Cerbung | DETaK
POV Ashila
Kita pernah sedekat itu

Bertemu delapan tahun yang lalu, di usia anak SMP.
Kini kamu ntah dimana
Aku disini mencarimu, menunggumu
Menunggu takdir mempertemukan kita
Kita sudah lama berjalan di kehidupan masing-masing
Tapi ntah bagaimana waktu seakan memaksaku untuk merindu
Jika boleh meminta, tolong jangan jadi milik siapapun dulu
Aku masih ingin bertemu denganmu
Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan
Meskipun takdir belum tentu menyatu pada kita
Tapi setidaknya Aku ingin kamu tahu perasaanku
Aku ingin tau perasaanmu
Aku ingin kita saling mengetahui perasaan masing-masing
Itu pesanku pada waktu
….
Lagu rabun jauh menggema di ruangan cafe, tanganku berhenti mengetik, Aku terdiam, terhanyut dalam alunan lagu yang akhir-akhir ini menggambarkan perasaanku.
“Move on lah, Sil” Kata Zeva. Ia duduk di sampingku, melakukan hal yang sama, mengetik tugas kuliah di laptop.
Aku tau Zeva capek, setiap saat Aku selalu membicarakan tentang Alif, mengatakan rindu, ingin bertemu dan hal lain sebagainya. Tapi siapa yang tau jika rindu ini akan membekas hingga sekarang, Aku tidak mengerti cara waktu bekerja dalam menabur rindu, Aku juga tidak mengerti bagaimana cara waktu menghentikan rindu, tapi yang ku rasakan sekarang hanyalah rindu yang ingin mencari tempatnya yang sudah lama hilang.
Delapan tahun yang lalu kita bertemu, menciptakan kisah singkat yang hingga sekarang Aku belum yakin sudah selesai, cerita itu menggantung, belum sepenuhnya kita tutup secara sadar. Tapi ternyata waktu menutup itu dengan memisahkan jarak antara kita, Aku pergi ke kota yang baru dan kamu disana memulai cerita yang baru. Kita sudah tidak berbicara lagi, kita juga tidak ribut lagi, seperti saat dulu di bangku SMP itu.
Di setiap tapak yang Aku lalui, ada harapan ingin bertemu, Aku terus mencarimu, Aku berharap kamu akan datang, kamu akan mencariku sama seperti yang kamu lakukan dulu.
“Sil,” Zeva menyadarkan lamunanku “Jangan merenung mulu,” ucapnya.
Memang akhir-akhir ini, Aku sering merenung karena memikirkan Alif, aneh rasanya tiba-tiba merindukan seseorang dari masa lalu yang sudah lama tidak pernah bertemu, dan rindu itu bukan hanya sebatas rindu biasa, tapi menjalar ke seluruh jiwa, kadang juga mengganggu aktivitasku sehari-hari.
“Chat aja,” seru Zeva “Daripada galau mulu kek gini mending chat aja ig nya, ajak ketemu.”
Aku menggeleng, rasanya belum siap untuk memulai duluan. Zeva juga sudah sering melihatku bolak balik mengirim pesan ke akun instagram Alif, dan ujung-ujungnya pesan itu tidak pernah terkirim, Aku selalu menghapusnya.
“Gimana kalau dia uda lupa sama Aku?” “Gimana kalau dia uda punya cewek?” Pertanyaan itu selalu muncul disaat Aku akan mengirim pesan ke akunnya. Rasanya Aku masih belum siap menyisakan ruang untuk kecewa.
“Padahal akun ig ada, tinggal chat,” ucapnya lagi. Zeva menutup laptopnya, Ia meregangkan tangan, sudah hampir dua jam ia mengetik di laptop. “Akhirnya selesai juga tugasnya.”
“Ternyata sering kali ya satu kenangan kecil bisa membangkitkan ingatan yang sempat terkubur,” Ucapku. “Kadang kita juga menjalani sesuatu itu dengan biasa saja, namun setelah semuanya lewat baru terasa berarti.”
Zeva menutup telinganya kuat-kuat. “Ga mau dengar, ga mau dengar.”
“Seandainya waktu bisa terulang kembali, Aku ingin mengenalnya lebih awal, Aku ingin waktu kami lebih lama.”
Zeva menyahut tiba-tiba, “Justru kadang waktu yang singkat itu yang paling dalam rasanya, kalau waktunya lama kemungkinan ga bakalan sedalam itu.”
Aku menunduk, rasanya Aku tak bisa membohongi rinduku, Aku menangis dalam diam, menyebut namanya beberapa kali.
“Ternyata semakin dewasa semakin orang itu pergi jauh, atau mungkin Alif yang memang sudah ditolak waktu untuk bertemu denganku,” sesakku. “Aku uda nanya sama beberapa kawan lamaku tapi mereka ga ada yang tau kabar dia sekarang.”
“Chat ig dia”
Aku menggeleng lagi.
“Jadi sekarang kamu maunya gimana, Sil?”
“Aku pengen ketemu sama dia”
Saat itu, untuk yang pertama kalinya Aku hampir membiarkan air mataku lepas di depan Zeva. Selama ini Aku selalu menahannya, Aku tidak ingin terlihat lebay hanya karena seseorang yang belum tentu akan menjadi takdirku. Meskipun air mataku tidak sepenuhnya lepas tapi zeva dapat membacanya dari mataku yang berkaca-kaca.
“Kenapa Aku ga mau chat dia karena Aku takut, Aku takut kalau sebenarnya dia uda lupa sama Aku, atau mungkin dia uda punya cewek, dia ga pernah nyari Aku, kalau dia memang masih ingat dan masih sayang sama Aku, dia pasti bakalan datang mencariku”
Zeva mengusap punggungku pelan, “iya, Aku paham, tapi jangan terlalu overthinking” Ucapnya. “Bagaimana kalau sebenarnya dia juga ngerasain hal yang sama, dia pengen chat kamu tapi dia takut ngeganggu”
Aku mengingat Alif sebagai sosok yang baik, dewasa, dan penuh tanggung jawab, dia sangat menghargaiku sebagai perempuan. Meskipun guru-guru menganggapnya sebagai siswa badboy, tapi ia memiliki hati yang lembut yang tidak semua orang dapat membacanya. Alif hanyalah anak remaja yang mencari kebebasan, menuntaskan masa kanak-kanaknya untuk masa dewasa yang akan datang. Mungkin saja Zeva benar, Alif tidak ingin menggangguku, ia selalu menghargai setiap keputusanku, ia pergi dan menghilang karena menghargai penolakanku.
Cinta tidak harus pacaran kan? Tapi dia tidak paham, ia lebih memilih salah paham.
Kalau suatu saat kita bertemu dan berbicara lagi. Aku rasa ‘Aku dan rindu ini’ akan ku tutup dengan penuh kenang.
Penulis bernama Alya Anjadelisya Hasibuan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zikni Anggela



![[DETouR] NUSANTARA](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/Ilustrasi--238x178.png)
![[Lensa] Potret Fasilitas di Gedung Asrama USK yang Perlu Diperhatikan](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/09/DSCF1037-100x75.jpg)





