Beranda Opini Inovasi yang Disia-Siakan: Ketika Ide Rakyat Tak Dilirik Negara

Inovasi yang Disia-Siakan: Ketika Ide Rakyat Tak Dilirik Negara

BERBAGI
Ilustrasi. (Afif Wicaksono [AM]/DETaK)

Opini | DETaK

Toni Permana tak pernah menyangka bahwa usahanya untuk membantu lingkungan justru berakhir dengan kekecewaan. Pria asal Padalarang, Bandung Barat telah menciptakan paving block yang terbuat dari limbah plastik dengan sebuah ide sederhana namun berdampak besar. Melalui tangannya, sampah plastik yang biasanya menjadi sumber pencemaran di ubah menjadi bahan bangunan yang kuat dan bermanfaat. Namun, alih-alih mendapat dukungan, kreativitasnya malah diabaikan oleh pemerintah, padahal hasil karyanya telah melalui tahap uji laboratorium dan terbukti layak digunakan.

Paving block sendiri merupakan bahan bangunan yang biasa digunakan untuk menutup permukaan tanah, seperti jalan lingkungan, trotoar, taman, hingga halaman rumah. Ia berfungsi sebagai penahan beban kendaraan ringan hingga sedang, mencegah genangan air, serta memperindah tata ruang kota. Pada umumnya, paving block dibuat dari campuran semen, pasir, dan air yang kemudian di cetak dengan tekanan tinggi agar kuat dan tahan lama. Namun, Toni mencoba menggantikan sebagian bahan dasarnya dengan limbah plastik, bahan yang sulit terurai di alam. Dengan demikian, ia tidak hanya menciptakan produk bangunan yang alternatif tetapi juga memberikan solusi pada dua masalah sekaligus yaitu mengurangi sampah plastik dan mendukung pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.

Iklan Souvenir DETaK

Gagasan Toni adalah bentuk nyata dari kreativitas rakyat yang lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Ia tidak menunggu proyek besar atau dana dari pemerintah, melainkan bergerak sendiri untuk membuktikan bahwa masalah besar bisa diselesaikan dengan langkah kecil. Sayangnya, langkah itu justru berpotensi akan berhenti, bukan karena ide nya yang gagal, tetapi melainkan karena negara tak memberi nya ruang untuk berkembang. Ironi seperti ini bukan hal yang baru di Indonesia.

Banyak inovasi lahir dari kepedulian warga terhadap lingkungannya, tetapi berakhir akibat minimnya dukungan dari negara. Pemerintah seringkali lebih tertarik menggandeng perusahaan besar atau proyek yang bersifat formal, sementara inovasi rakyat dianggap terlalu sederhana atau belum memenuhi standar industri. Padahal setiap solusi besar selalu berawal dari eksperimen kecil, dari bengkel sederhana, dari keprihatinan terhadap lingkungan sekitar.

Dalam konteks peduli lingkungan, apa yang dilakukan Toni seharusnya mendapat perhatian serius. Pemerintah telah berkomitmen dalam berbagai forum nasional maupun internasional untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada tahun 2025. Namun, komitmen itu tak berarti tanpa dukungan pemerintah bagi inovator lokal seperti Toni. Ketika masyarakat dapat memberikan solusi nyata dari bawah, pemerintah seharusnya hadir dan membantu bukan malah membiarkan mereka berjalan sendiri.

Masalah terbesar mungkin terletak pada kurangnya kerja sama antara riset, kebijakan publik, dan masyarakat. Terobosan baru seperti paving block plastik ini bisa menjadi program unggulan pengelolaan limbah berbasis sistem ekonomi, dimana sampah tidak lagi dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali menjadi produk baru yang bernilai ekonomi. Jika saja pemerintah mau memberikan ruang untuk proses sertifikasi, uji kekuatan, hingga proses pemasarannya, maka produk seperti ini dapat berkembang menjadi industri ramah lingkungan yang menyerap tenaga kerja dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, kisah Toni juga memperlihatkan persoalan sosial yang lebih mendasar, yaitu kurangnya apresiasi terhadap kemampuan rakyat biasa. Seolah-olah karya baru hanya bisa diakui jika berasal dari universitas ternama atau perusahaan besar. Padahal, ide sederhana sering kali muncul menjadi solusi efektif yang berawal dari pengalaman langsung dalam menghadapi masalah. Toni melihat tumpukan plastik di sekitar lingkungannya bukan hanya sekedar sampah, melainkan potensi. Ia bertindak ketika banyak orang mengeluhkan permasalahan ini. Bukankah semangat seperti ini yang seharusnya menjadi inspirasi untuk program Indonesia emas kedepan?

Kisah Toni Permana adalah cermin bahwa negeri ini tak kekurangan orang cerdas dan kreatif, tapi sering kehilangan mereka karena tidak diberi kesempatan untuk berkembang. Paving block dari limbah plastik mungkin tampak kecil bagi sebahagian orang, tapi dampaknya sungguh nyata, yaitu mengurangi tumpukan sampah, memperindah lingkungan, dan menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat sekitar.

Jika pemerintah ingin mendengarkan, mereka akan tahu bahwa solusi untuk masalah lingkungan tidak selalu datang dari atas. Terkadang, jawaban terbaik justru tercipta dari tangan-tangan sederhana yang bekerja dalam diam. Maka sebelum semangat seperti Toni Permana padam, mari belajar menghargai setiap gagasan rakyat karena masa depan yang lebih hijau bisa saja bermulai dari kita, orang lain dan negara.

Penulis bernama Naisya Alina, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Amirah Nurlija Zabrina