Beranda Opini Bukber: Silaturrahmi atau Ajang Flexing?

[DETaR] Bukber: Silaturrahmi atau Ajang Flexing?

BERBAGI
Ilustrasi. (Naisya Alina/DETaK)

Opini | DETaK

Dalam membahas kegiatan selama menjalani puasa Ramadan, rasanya kurang lengkap jika tidak menyinggung tradisi yang banyak dinantikan, yaitu buka bersama atau yang lebih dikenal dengan sebutan bukber. Bagi sebagian orang, bukber bukan sekadar makan bersama, melainkan upaya untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang di hari-hari biasa. Kegiatan ini menjadi wadah untuk kembali beramah tamah dengan teman lama maupun sanak saudara.

Namun, seiring berjalannya waktu, tampaknya terjadi pergeseran makna bukber dari esensi sebenarnya. Pada dasarnya, bukber merupakan sarana untuk mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan (ukhuwah), serta berbagi kebahagiaan dan rezeki. Tradisi ini mengandung nilai sosial, empati, dan refleksi diri, bahkan bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Sayangnya, masa dewasa ini kerap sekali menjadikan bukber tidak hanya sekadar ajang makan bersama, melainkan sebagai tempat untuk menunjukkan gaya hidup dan pencapaian pribadi.

Iklan Souvenir DETaK

Fenomena ini secara tidak langsung menimbulkan tekanan sosial. Ada sebagian orang yang sebenarnya ingin hadir untuk bertemu dan bersilaturahmi, namun memilih untuk tidak ikut karena merasa tidak mampu memenuhi standar yang terbentuk dalam lingkungan tersebut. Standar ini bisa berupa pemilihan tempat makan yang mahal, penggunaan dresscode tertentu, hingga ekspektasi penampilan yang dianggap “layak” untuk hadir. Kondisi ini tentu menjadi ironis, karena tujuan awal untuk mempererat hubungan justru tergeser oleh tuntutan sosial yang tidak semua orang mampu penuhi.

Esensi bukber yang seharusnya terletak pada kebersamaan kini perlahan berubah menjadi pertanyaan tentang “di mana tempatnya?”. Banyak orang lebih fokus pada pemilihan lokasi yang estetik, menu makanan yang menarik, hingga konsep berpakaian yang serasi demi menghasilkan foto yang menarik untuk dibagikan. Tidak jarang, diskusi sebelum bukber lebih banyak membahas hal-hal tersebut dibandingkan tujuan utama pertemuan itu sendiri. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya salah, namun ketika bukber dijadikan sebagai sarana validasi sosial, maka makna utamanya perlahan akan hilang.

Peran media sosial juga turut memperkuat pergeseran ini. Setiap momen bukber seolah harus diabadikan dan dibagikan, mulai dari foto bersama dengan pencahayaan yang baik, pakaian yang seragam, hingga tampilan makanan yang menarik. Tanpa disadari, bukber tidak lagi sekadar ajang berkumpul, tetapi juga menjadi ajang untuk menunjukkan kebersamaan di hadapan publik. Hal ini membuat sebagian orang merasa perlu menyesuaikan diri dengan standar yang berkembang, bahkan hingga memaksakan diri.

Jika dikaitkan dengan makna Ramadan, kondisi ini tentu menjadi kontradiktif. Ramadan mengajarkan kesederhanaan, empati, serta kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks ini, bukber seharusnya menjadi wujud nyata dari nilai-nilai tersebut, bukan justru bertentangan dengannya. Fenomena seperti keinginan untuk membeli pakaian baru, mengikuti tren tertentu, bahkan hingga memaksakan penampilan demi terlihat “setara” dengan lingkungan menunjukkan bahwa bukber terkadang berubah menjadi ruang untuk mempertahankan gengsi.

Padahal, bukber yang sederhana—baik di rumah, warung kecil, atau dengan makanan seadanya—tidak mengurangi makna kebersamaan. Justru dalam kesederhanaan, percakapan terasa lebih hangat, tawa terdengar lebih tulus, dan hubungan antarindividu menjadi lebih dekat. Ketika fokus bukber kembali pada kebersamaan, maka nilai aslinya akan terasa lebih kuat.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali merefleksikan makna bukber yang sebenarnya. Sudah saatnya bukber kembali kepada tujuan awalnya, yaitu mempererat silaturahmi, bukan sebagai ajang pamer. Bukber tidak harus mahal, tidak harus estetik, dan tidak harus selalu terlihat sempurna di media sosial. Yang terpenting adalah kehadiran, kebersamaan, serta keinginan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

Pada akhirnya, pertanyaan sederhana yang perlu kita renungkan adalah: apakah bukber yang kita lakukan benar-benar mempererat silaturahmi, atau justru tanpa disadari menjadi ajang menunjukkan diri? Refleksi ini penting agar tradisi yang baik tidak kehilangan maknanya di tengah perubahan zaman.

Di sisi lain, perlu disadari bahwa perubahan makna suatu tradisi sering kali terjadi secara perlahan. Pengaruh modernitas, gaya hidup urban, serta budaya digital turut membentuk cara masyarakat memaknai aktivitas sosial, termasuk bukber. Ketika setiap aktivitas berpotensi menjadi representasi diri di ruang publik, maka bukber pun tidak luput dari perubahan tersebut.

Namun demikian, makna bukber tetap dapat dikembalikan melalui kesadaran bersama. Jika setiap individu mampu menempatkan kebersamaan di atas gengsi sosial, maka bukber dapat kembali menjadi ruang yang hangat dan inklusif. Tidak perlu kemewahan, tidak perlu keseragaman, dan tidak harus selalu terdokumentasi. Yang lebih penting adalah percakapan yang tulus, saling menyapa, serta keinginan untuk merawat hubungan.

Jika nilai-nilai ini dapat dijaga, maka bukber tidak hanya menjadi tradisi musiman, tetapi juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial. Dengan demikian, bukber tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan benar-benar menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmanusia sesuai dengan semangat Ramadan yang sesungguhnya.

Penulis bernama Sara Salsabila, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina