihan dan jam makan yang tidak teratur, hal-hal seperti ini perlahan bisa memicu gangguan lambung seperti GERD. - Stres akademik
Stres akademik memiliki hubungan yang cukup signifikan dengan meningkatnya risiko GERD pada mahasiswa. Dalam kondisi tertekan, tubuh biasanya menghasilkan asam lambung berlebih, sedangkan fungsi otot pada kerongkongan dapat menurun. Situasi ini membuat asam lebih mudah naik. Selain itu, tekanan nilai, kecemasan, dan banyaknya target tuntutan tugas kerap memengaruhi kebiasaan makan. Pola hidup yang tidak seimbang tersebut, dalam jangka panjang, dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan, termasuk munculnya gejala GERD. - Kurang tidur dan kafein berlebih
Banyak mahasiswa kurang memperhatikan pola tidurnya. Alasan yang paling sering muncul adalah tumpukan tugas dan tenggat waktu yang harus dikejar. Untuk menahan kantuk, kopi menjadi andalan utama seolah secangkir kafein bisa menggantikan istirahat. Padahal, konsumsi kopi berlebihan tanpa diimbangi waktu tidur yang cukup justru dapat meningkatkan produksi asam lambung. Dalam jangka waktu panjang, kebiasaan ini memperparah risiko gangguan pencernaan seperti GERD, terutama ketika dikombinasikan dengan pola makan yang tidak teratur dan stres akademik yang tinggi.
Pertolongan Pertama dan Pencegahan Mandiri
Bagi mahasiswa rantau yang tinggal jauh dari pengawasan keluarga, kunci untuk terhindar dari fatalitas GERD adalah kewaspadaan dini dan disiplin gaya hidup. Segera hubungi bantuan darurat (ER Call) jika Anda atau teman kos mengalami gejala red flags berupa: nyeri dada hebat yang terasa seperti diremas atau menjalar disertai keringat dingin dan sesak napas (jangan spekulasi bahwa itu hanya GERD) muntah darah segar atau muntahan berwarna hitam seperti bubuk kopi, feses berwarna hitam pekat, atau tiba-tiba pusing hingga pingsan (syok). Gejala-gejala ini bukan lagi GERD biasa, melainkan tanda pendarahan internal atau kondisi kritis yang memerlukan penanganan IGD secepatnya.
Untuk pencegahan mandiri, ubah gaya hidup secara fundamental:
- Atur jadwal makan secara konsisten, Jangan biarkan perut kosong terlalu lama, karena ini memicu produksi asam berlebih. Terapkan pola makan porsi kecil tetapi sering (5–6 kali sehari dengan porsi ringan) alih-alih makan besar 2–3 kali sehari.
- Jeda makan dan tidur: Hindari langsung berbaring atau tidur setelah makan berat. Beri jeda minimal 2 hingga 3 jam setelah makan malam terakhir agar proses pencernaan tuntas dan asam tidak naik kembali saat rebahan.
- Kelola stres akademik: Stres adalah pemicu kuat GERD. Cari cara sehat untuk mengatasi tekanan tugas dan nilai, baik itu dengan meditasi, olahraga ringan, atau menjadwalkan waktu istirahat yang benar-benar off dari laptop dan buku.
- Batasi pemicu asam: Kurangi konsumsi minuman berkafein tinggi seperti kopi dan teh secara berlebihan, serta hindari makanan pedas, asam, berlemak, dan minuman bersoda yang dapat melemahkan katup kerongkongan
Masalah lambung bukanlah hal yang dapat kita sepelekan, memang penyakit ini tak langsung dapat menyebakan kematian, namun apabila tak mendapat penangan serius ia dapat merambat dan menyebakan gejala penyakit berbahaya. Rasa panas di dada, mual, atau sulit menelan yang sering muncul bisa berkembang menjadi masalah serius jika diabaikan. Perhatikan tanda-tanda yang tidak biasa, jaga pola makan dan istirahat, serta segera minta pertolongan jika kondisi memburuk. Kesadaran dan tindakan cepat sangat penting untuk menjaga kesehatan dan masa depan.
Penulis bernama Kamilina Junita Damanik, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Pramudiyanti Saragih










