Setiap hari perempuan berjalan keluar rumah dengan sesuatu yang jarang disadari banyak orang yaitu “kewaspadaan”. Mereka membawa tas, ponsel, mungkin buku atau laptop, tetapi juga membawa rasa hati-hati. Hati-hati saat melewati sekelompok laki-laki di pinggir jalan. Hati-hati saat naik kendaraan umum. Hati-hati saat masuk ruang baru yang isinya belum dikenal. Hati-hati saat sekadar ingin menjadi diri sendiri. Sesederhana itu, dan sesedih itu.
Kebanyakan laki-laki tidak pernah hidup dengan perasaan semacam ini, maka mereka pun sering gagal memahaminya. Mereka bisa duduk di tongkrongan, melempar komentar tentang perempuan yang lewat, lalu tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat lucu. Mereka bisa menilai tubuh seseorang hanya dari beberapa detik tatapan. Mereka bisa memanggil, bersiul, atau melontarkan kalimat bernada seksual, lalu pulang tanpa merasa telah melakukan apa-apa, tanpa beban telah menghancurkan hidup seseorang. Bagi mereka itu hanya candaan, namun bagi perempuan yang mendengarnya, itu bisa tinggal lama di kepala.
Pelecehan paling berbahaya memang sering tidak terlihat dramatis. Ia tidak selalu berupa tindakan besar yang langsung viral dan dikecam ramai-ramai. Kadang ia hadir sebagai kalimat pendek yang dilempar sambil tertawa. Sebuah komentar tentang tubuh, gurauan yang merendahkan, atau sentuhan kecil yang sengaja dianggap tidak penting. Karena dibungkus tawa, orang-orang mengira tidak ada luka di sana. Padahal tidak semua luka bersuara. Yang menyakitkan bukan hanya ucapan itu sendiri, tetapi kenyataan bahwa lingkungan sering ikut memeliharanya, “ menormalisasikan”. Teman-teman tertawa, yang lain hanya diam, tidak ada yang berani menegur, tidak ada yang merasa perlu menghentikan. Korban justru dituntut untuk santai, jangan baper, jangan terlalu serius, terlalu berisik. Seolah harga diri perempuan harus selalu bisa dinegosiasikan demi menjaga suasana tetap menyenangkan, dipaksa untuk diam agar tidak terlihat “lebay”.

Dari sini kita melihat masalah yang lebih dalam yaitu perempuan terus diminta menyesuaikan diri dengan dunia yang gagal mendidik laki-laki. Perempuan diajari cara bertahan sejak kecil. Dengan rentetan aturan ‘Jangan pulang malam’, ‘Jangan pakai ini’, ‘Jangan sendirian’, ‘Jangan terlalu ramah’, ‘Jangan terlalu percaya’, ‘Jangan terlalu keras’, ‘Jangan terlalu lembut’ dan bla bla bla. Hidup penuh dengan daftar larangan. Sementara banyak anak laki-laki tumbuh tanpa pernah diajarkan satu hal yang sangat sederhana sederhana: tubuh orang lain bukan wilayahmu.
Ada kalimat yang seharusnya kita renungkan bersama: educate your son, not your daughter’s fear. Didik anak laki-lakimu, jangan besarkan ketakutan anak perempuanmu. Karena selama ini yang terjadi justru sebaliknya. Kita sibuk membuat perempuan pandai menghindar, tetapi malas membentuk laki-laki agar tahu batas. Kita menganggap perempuan harus pintar menjaga diri, padahal yang lebih mendesak adalah laki-laki belajar menjaga perilaku. Tidak seharusnya perempuan dijadikan objek, sementara laki-laki dimaklumi atas kelakuannya. Betapa ironisnya, perempuan sering dipaksa merasa bertanggung jawab atas tindakan orang lain. Jika dilecehkan, yang ditanya pakaian. Jika diganggu, yang dinilai sikapnya. Jika bersuara, yang dipersoalkan caranya bicara. Dunia ini terlalu sering meminta penjelasan dari korban, sementara pelaku diberi ruang untuk beralasan.
Dan budaya tongkrongan sering menjadi tempat semuanya dibersihkan lewat satu kata: “bercanda”.
Padahal tidak semua yang membuat satu meja tertawa layak disebut lucu. Jika bahan tawanya tubuh perempuan, itu bukan humor. Jika hiburannya membuat orang lain merasa kecil, itu bukan keakraban. Jika kelaki-lakian dibuktikan dengan merendahkan perempuan, itu bukan keberanian, hanya kemiskinan karakter. Kita perlu jujur mengakui bahwa banyak laki-laki takut dianggap tidak seru jika menegur temannya sendiri. Mereka memilih ikut tertawa daripada terlihat berbeda. Memilih diam daripada dicap sok suci. Dari diam-diam semacam inilah pelecehan hidup panjang. Ia tidak hanya dijaga pelaku, tetapi juga oleh penonton yang nyaman.
Perempuan tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya ingin hal yang sangat dasar: berjalan tanpa takut, duduk tanpa dinilai, berbicara tanpa dilecehkan, hadir tanpa dijadikan objek. Sesuatu yang bagi banyak laki-laki terasa biasa, tetapi bagi banyak perempuan masih menjadi kemewahan. Sudah waktunya kita berhenti bertanya mengapa perempuan terlalu waspada. Cobalah bertanya mengapa dunia membuat mereka harus seperti itu. Mengapa begitu banyak ruang terasa tidak ramah. Mengapa candaan lebih dihargai daripada kenyamanan orang lain. Mengapa rasa malu selalu diarahkan kepada korban, bukan pada pelaku.
Sebuah masyarakat bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan perempuan di ruang publik. Jika perempuan masih harus menggenggam kunci di sela jari saat berjalan malam, jika mereka masih menunduk agar tidak dipanggil, jika mereka masih pura-pura tidak dengar demi selamat, maka ada yang gagal dari cara kita hidup bersama. Dan kegagalan itu tidak akan selesai hanya dengan marah saat ada kasus besar. Ia selesai ketika laki-laki mulai mendidik dirinya sendiri, menegur temannya, dan paham bahwa menghormati perempuan bukan sikap heroik. Itu standar paling minimum untuk disebut manusia.
Penulis bernama Zikni Anggela, Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Kamilina Junita Damanik









![[Lensa] Suasana Hari Pertama Pelaksanaan UTBK di USK](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/04/foto-2-100x75.jpeg)
