Beranda Cerbung Même Les Étoiles Meurent en Silence (Bahkan Bintang-Bintang Mati dalam Kesunyian) |...

Même Les Étoiles Meurent en Silence (Bahkan Bintang-Bintang Mati dalam Kesunyian) | Chapter 2

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Cerbung | DETaK

Chapter 2: Je veux seulement exister

Musim gugur datang secara perlahan.

Iklan Souvenir DETaK

Daun-daun berubah kecokelatan lalu berguguran di atas trotoar yang basah. Kota terlihat semakin pucat, seolah seluruh dunia sedang kelelahan.

Dan di antara dingin yang mulai menusuk tulang, tubuh Éloïse perlahan ikut runtuh.

Batuknya semakin parah. Awalnya hanya batuk kecil di malam hari. Lalu berubah menjadi sesak napas. Hingga suatu hari, ia menemukan bercak darah di saputangan putih yang buru-buru ia sembunyikan setiap kali bekerja.

Pemilik toko roti pernah berkata, “Kau harus pergi ke dokter.”

Namun, Éloïse hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan.

Berobat membutuhkan uang. Dan mimpi juga membutuhkan uang.

Dan ia memilih mimpinya.

Suatu malam, ketika hujan turun begitu deras hingga suara tetesannya memenuhi seluruh kamar loteng, Éloïse membuka email di laptop tuanya yang hampir rusak.

Lalu, hidupnya berubah.

Sebuah galeri seni di Paris menghubunginya.

Mereka menemukan lukisannya di internet. Mereka tertarik. Mereka ingin mengadakan pameran tunggal untuknya.

Untuk beberapa detik, Éloïse hanya diam menatap layar. Ia membaca email itu berkali-kali karena takut telah salah memahami isinya.

Tangannya mulai gemetar. Air matanya jatuh bahkan sebelum ia sempat tersenyum.

“Mon Dieu…”

Suaranya lirih sekali.

Ia menutup mulutnya sendiri sambil tertawa kecil di sela tangis yang pecah begitu saja. Selama bertahun-tahun, ia hidup seperti bayangan. Tidak benar-benar dilihat siapa pun. Tidak benar-benar dianggap ada.

Dan kini, seseorang dari kota besar akhirnya melihat dirinya.

Malam itu ia tidak tidur. Ia duduk di lantai sambil memandangi email tersebut, seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan untuk hidup sedikit lebih lama. 

Di luar, hujan masih turun. Namun, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Éloïse merasa dunia tidak sepenuhnya dingin padanya.

Hari-hari setelah itu berubah menjadi perlombaan sunyi antara mimpi dan tubuhnya sendiri.

Éloïse mulai melukis lebih keras daripada sebelumnya. Ia ingin semua lukisan dalam pameran itu menjadi sempurna. Ia ingin setiap warna terasa hidup. Ia ingin dunia akhirnya memahami apa yang selama ini tidak pernah mampu ia ucapkan lewat kata-kata.

Namun tubuh manusia punya batas.

Dan tubuh Éloïse perlahan menyerah.

Ia semakin kurus. Wajahnya pucat seperti kertas. Lingkar hitam di bawah matanya semakin dalam.

Kadang, saat melukis, pandangannya tiba-tiba kabur. Kadang, dadanya terasa seperti diremas sesuatu dari dalam. Kadang, ia harus duduk lama di lantai hanya untuk mengatur napas.

Tetapi ia tetap melukis. 

Pameran itu tinggal beberapa minggu lagi. Hanya beberapa minggu menuju mimpi yang telah ia peluk sepanjang hidupnya.

Di malam-malam paling dingin, ia sering duduk di dekat jendela sambil meminum kopi pahit yang sudah dingin. 

Dari sana, ia bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelip samar di kejauhan.

Dan entah kenapa, lampu-lampu itu selalu terlihat menyedihkan baginya.

Seperti bintang-bintang kecil yang terlalu lelah untuk terus bersinar.

Malam terakhir sebelum semua lukisannya dikirim ke Paris, Éloïse mulai mengerjakan satu karya terakhir.

Lukisan seorang perempuan berdiri sendirian di tengah hujan.

Tidak ada payung. Tidak ada siapa-siapa. Hanya langit kelabu dan sepasang mata yang terlihat terlalu kosong untuk seseorang yang masih hidup.

Ia melukis perempuan itu sepanjang malam.

Seolah-olah sedang menuangkan seluruh hidupnya sendiri ke atas kanvas.

Ketika selesai, subuh hampir tiba. Tangannya gemetar hebat.

Lalu, di pojok kanan bawah lukisan itu, ia menulis pelan:

“Même les étoiles meurent en silence.”

(Bahkan bintang-bintang mati dalam kesunyian).

Setelah itu, Éloïse menangis.

 Bukan tangisan keras. Bukan tangisan dramatis. Hanya air mata sunyi yang jatuh perlahan saat ia memandangi lukisan terakhirnya sendiri.

Seolah-olah untuk pertama kalinya…

ia bisa melihat dirinya dengan jelas.

Bersambung.

Penulis bernama Husniyyati,  Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina