Beranda Opini Semangat Ramadan yang Memudar Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadan

Semangat Ramadan yang Memudar Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadan

BERBAGI
Suasana tarawih di Masjid Ath-Thahirah Gampong Lamcot, Aceh Besar. (M. Azkal Azkiya/DETaK)

Opini | DETaK

Ramadan merupakan bulan yang penuh keberkahan bagi umat Islam. Suasana Ramadan selalu memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan bulan lainnya. Banyak orang mulai memperbanyak ibadah dan masjid menjadi lebih hidup. Media sosial juga dipenuhi pesan religius dan ajakan untuk berbuat baik. Semangat ini biasanya terlihat sangat kuat pada 10 hari pertama Ramadan.

Pada awal Ramadan, suasana religius terasa sangat kuat. Banyak kegiatan keagamaan digelar seperti kajian, tadarus Al Quran, dan buka puasa bersama. Hampir seluruh masjid dipenuhi oleh jamaah saat salat tarawih. Orang yang biasanya jarang datang ke masjid pun mulai hadir setiap malam selama hari-hari awal Ramadan.

Iklan Souvenir DETaK

Fenomena ini menurut saya hampir selalu muncul setiap tahun. Ketika Ramadan baru dimulai, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Banyak orang merasa memiliki energi baru untuk memperbaiki diri. Ramadan dipandang sebagai kesempatan untuk memulai kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan lama.

Bagi sebagian orang, Ramadan menjadi titik awal untuk membangun kedisiplinan ibadah. Ada yang mulai rutin salat berjamaah di masjid. Ada yang berusaha mengkhatamkan bacaan Al Quran. Ada pula yang mulai memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Suasana spiritual seperti ini terasa kuat di berbagai tempat pada awal Ramadan.

Namun menurut pengamatan saya, suasana tersebut mulai berubah ketika Ramadan memasuki 10 hari terakhir. Jumlah jamaah di masjid mulai berkurang dibandingkan hari-hari awal Ramadan. Tidak sedikit orang yang mulai sibuk dengan urusan lain di luar ibadah. Pusat perbelanjaan justru semakin ramai. Aktivitas belanja untuk kebutuhan Idulfitri meningkat. Jalanan dan pasar sering kali lebih padat dibandingkan masjid. Fenomena ini menunjukkan kontras yang cukup jelas antara semangat ibadah di awal Ramadan dan suasana menjelang akhir Ramadan.

Padahal dalam ajaran Islam, 10 hari terakhir Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar. Pada malam-malam tersebut terdapat Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Al Quran menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan. Banyak umat Islam berharap dapat meraih malam tersebut dengan memperbanyak ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan. Kesempatan ini sangat berharga karena pahala yang dijanjikan begitu besar.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad justru meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadan. Beliau memperbanyak salat malam, memperbanyak doa, dan melakukan iktikaf di masjid. Beberapa sahabat Nabi juga mengikuti kebiasaan tersebut dengan serius. Mereka mengurangi aktivitas duniawi dan lebih fokus pada ibadah selama hari-hari terakhir Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa fase akhir Ramadan sebenarnya merupakan puncak dari perjalanan spiritual selama satu bulan penuh.

Namun realitas yang saya lihat di masyarakat sering menunjukkan arah yang berbeda. Banyak orang memulai Ramadan dengan penuh semangat, tetapi tidak mampu menjaga konsistensi hingga akhir. Energi spiritual yang besar di awal bulan perlahan berubah menjadi kesibukan duniawi menjelang Idulfitri.

Menjelang Idulfitri, banyak keluarga mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan. Ada yang membeli pakaian baru, menyiapkan makanan khas lebaran, atau merencanakan perjalanan mudik. Pasar tradisional, toko pakaian, dan pusat perbelanjaan biasanya mengalami lonjakan pengunjung pada minggu terakhir Ramadan. Sebagian besar orang memanfaatkan waktu tersebut untuk membeli kebutuhan hari raya. Aktivitas ekonomi juga meningkat pesat pada periode ini.

Namun ketika seluruh perhatian terserap pada persiapan hari raya, dimensi spiritual Ramadan sering kali terabaikan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak ibadah justru habis untuk aktivitas konsumsi. Banyak orang menghabiskan malam dengan berbelanja atau berjalan di pusat perbelanjaan, bukan dengan salat malam atau membaca Al Quran.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari aktivitas di media sosial. Pada awal Ramadan banyak orang membagikan aktivitas ibadah mereka. Namun menjelang akhir Ramadan, konten yang muncul lebih sering berkaitan dengan belanja, diskon, atau persiapan hari raya.

Dari segi akademis di perguruan tinggi, menjelang 10 hari terakhir Ramadan biasanya perkuliahan mulai diliburkan. Mahasiswa sering diberikan izin oleh dosen untuk tidak mengadakan perkuliahan. Menurut saya, bagi mahasiswa yang tidak pulang kampung, waktu libur tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan aktivitas ibadah. Mahasiswa dapat menggunakan waktu tersebut untuk memperbanyak tadarus Al Quran, melaksanakan salat berjamaah di masjid, mengikuti tarawih, atau melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Aktivitas seperti berbelanja sebenarnya masih dapat dilakukan setelah selesai tarawih.

Kegiatan ibadah justru seharusnya lebih diutamakan pada hari-hari terakhir Ramadan karena pada masa inilah kesempatan untuk meraih keutamaan Ramadan menjadi semakin besar. Padahal esensi Ramadan bukan hanya pada semangat di awal bulan, tetapi pada kemampuan menjaga konsistensi hingga akhir. Nilai dari ibadah bukan hanya terletak pada banyaknya aktivitas di awal, tetapi pada kesungguhan untuk mempertahankannya sampai Ramadan berakhir.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga konsistensi memang bukan hal yang mudah. Semangat sering muncul di awal, tetapi perlahan berkurang seiring waktu. Hal ini juga terjadi dalam praktik ibadah selama Ramadan.

Oleh karena itu, 10 hari terakhir Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk kembali menguatkan niat. Fase akhir Ramadan bukan waktu untuk mengendurkan ibadah, tetapi justru saat yang tepat untuk meningkatkannya. Tradisi iktikaf di masjid, memperbanyak doa, serta mencari malam Lailatul Qadar merupakan bagian dari upaya memaksimalkan kesempatan yang sangat berharga ini.

Ramadan juga bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah latihan spiritual untuk membentuk kedisiplinan, pengendalian diri, dan kedekatan dengan Tuhan. Latihan tersebut seharusnya mencapai puncaknya pada hari-hari terakhir Ramadan.

Bagi saya, kontras antara 10 hari awal dan 10 hari terakhir Ramadan seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan yang dimulai dengan semangat lalu diakhiri dengan euforia belanja. Jika masyarakat mampu menjaga semangat ibadah hingga hari-hari terakhir Ramadan, maka makna bulan suci ini akan terasa lebih utuh. Tidak hanya ramai di awal, tetapi juga kuat di penghujungnya. Karena pada akhirnya, nilai terbesar Ramadan justru berada pada malam-malam terakhir yang sering kali terlewatkan oleh banyak orang.

Penulis bernama M. Azkal Azkiya, Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zikni Anggela