Beranda Buku Menolak Apatis: Menguliti Borok Kekuasaan Lewat Animal Farm

Menolak Apatis: Menguliti Borok Kekuasaan Lewat Animal Farm

BERBAGI
Buku Animal Farm. (Doc. Ist)

Resensi | DETaK

Identitas Buku

Judul Buku: Animal Farm

Iklan Souvenir DETaK

Pengarang: George Orwell

Penerbit: Narasi

Tahun Terbit: 2024

Jumlah Halaman: 158 halaman

ISBN: 978-623-8392-46-9

Tentang Penulis

Animal Farm merupakan salah satu mahakarya paling berpengaruh dari George Orwell, yang merupakan nama pena dari Eric Arthur Blair. George Orwell lahir di India pada tahun 1903, Orwell tumbuh menjadi seorang novelis, penulis esai, wartawan, dan kritikus asal Inggris yang sangat vokal. Ia dikenal luas karena pandangan politiknya yang tajam, anti diktator, dan berani menentang segala bentuk tirani serta ketimpangan sosial yang terjadi di dunia. Gaya penulisan Orwell terbentuk dari pengalaman hidupnya yang nyata. Ia pernah menjadi polisi di Burma, hidup miskin bersama buruh di Paris dan London, serta ikut berperang dalam Perang Saudara Spanyol. Pengalaman-pengalaman pahit ini membuatnya sangat membenci penindasan. ?Berbekal pengalaman tersebut, Orwell menciptakan karya satire politik dan distopia yang tajam. Hingga saat ini, buku-bukunya tetap abadi, relevan, dan terus dibaca oleh berbagai generasi di seluruh dunia.

Sinopsis

Cerita dimulai di Manor Farm, sebuah peternakan di Inggris dimiliki dan dikelola oleh Tuan Jones, seorang pemilik yang tidak kompeten. Dia pemalas, pemabuk berat, dan sering menelantarkan hewan-hewannya. Suatu malam, seekor babi tua yang dihormati bernama Old Major mengumpulkan seluruh hewan di gudang. Dia membagikan sebuah mimpi besar tentang revolusi, sebuah dunia ideal di mana hewan bisa hidup merdeka dan mandiri tanpa harus diperbudak oleh manusia. Semangat dari pidato itu membakar keberanian hewan-hewan lain. Begitu ada kesempatan, pemberontakan benar-benar pecah. Tuan Jones berhasil diusir, nama peternakan diganti menjadi Animal Farm, dan mereka merumuskan ideologi “Animalisme” yang dirangkum menjadi Tujuh Sila. Di dinding gudang utama, mereka menuliskan satu prinsip yang paling sakral sebagai pondasi harapan baru, “semua hewan adalah setara.”

Sayangnya, bayangan tentang kebebasan itu perlahan mulai retak. Kelompok babi yang merasa otak mereka lebih cerdas pelan-pelan mulai mendominasi peternakan. Konflik internal pun pecah antara dua babi muda, Snowball yang idealis dan visioner, serta Napoleon yang haus kekuasaan. Lewat cara yang licik, Napoleon mengerahkan pasukan anjing yang diam-diam dia didik sejak kecil untuk mengusir Snowball dari peternakan. Setelah menjadi penguasa tunggal, watak asli Napoleon keluar, dia memerintah secara otoriter dan kejam. Untuk melanggengkan kekuasaannya, Napoleon dibantu oleh Squealer, seekor babi propagandis yang sangat pintar memutarbalikkan fakta. Squealer bertugas memanipulasi ingatan hewan-hewan lain agar mereka tetap patuh. Tragisnya, Tujuh Sila di dinding gudang diam-diam diubah satu per satu pada malam hari demi membenarkan gaya hidup mewah kaum babi.

Hewan-hewan lain yang polos dan setia terutama Boxer, si kuda pekerja keras yang naif terus diperas tenaganya sampai habis demi proyek-proyek ambisius elite babi. Janji manis tentang kesetaraan di awal revolusi akhirnya berubah total menjadi ironi yang sangat pahit. Kalimat sakral di dinding gudang kini hanya menyisakan satu aturan hukum yang aneh, “semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain.” Buku ini ditutup dengan sebuah adegan yang sangat menampar, dari luar jendela gudang, hewan-hewan lain mengintip para babi yang sedang asyik minum wine dan bermain kartu bersama manusia. Pada titik itu, mereka akhirnya sadar bahwa mereka tidak dapat lagi membedakan mana wajah babi dan mana wajah manusia kejam yang dulu mereka benci. 

Kelebihan Buku

Kekuatan utama novel ini terletak pada kejeniusan penulis dalam mengemas kritik politik yang sangat berat ke dalam sebuah dongeng fabel yang sederhana. Ceritanya bergerak dengan tempo yang padat, dinamis, dan langsung menusuk ke inti konflik tanpa ada bagian yang terasa bertele-tele. Karakterisasi setiap tokoh hewan di buku ini digarap dengan luar biasa kuat dan simbolis, membuat pembaca dengan mudah memahami potret sebenarnya dari berbagai karakter manusia dalam sebuah sistem kekuasaan. Buku ini berhasil memberikan tamparan realitas yang sangat tajam dan melintasi zaman mengenai bagaimana sebuah idealisme yang murni bisa hancur total ketika berhadapan dengan ego kekuasaan dan manipulasi informasi.

Kekurangan Buku

Fokus cerita yang sangat berpusat pada intrik politik dan pergulatan kekuasaan di tingkat elit babi membuat dinamika sosial di tingkat hewan bawah kurang tereksplorasi. Pembaca tidak mendapatkan gambaran yang mendalam mengenai bagaimana gejolak emosi atau keputusasaan hewan-hewan pekerja lain secara personal saat hak-hak mereka perlahan dirampas. Selain itu, karena alurnya bergerak sangat cepat dari satu fase perubahan aturan ke fase berikutnya, penyelesaian konflik di beberapa bagian terkesan agak terburu-buru dan kurang memberi ruang bagi pembaca untuk melihat proses transisi sosial secara perlahan.

Penulis bernama Najma Zhuhra, Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zalifa Naiwa Belleil