Resensi | DETaK
Judul: Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?: Kejar Dia di Setiap Doamu
Penulis: Ihza Mahendra

Penerbit: Gradien Mediatama
Tahun terbit: 2024
Panjang/Lebar buku: 13 x 19 cm
Tebal buku: 164 halaman
ISBN: 978-602-208-376-4
Harga: Pulau Jawa Rp79.000
Tentang Penulis
Penulis buku ini bernama Muhammad Airlangga Ihza Mahendra, yang kerap disapa Ija, Iza, atau Angga. Ia lahir di Samarinda, 14 Agustus 2000. Ija merupakan seorang polisi sekaligus konten kreator di bidang self improvement islami, ia aktif membagikan konten berupa tulisan dan video di media sosialnya seperti Instagram dan TikTok.
Awalnya, Ija hanya menulis kutipan-kutipan singkat. Seiring berjalannya waktu, tulisan tersebut berkembang hingga sekarang menjadi sebuah buku. Dengan menulis pengalaman hidup yang pernah dilalui, ia yakin buku ini bisa memberikan manfaat dan membantu menyembuhkan banyak orang.
Buku “Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?” merupakan buku pertamanya di Gradien Mediatama. Selain membaca buku ini, kamu juga bisa menemukan Ija dengan mampir ke akun Instagram: @airlangga.u dan TikTok: @ihzamhndra.
Sinopsis Buku
Buku ini menceritakan perjalanan kisah cinta Ija sedari SMA. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, Ija berjuang untuk mengambil hati perempuan yang ia cintai. Ia rela menjadi sosok yang bukan dirinya demi terlihat sempurna. Jatuh cinta itu buta, membuatnya hanya fokus kepada perempuan itu hingga membuat ia melupakan dirinya yang semakin jauh dari Allah SWT. Meski ia sangat bahagia saat itu, tapi hubungan yang ia mulai dengan ketidakjujuran berakhir dengan tidak baik. Sebuah kata cinta yang tidak akan terpisah dengan patah hati, membuat Ija kehilangan arah hingga mati rasa. Akan tetapi, ia sadar bahwa dirinya telah jauh dari tuhannya. Akhirnya, ia pun mulai berhijrah.
Sesuai dari judul buku, kita tidak bisa berharap dengan cinta manusia. Belum tentu orang yang kita pilih sekarang adalah yang terbaik untuk kita di masa depan. Bagaimana jika bukan dia, bagaimana jika ada yang lebih baik?
Bukan hanya sekadar mencintai atau mempertahankan sebuah hubungan, serta tidak sekadar menggambarkan keterpurukan akibat perpisahan. Lebih dari itu, buku ini mengajak pembaca untuk berhijrah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Perasaan yang kita miliki juga berasal dari Allah, sehingga kita jangan terjerumus dalam hal-hal yang menjauhkan kita dari-Nya, melainkan harus bisa move on dengan kembali kepada Allah. Ija pun memutuskan untuk mengejar cintanya Allah dan percaya bahwa nantinya ia akan mendapatkan cinta dari makhluk yang lebih indah karena Allah. Bagaimana proses Ija mendapatkan cinta terakhirnya? Jawabannya ada pada buku “Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?”.
Tentang Buku
Buku “Gimana Kalau Ternyata Bukan Dia Orangnya?” ini merupakan buku refleksi atau renungan yang bernuansa religi. Buku self improvement ini berisi kumpulan kisah singkat perjalanan cinta Ija dan disertai dengan banyak kutipan yang relatable, terutama di kalangan anak muda yang sedang dimasa patah hati dan butuh motivasi.
Buku ini ditulis dengan harapan mampu membantu pembaca dalam menyembuhkan luka dari perjalanan kisah romansa yang pahit. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengingat untuk orang-orang agar menjalani hubungan secara jujur dengan diri sendiri tanpa harus mengubah diri demi mendapatkan cinta manusia.
Penulis juga menyampaikan bahwa proses move on itu bukan sekadar tentang kita melupakan seseorang yang telah menyakiti, melainkan bagaimana perpisahan tersebut justru membuat kita semakin dekat dengan Allah. Penulis juga berharap agar pesan-pesan yang terdapat di buku ini dapat diterapkan oleh pembaca untuk membantu penyembuhan luka dan mengiringinya dengan hijrah.
Kelebihan dan Kekurangan buku
Jenis buku refleksi seperti ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, tetapi juga dikemas dengan pilihan kata yang menarik. Bagi anak muda yang sedang jatuh cinta atau justru lagi di masa gagal move on, buku ini sangat direkomendasikan. Buku ini tidak hanya berfokus pada cerita cinta Ija, tetapi juga menggambarkan bagaimana ia berdamai dengan keadaan dan melepaskan masa lalu untuk menyambut masa depan yang lebih baik. Dapat dikatakan, Ija tidak hanya menceritakan permasalahan cinta, tetapi juga memberikan solusi dengan pendekatan religius.
Sesuai dengan genrenya, buku ini mengajak pembaca untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik, mengajak hijrah hingga menjaga kedekatan dengan Allah agar senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Bahkan, terdapat beberapa kutipan ayat Al-Quran yang memperkuat pesan yang disampaikan.
Dari sini dapat kita lihat bahwa buku ini lebih fokus membahas nilai-nilai islam. Artinya, tidak semua pembaca akan cocok dengan buku ini, terutama bagi orang yang mungkin lebih mencari motivasi dari sudut pandang yang netral. Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus. Hanya saja untuk pembaca yang suka dengan alur cerita yang komples dan dinamis, buku ini mingkin akan terasa flat karena lebih menekankan pada renungan.
Penulis bernama Davina Dara Meisya, Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Sara Salsabila










