Beranda Terkini Dispora Aceh Bersama YouthID Gelar Rembuk Pemuda, Dorong Kolaborasi Antar Komunitas

Dispora Aceh Bersama YouthID Gelar Rembuk Pemuda, Dorong Kolaborasi Antar Komunitas

BERBAGI
Pemaparan hasil diskusi gagasan dan solusi sebagai rekomendasi kebijakan selanjutnya dari pemuda kepada Dispora yang berlangsung di Sei Hotel Banda, Selasa, 12/5/2026. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Rizfa Maqfirah & Neni Raina Mawaddah | DETaK 

Darussalam-Dinas Pemuda dan Olahrga (Dispora) Aceh bersama YouthID Foundation menyelenggarakan kegiatan Rembuk Pemuda Aceh dengan mengusung tema “Dari Gagasan Menjadi Gerakan: Pemuda Sebagai Agen Perubahan” yang menghadirkan berbagai tokoh dan perwakilan komunitas lintas bidang yang dilaksanakan di Sei Hotel, Banda Aceh, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi wadah diskusi dan kolaborasi antar komunitas kepemudaan guna menyampaikan gagasan terbaru menyesuaikan zaman serta mencari solusi terbaik mengatasi berbagai permasalahan. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi dari pihak pemerintah, Dispora, dan pihak yayasan suara anak muda yaitu YouthID Foundation.

Iklan Souvenir DETaK

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Kepemudaan Dispora Aceh, Syarifah Irma Henni, menyampaikan bahwa dengan hadirnya kegiatan yang dibagi menjadi dua segmen, yaitu untuk komunitas dan UMKM, diharapkan dapat menjadi pintu bagi anak muda Aceh untuk menyampaikan gagasan serta mengembangkan ide-ide yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan saat ini. Ia juga menjelaskan bahwa Dispora Aceh membuka ruang kolaborasi bagi pemuda, termasuk dukungan terhadap kegiatan komunitas melalui pengajuan proposal program. 

“Dispora akan membangun ruang kolaborasi untuk pemuda, jika sedang memerlukan sponsor atau butuh sejumlah dana untuk melaksanakan sebuah kegiatan, boleh sekali kirim proposal kegiatannya kepada Dispora, nanti akan ditinjau kembali apakah relevan atau tidak,” terangnya. 

Pada kesempatan yang sama, Trainer SEPAKAT, Zulham Efendi Irfan, memaparkan pentingnya data dalam menyusun program kepemudaan guna menegaskan kembali peran  pemuda saat ini. Ia menjelaskan bahwa Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) menjadi alat ukur perkembangan pemuda, melalui aplikasi SEPAKAT sebagai sistem perencanaan kolaboratif dan analisis data terpadu, diharapkan program yang dirancang akan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

“Kita boleh merencanakan berbagai program, tetapi jika tidak disesuaikan dengan data di lapangan, maka programnya tidak akan berjalan dengan optimal. Jadi, perlu liat dulu di lapangannya agar program tidak sia-sia,” jelasnya. 

Selain itu, Founder YouthID Foundation, Bayu Satria, mengatakan bahwa kegiatan Rembuk Pemuda Aceh diharapkan dapat menghadirkan gagasan dari anak muda lintas komunitas yang menghasilkan gerakan, sehingga dapat menjawab permasalahan dari IPP ini. Ia menegaskan bahwa pemuda perlu dilibatkan dalam setiap proses pembangunan daerah agar visi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud. 

“Rembuk pemuda sebenarnya selalu diadakan setiap tahun, tapi cuma OKP yang di libatkan. Jadi sudah dimulai sejak tahun lalu, tapi pertemuan konkrit baru terlaksana tahun ini. Dibalik kegitan ini, terdapat anak-anak muda juga yang mengusung gagasan untuk dilaksanakan Rembuk Pemuda Aceh ini,” ungkapnya. 

Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang dibagi ke dalam lima domain, yakni pendidikan, gender dan inklusi sosial, partisipasi dan kepemimpinan, kesehatan dan kesejahteraan, serta lapangan dan kesempatan kerja. Dalam diskusi tersebut, para peserta menyampaikan berbagai persoalan, kebutuhan, dan gagasan sesuai bidang masing-masing.

Kegiatan ini ditutup dengan pemaparan hasil diskusi dalam forum rembuk pemuda sebagai bentuk rekomendasi dan masukan kepada Dispora Aceh untuk ditindaklanjuti dalam program kepemudaan ke depan. []

Editor: Naisya Alina