Opini | DETaK
“Mahasiswa yang tidak aktif dikelas itu malas!”
Kalimat seperti itu mungkin pernah kita dengar ketika seorang mahasiswa mulai jarang masuk kelas, terlambat mengumpulkan tugas, atau mengalami penurunan nilai. Di lingkungan kampus, mahasiswa yang tidak lagi menunjukkan semangat belajar sering kali langsung diberi label malas. Padahal, tidak semua mahasiswa yang terlihat tidak produktif benar-benar kehilangan kemauan untuk berusaha. Sebagian dari mereka mungkin sedang menghadapi masalah yang lebih kompleks, yaitu kehilangan motivasi belajar.

Motivasi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menjalani pendidikan tinggi. Dengan motivasi yang kuat, mahasiswa memiliki dorongan untuk menetapkan tujuan, menyelesaikan tugas, dan bertahan menghadapi berbagai tantangan akademik. Sebaliknya, ketika motivasi mulai menurun, dampaknya tidak hanya terlihat pada hasil belajar, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental hingga keberlangsungan studi seseorang.
Dampak pertama yang paling mudah terlihat adalah menurunnya prestasi akademik. Mahasiswa yang kehilangan motivasi cenderung lebih sering menunda tugas, sulit berkonsentrasi saat perkuliahan, dan tidak lagi memiliki semangat untuk belajar secara konsisten. Akibatnya, nilai akademik perlahan menurun. Kondisi ini bukan selalu disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan karena hilangnya dorongan untuk terus berusaha.
Fenomena tersebut dapat ditemukan di banyak kampus. Tidak sedikit mahasiswa yang pada awal perkuliahan memiliki target tinggi dan prestasi yang baik, tetapi kemudian mengalami penurunan performa akademik. Seorang mahasiswa disalah satu kampus perguruan tinggi dipulau Sumatera mengaku bahwa pada semester awal ia mampu mempertahankan nilai yang memuaskan, tetapi memasuki semester berikutnya ia mulai kehilangan minat untuk belajar
dan merasa semua tugas yang dikerjakan tidak lagi memiliki makna. Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa kehilangan motivasi dapat terjadi pada siapa saja, termasuk mahasiswa yang sebelumnya berprestasi.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa motivasi memiliki hubungan erat dengan keberhasilan akademik mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung mengalami penurunan prestasi karena berkurangnya usaha dan konsistensi dalam proses belajar. Fakta ini memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan motivasi dalam jangka panjang.
Selain memengaruhi prestasi akademik, rendahnya motivasi juga berdampak pada kesehatan mental. Mahasiswa yang kehilangan motivasi sering merasa lelah secara emosional, sulit fokus, dan tidak lagi menikmati proses belajar yang sebelumnya dijalani. Tugas yang menumpuk dapat menimbulkan stres, sedangkan stres yang berkepanjangan semakin
mengurangi motivasi untuk menyelesaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, mahasiswa terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental mahasiswa semakin banyak mendapat perhatian. Meningkatnya pembahasan mengenai burnout, stres akademik, dan tekanan perkuliahan menunjukkan bahwa masalah ini tidak dapat dianggap sepele. Salah satu contoh yang sempat menarik perhatian publik adalah kisah Ibu Dessy dari Aceh yang mengalami depresi berat setelah menghadapi persoalan akademik yang traumatis. Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai kasus tersebut, peristiwa itu menunjukkan bahwa tekanan akademik dan hilangnya semangat untuk melanjutkan studi dapat memberikan dampak psikologis yang serius. Ketika mahasiswa terus-menerus merasa gagal memenuhi tuntutan akademik, rasa percaya diri mereka dapat menurun. Jika tidak memperoleh dukungan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi kelelahan mental yang lebih serius.
Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya risiko putus kuliah. Kehilangan motivasi yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat mahasiswa merasa tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan di bangku perkuliahan. Kehadiran di kelas mulai berkurang, tugas tidak diselesaikan, dan keterlibatan dalam kegiatan akademik semakin menurun. Pada akhirnya, sebagian mahasiswa memilih meninggalkan pendidikan mereka sebelum
menyelesaikan studi.
Sayangnya, masalah ini sering dianggap sebagai persoalan pribadi yang harus diselesaikan sendiri oleh mahasiswa. Padahal, motivasi tidak tumbuh dalam ruang hampa. Lingkungan kampus, keluarga, teman sebaya, dan sistem pendidikan memiliki pengaruh besar terhadap semangat belajar seseorang. Oleh karena itu, upaya menjaga motivasi mahasiswa tidak dapat dibebankan kepada individu semata.
Kampus perlu menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, pendampingan akademik yang lebih aktif, serta ruang diskusi yang membuat mahasiswa merasa didengar dan dihargai. Di sisi lain, keluarga dan teman sebaya juga perlu memberikan dukungan emosional, bukan sekadar tekanan untuk terus berprestasi. Mahasiswa yang merasa didukung akan lebih mudah bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Pada akhirnya, kita perlu berhenti melihat rendahnya motivasi hanya sebagai bentuk kemalasan. Di balik mahasiswa yang terlihat tidak bersemangat, bisa saja ada kelelahan, tekanan, atau kebingungan yang tidak diketahui orang lain. Jika masalah ini terus diabaikan, bukan hanya prestasi akademik yang menjadi korban, tetapi juga kesehatan mental dan masa depan mahasiswa itu sendiri. Dengan demikian, tidak semua mahasiswa yang terlihat tidak aktif di kelas dapat langsung dicap malas. Sebelum memberi penilaian, kita perlu memahami bahwa mereka mungkin sedang kehilangan motivasi dan membutuhkan dukungan untuk bangkit kembali. Karena itu, menjaga motivasi belajar mahasiswa bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama.
Penulis adalah Lisa Rahmi dan Alfia Anissa, mahasiswi pendidikan bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor : Zarifah Amalia










