Resensi | DETaK
Judul: Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?
Sutradara: Knutz Agus
Penulis skenario: Oka Aurora, Kuntz Agus, dan Khoirul Trian
Pemeran: Mawar Eva de Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara
Mahendra,
Genre: Drama keluarga
Durasi: 103 menit
Tahun: 2026
Tanggal tayang: 9 April 2026
Produksi: Leo Pictures, A&Z Films, Five Elements Pictures, Investasi Film Indonesia, dan Kults Creative.
Sinopsis Film
Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? merupakan film drama keluarga Indonesia yang disutradarai oleh Kuntz Agus dan diadaptasi dari buku karya Khoirul Trian. Film ini menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari Yudi sebagai ayah, Lia sebagai ibu, serta kedua anak mereka, Dira dan Darin. Mereka menjalani kehidupan sederhana
dengan mengelola sebuah warung makan bernama Soto Bu Lia. Jika dilihat dari luar, keluarga ini terlihat seperti keluarga biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, di dalamnya terdapat berbagai masalah yang perlahan memengaruhi hubungan antara orang tua dan anak.

Cerita lebih banyak berfokus pada Dira sebagai anak pertama yang mulai memahami keadaan keluarganya. Dira melihat bahwa sosok ayahnya, Yudi, memang selalu berada di rumah, tetapi kehadirannya tidak benar-benar dirasakan oleh anak-anaknya. Yudi tidak banyak memberikan perhatian, arahan, ataupun dukungan emosional kepada keluarganya. Berbeda dengan Yudi, Lia justru menjadi sosok yang banyak berusaha untuk menjaga keluarganya. Ia bekerja keras dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menyembunyikan berbagai permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Keadaan tersebut membuat Dira tumbuh dengan perasaan bahwa ia tidak memiliki tempat yang benar-benar bisa dijadikan sebagai pegangan. Sebagai anak pertama, ia mulai merasa harus ikut bertanggung jawab terhadap keadaan keluarganya. Di satu sisi, Dira mempunyai keinginan dan cita-cita untuk melanjutkan hidupnya sendiri, tetapi di sisi lain ia juga tidak bisa begitu saja meninggalkan keluarganya yang sedang mengalami kesulitan. Keadaan tersebut membuat Dira harus memilih antara kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya.
Permasalahan keluarga semakin rumit ketika terjadi sebuah insiden ledakan kompor yang menyebabkan Lia mengalami luka serius. Kejadian tersebut menjadi titik yang membuat keadaan keluarga semakin berubah. Lia, yang selama ini menjadi salah satu orang yang paling banyak menopang kehidupan keluarga, tidak lagi dapat melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Setelah kejadian tersebut, berbagai persoalan yang selama ini ditutupi mulai muncul dan harus dihadapi oleh seluruh anggota keluarga.
Dira kemudian berada dalam keadaan yang semakin sulit. Ia tidak hanya harus memikirkan masa depannya, tetapi juga harus memikirkan kondisi keluarganya. Masalah ekonomi, hubungan antaranggota keluarga, dan keadaan ibunya membuat Dira semakin merasakan beratnya menjadi anak pertama. Dalam kondisi seperti itu, sosok ayah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk mendapatkan perlindungan dan arahan. Namun, yang dirasakan Dira justru sebaliknya. Ia seperti harus menemukan sendiri jalan yang harus ditempuh.
Film ini menarik karena masalah yang ditampilkan bukan hanya tentang keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Lebih dari itu, film ini membahas tentang arti kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak. Seorang ayah mungkin saja setiap hari berada di rumah, tetapi jika tidak memberikan perhatian dan komunikasi kepada anak, kehadiran tersebut belum tentu membuat anak merasa ditemani. Dari sinilah judul “Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?” terasa memiliki makna yang cukup dalam karena menggambarkan seorang anak yang sedang mencari arah dan berharap mendapatkan petunjuk dari sosok ayahnya.
Hubungan antara Dira dan Yudi juga menjadi salah satu bagian yang membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak semua keluarga dapat berkomunikasi dengan baik mengenai masalah yang mereka hadapi. Terkadang orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak, sedangkan anak merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Perbedaan cara pandang tersebut dapat menimbulkan jarak di dalam keluarga tanpa disadari.
Selain hubungan ayah dan anak, film ini juga memperlihatkan perjuangan seorang ibu. Lia menjadi gambaran seorang ibu yang berusaha mempertahankan keluarganya meskipun dirinya sendiri menghadapi banyak masalah. Ia berusaha membuat keluarganya tetap berjalan dan tidak membebani anak-anaknya dengan masalah yang sedang dihadapi. Namun, semakin banyak masalah yang disembunyikan, semakin besar pula beban yang akhirnya harus ditanggung oleh keluarga. Dira dan Darin juga digambarkan sebagai dua anak yang memiliki cara berbeda dalam menghadapi keadaan keluarga mereka. Keduanya harus tumbuh di tengah permasalahan orang tua dan keadaan ekonomi yang tidak mudah. Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah dalam keluarga tidak hanya berdampak kepada orang tua, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan dan cara berpikir anak.
Menurut saya, film ini memberikan gambaran bahwa keluarga tidak selalu harus terlihat sempurna. Setiap keluarga pasti mempunyai masalahnya masing-masing, tetapi yang paling penting adalah bagaimana setiap anggota keluarga mau saling memahami dan berkomunikasi. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, masalah kecil dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Film ini juga mengajarkan bahwa menjadi seorang ayah bukan hanya tentang mencari nafkah atau berada di rumah. Seorang ayah juga memiliki peran untuk memberikan rasa aman, mendengarkan cerita anak, memberikan arahan, dan menunjukkan bahwa anak tidak harus menghadapi semua masalah sendirian. Begitu juga dengan seorang anak yang perlu memahami bahwa orang tua juga memiliki tekanan dan masalah yang terkadang tidak mereka ceritakan.
Meskipun memiliki banyak makna tentang keluarga, film ini tidak terlalu direkomendasikan bagi penonton yang menyukai film yang memiliki alur cepat. Beberapa bagian ceritanya terasa cukup lambat. Hal tersebut dapat membuat penonton merasa kurang tertarik pada bagian tertentu. Konfliknya juga tidak terlalu banyak menggunakan kejutan dikarenakan cerita lebih berfokus pada kehidupan keluarga dan perkembangan hubungan antartokoh.
Pada akhirnya, Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? merupakan film yang mengajak penonton untuk melihat kembali arti keluarga dan hubungan antara orang tua dan anak. Ceritanya menunjukkan bagaimana kurangnya komunikasi dan kehadiran emosional dapat membuat seseorang merasa sendirian meskipun sebenarnya ia berada di tengah keluarganya sendiri. Film ini juga mengingatkan bahwa waktu bersama keluarga tidak seharusnya hanya digunakan untuk tinggal di tempat yang sama, tetapi juga untuk saling mendengarkan, memahami, dan memberikan dukungan.
Bagi saya, film ini cukup menarik untuk ditonton karena ceritanya tidak hanya berfokus pada satu masalah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana berbagai masalah dalam keluarga dapat saling berhubungan. Setelah menonton film ini, penonton dapat mengambil pelajaran bahwa keluarga adalah tempat pertama bagi seseorang untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan arahan. Karena itu, kehadiran setiap anggota keluarga sangat berarti, terutama ketika salah satu anggota sedang berada dalam keadaan sulit.
Penulis bernama Nisrina Hasanah, Mahasiswi dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Husniyyati










