Beranda Opini Penangkapan Aktivis Global Sumud Flotilla: Ketika Kemanusiaan Dihina Bagai Kotoran

Penangkapan Aktivis Global Sumud Flotilla: Ketika Kemanusiaan Dihina Bagai Kotoran

BERBAGI
Kondisi Para Aktivis Global Sumud Flotilla. (Dok. Ist)

Opini | DETaK

Dunia hari ini kembali menunjukkan wajah paling kejamnya. Kemanusiaan tidak lagi dijunjung, melainkan diinjak dan dibuang seperti kotoran di tepi kekuasaan. Penangkapan para aktivis Global Sumud Flotilla menjadi bukti bahwa di mata sebagian penguasa, empati hanyalah gangguan dan solidaritas dianggap ancaman. Laut yang seharusnya menjadi ruang bebas kini berubah menjadi panggung di mana nurani dipermalukan tanpa rasa malu.

Insiden penangkapan aktivis Global Sumud Flotilla oleh pasukan Israel di perairan internasional baru-baru ini kembali membuka luka lama dalam sejarah kemanusiaan dunia. Ratusan relawan dari berbagai negara ditahan ketika tengah berlayar membawa bantuan untuk masyarakat Gaza. Armada yang semestinya menjadi simbol solidaritas lintas bangsa justru dihadang dan diperlakukan sebagai ancaman.

Iklan Souvenir DETaK

Peristiwa ini bukan hanya soal pelanggaran hukum laut internasional, tetapi juga cerminan bagaimana kemanusiaan kerap diposisikan sebagai hal yang bisa dinegosiasikan. Kapal-kapal yang membawa obat, makanan, dan kebutuhan dasar bagi warga sipil di Gaza kini menjadi bukti bahwa kepedulian pun dapat dianggap berbahaya ketika berhadapan dengan kepentingan politik dan militer.

Menurut Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), perairan internasional bersifat bebas dan tidak dapat dikuasai oleh satu negara pun. Penangkapan kapal Global Sumud Flotilla di wilayah tersebut jelas menyalahi prinsip dasar hukum laut. Lebih dari sekadar tindakan sepihak, ini merupakan pelanggaran terhadap hak sipil dan kemanusiaan internasional.

Kejadian ini mengingatkan pada insiden Irak, ketika intervensi militer dilakukan dengan alasan keamanan, tetapi justru berujung pada penderitaan panjang warga sipil. Dua dekade berlalu, dunia tampaknya belum juga belajar bahwa kekerasan atas nama stabilitas hanya melahirkan luka dan ketidakadilan baru. Pola serupa kini terulang, dan kembali menodai nurani global.

Ironisnya, mereka yang berangkat tanpa senjata dan tanpa kepentingan politik justru dituduh sebagai pengganggu stabilitas. Padahal tujuan mereka sederhana, memastikan bahwa masyarakat Gaza, yang telah lama hidup dalam blokade, tetap memiliki akses terhadap bantuan dasar. Dalam konteks kemanusiaan, tindakan mereka adalah bentuk kepedulian paling murni.

Kasus ini menunjukkan bagaimana kepentingan politik kerap mengalahkan nilai moral. Aktivis yang berusaha menegakkan solidaritas dianggap melanggar batas, sementara mereka yang menutup akses kemanusiaan tetap merasa berhak atas pembenaran. Dunia internasional pun, sebagian besar, memilih diam.

Sikap diam inilah yang berbahaya. Ketika pelanggaran terhadap hukum dan kemanusiaan dibiarkan tanpa reaksi berarti, maka pelanggaran itu akan terus berulang. Penahanan aktivis Flotilla bukan hanya perampasan kebebasan individu, melainkan juga serangan terhadap nurani global. Para aktivis itu mungkin ditahan, tetapi pesan yang mereka bawa tidak bisa dipenjara. Dalam setiap tindakan kemanusiaan selalu ada keyakinan bahwa membantu sesama manusia tidak memerlukan izin dari kekuasaan mana pun. Itulah yang membedakan peradaban dari kekuasaan, peradaban berdiri di atas nilai moral, bukan di atas rasa takut.

Penyerangan terhadap Global Sumud Flotilla memperlihatkan paradoks zaman ini. Di satu sisi, dunia semakin terhubung oleh teknologi dan informasi. Namun di sisi lain, empati justru menjadi barang langka. Kepedulian sering dianggap berlebihan, solidaritas dicurigai, dan kemanusiaan direduksi menjadi wacana diplomatik.

Padahal, yang dilakukan para relawan flotilla bukanlah tindakan politik, melainkan ekspresi kemanusiaan. Mereka berlayar melawan ketidakpedulian global, menolak tunduk pada logika bahwa penderitaan bisa dibiarkan selama tidak terjadi di depan mata sendiri. Mereka tidak membawa senjata, hanya keyakinan bahwa manusia seharusnya saling menolong.

Dari sudut pandang moral, penculikan terhadap para aktivis ini adalah serangan terhadap gagasan paling dasar dalam hubungan antarbangsa, bahwa setiap manusia berhak untuk menolong manusia lain yang menderita. Ketika tindakan seperti itu dihalangi, yang sesungguhnya terancam bukan hanya para relawan, tetapi nilai kemanusiaan itu sendiri.

Tragedi Global Sumud Flotilla adalah tamparan keras bagi kemanusiaan modern. Ia mengingatkan bahwa dunia masih jauh dari cita-cita perdamaian yang berkeadilan. Peristiwa ini menuntut bukan hanya kecaman, tetapi juga refleksi mendalam sejauh mana bangsa-bangsa di dunia benar-benar memegang komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini mereka junjung.

Kita mungkin tidak berada di kapal yang sama dengan para aktivis itu, tetapi kita berada di lautan moral yang sama. Ketika ada yang tenggelam karena memperjuangkan kemanusiaan, seluruh dunia ikut kehilangan arah. Mungkin kita tak bisa menghentikan peluru atau membuka blokade, tetapi kita bisa menolak untuk diam. Sebab diam di hadapan ketidakadilan berarti ikut membenarkannya. Dan jika dunia terus membiarkan hal ini terjadi, maka yang diculik bukan hanya para aktivis flotilla, melainkan juga hati nurani umat manusia.

Namun, misi Global Sumud Flotilla tidak akan berhenti di sini. Selalu akan ada orang-orang yang berani berlayar membawa nilai kemanusiaan, melawan ketakutan, dan menolak tunduk pada ketidakadilan. Mereka mungkin berasal dari bangsa yang berbeda, berbicara dalam bahasa yang berbeda, tetapi disatukan oleh keyakinan yang sama bahwa tidak ada perbatasan bagi empati, dan tidak ada kekuasaan yang lebih besar daripada kemanusiaan itu sendiri.

Penulis bernama Husniyyati, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Amirah Nurlija Zabrina